Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Sabit Wiramadi

Seri Ramadhan (3): Menghidupkan Malam Ramadhan dengan Tarawih dan Qiyamullail

Agama | 2026-03-06 11:11:07
Sumber: https://masjidcutmeutia.com/menghidupkan-malam-dengan-qiyamul-lail-di-bulan-ramadhan/

Setelah membahas doa dan Ramadhan sebagai momentum revolusi spiritual pada tulisan sebelumnya, pembahasan kali ini menyoroti aspek ibadah sunnah yang selalu dilakukan ketika Ramadhan tiba, yakni Shalat Tarawih.

Malam Ramadhan sebagai Ruang Transformasi Spiritual

Ramadhan bukan hanya bulan puasa secara fisik, melainkan momentum transformasi spiritual yang menyeluruh. Jika siang hari Ramadhan diisi dengan pengendalian diri melalui puasa, maka malam hari Ramadhan dihidupkan dengan ibadah qiyam Ramadhan. Dalam tradisi Islam, keseimbangan antara puasa siang dan ibadah malam merupakan sarana penyucian jiwa dan pembentukan karakter mukmin.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa melaksanakan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu". (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksud qiyam Ramadhan, secara khusus, menurut Imam Nawawi adalah shalat tarawih. Hadits ini menceritakan, bahwa shalat tarawih bisa mendatangkan maghfirah dan bisa menggugurkan semua dosa; namun dengan syarat karena bermotifkan iman; membenarkan pahala-pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala tersebut dari Allah. Bukan karena riya' atau sekedar kebiasaan adat.

Hadits ini dipahami oleh para salafush shalih, termasuk oleh Abu Hurairah sebagai anjuran yang kuat dari Rasulullah untuk melakukan qiyam Ramadhan (salat tarawih, tahajud, witir, dan lain-lain). Hadits ini juga menegaskan bahwa menghidupkan malam Ramadhan bukan sekadar amalan tambahan, tetapi jalan menuju pengurangan dosa dan peningkatan kualitas spiritual. Dan salah satu bentuk utama qiyam Ramadhan adalah shalat Tarawih.

Hakikat Qiyam Ramadhan dan Posisi Shalat Tarawih

Salat Tarawih merupakan bagian dari qiyam Ramadhan, yakni menghidupkan malam dengan berbagai ibadah seperti shalat sunnah, witir, dzikir, istighfar, dan tilawah Al-Qur'an.

Allah SWT berfirman:

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا ۝٧٩

“Pada sebagian malam lakukanlah shalat tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra : 79)

Ayat ini menunjukkan pentingnya ibadah malam sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Selain Tarawih, qiyam Ramadhan juga mencakup shalat witir, shalat taubat, shalat tasbihdzikir dan doa, membaca Al-Qur'an, yang kemudian ibadah tersebut bertujuan untuk menghidupkan malam-malam dibulan Ramadhan dengan kesadaran spiritual yang dapat mengisi kekosongan batiniah.

Makna Tarawih: Ibadah yang Mengandung Ketenteraman

Secara bahasa, Tarawih berasal dari kata tarwihah yang berarti istirahat. Penamaan ini bukan tanpa makna. Dalam praktiknya, shalat Tarawih dilakukan dengan jeda istirahat setiap dua atau empat rakaat.

Tarawih adalah bentuk jamak dari tarwihah. Menurut bahasa berarti jalsah (duduk). Kemudian duduk pada bulan Ramadhan setelah selesai dari empat raka'at yang disebut tarwihah; karena dengan duduk itu, orang-orang bisa istirahat dari lamanya melaksanakan qiyam Ramadhan.

Bahkan para salaf bertumpu pada tongkat, karena terlalu lamanya berdiri. Dari situ,kemudian setiap empat rakaat, disebut tarwihah, dan kesemuanya disebut tarawih secara majaz.

Makna ini mengandung pesan spiritual penting. Yakni, ibadah yang baik tidak dilakukan dengan terburu-buru, tetapi dilakukan dengan ketenangan dan kekhusyukan penuh.

Rasulullah SAW bersabda:

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ طُولُ الْقُنُوتِ

"Shalat yang paling utama adalah yang panjang berdirinya." (HR. Muslim)

Shalat yang dilakukan dengan tenang dan penuh penghayatan lebih bernilai dibandingkan ibadah yang tergesa-gesa tanpa kekhusyukan.

Praktik Tarawih pada Masa Rasulullah SAW

Pada masa Rasulullah SAW, shalat Tarawih tidak dilakukan secara rutin berjamaah di masjid. Nabi hanya beberapa kali keluar untuk melaksanakannya bersama para sahabat.

Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW keluar untuk shalat malam selama beberapa malam, kemudian berhenti karena khawatir ibadah tersebut diwajibkan bagi umatnya.

Kekhawatiran ini menunjukkan kasih sayang Rasulullah kepada umat Islam agar tidak terbebani kewajiban yang berat.

Oleh karena itu, pada masa Nabi, banyak sahabat melaksanakan qiyam Ramadhan secara individu di rumah masing-masing.

Ijtihad Khalifah Umar bin Khattab dan Institusionalisasi Tarawih

Perkembangan penting dalam sejarah Shalat Tarawih terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA. Beliau mengumpulkan umat Islam untuk melaksanakan Tarawih berjamaah dengan satu imam dan menetapkan jumlah rakaat sebanyak 20.

Setelah melihat praktik tersebut, Umar berkata:

نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ "

Sebaik-baik bid'ah adalah ini.” (HR.Bukhari)

Pernyataan ini menunjukkan bahwa inovasi yang membawa kemaslahatan dan tidak bertentangan dengan syariah dapat diterima.

Praktik ini disaksikan oleh banyak sahabat dan ulama Madinah, sehingga menjadi tradisi yang bertahan hingga kini di banyak negeri Muslim, termasuk Indonesia.

Perbedaan Jumlah Rakaat dan Dinamika Tradisi

Dalam sejarah Islam, jumlah rakaat tarawih tidak tunggal. Mayoritas ulama mengikuti praktik 20 rakaat sebagaimana kebijakan Umar bin Khattab.

Bahkan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, jumlah rakaat Tarawih pernah diperbanyak hingga 60 rakaat sebagai bentuk kesungguhan ibadah masyarakat.

Hal ini menunjukkan kesamaan syariat dalam praktik ibadah sunnah. Namun sebagian ulama menekankan bahwa minimal qiyam Ramadhan adalah delapan rakaat.

Perbedaan ini menunjukkan keluasan rahmat Islam, bukan sumber perpecahan.

Etika Berjamaah dan Persatuan Umat

Dalam pelaksanaan Tarawih berjamaah, Islam menekankan adab dan persatuan. Jika seseorang datang ke masjid dan telah ada jamaah, maka dianjurkan mengikuti jamaah tersebut dan tidak membuat kelompok baru. Sehingga, persatuan dalam ibadah mencerminkan persatuan umat.

Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ ۝١٠٣

“Berpegang Teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan kenikmatan nikmat Allah kamu ketika kamu terlebih dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara". (QS Ali Imran : 103)

Tarawih sebagai Sarana Dakwah Sosial

Di Indonesia, shalat Tarawih umumnya dilaksanakan setelah shalat Isya. Hal ini juga memiliki dimensi dakwah, karena memudahkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam ibadah malam. Praktik keagamaan sering kali mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat tanpa meninggalkan prinsip syariat.

Detail ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga memperhatikan kemudahan bagi umat. Islam mengajarkan dengan indahnya bagaimana hubungan dengan Allah (Hablum minallah) dan dengan manusia (Hablum minannas). Keduanya harus berjalan seimbang dengan baik agar seorang muslim bisa menjadi Insanul Kamil, sebuah konsep yang intinya adalah seorang muslim harus baik ilmu, amal, dan akhlaknya.

Meneladani Rasulullah dalam Ibadah

Rasulullah SAW memberikan teladan dalam shalat sunnah dengan membaca Surah Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Surah Al-Ikhlas pada rakaat kedua.

Surat kedua ini mengandung pesan tauhid dan kemurnian keimanan, yang menjadi inti dari ibadah. Ini juga merupakan pembiasaan yang baik dalam proses menanamkan tauhid kepada Allah SWT dalam hati sanubari kita.

Menghidupkan Malam untuk Menjemput Lailatul Qadar

Salah satu tujuan utama qiyam Ramadhan adalah meraih Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Allah SWT berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

"Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan." (QS. Al-Qadr: 3)

Tidak ada kepastian kapan Lailatul Qadar terjadi. Ia dapat terjadi pada awal, pertengahan, atau akhir Ramadhan, meskipun banyak riwayat menyebutkan malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir.

Ketidakpastian ini mendorong umat Islam untuk konsisten menghidupkan sepanjang malam Ramadhan.

Ibadah Sunnah sebagai Benteng Akhir Zaman

Ulama klasik menjelaskan bahwa amalan sunnah berfungsi sebagai pelindung iman di masa penuh fitnah.

Rasulullah SAW bersabda:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ

"Bersegeralah beramal sebelum datang fitnah seperti malam gelap". (HR.Muslim)

Di era modern yang penuh gangguan dan krisis moral, ibadah sunnah menjadi benteng spiritual yang menjaga keimanan.

Tradisi Islam juga menekankan perlindungan dari fitnah besar akhir zaman, termasuk fitnah Dajjal, melalui penguatan iman dan amal saleh.

Spiritualitas di Tengah Krisis Peradaban Modern

Zaman modern ditandai dengan percepatan hidup, distraksi digital, dan krisis makna. Manusia semakin sibuk secara materi tetapi secara rohani kosong.

Qiyam Ramadhan menghadirkan ruang kontemplasi di tengah hiruk-pikuk dunia. Ia mengingatkan manusia pada kesadaran akan tujuan hidup, kematian, dan tanggung jawab akhirat. Malam Ramadhan adalah ruang sunyi tempat manusia berdialog dengan Tuhan.

Kesimpulan: Menghidupkan Malam, Menghidupkan Jiwa

Shalat Tarawih dan qiyam Ramadhan bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan jalan pembentukan jiwa dan perlindungan iman.

Ia mengajarkan ketenangan dalam beribadah, kesungguhan spiritual, persatuan umat, kesiapan menghadapi fitnah zaman, dan harapan mencapai Lailatul Qadar.

Menghidupkan malam Ramadhan berarti menghidupkan kembali hati yang mulai mati oleh kesibukan dunia.

Karena pada akhirnya, kemenangan Ramadhan bukan pada banyaknya aktivitas dunia, tetapi pada kehidupan jiwa yang kembali kepada Allah SWT.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image