Refleksi Milad Ke-59 : Revitalisasi Nilai Gerak Ikatan Pada Kepribadian Kader IMM
Eduaksi | 2023-03-14 20:27:58
“Dengan sepenuh hati dan jiwa menyandang gelar kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berarti segala perkataan, perbuatan, dan kehidupan sehari-hari haruslah seiring dengan tujuan dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yaitu, mengusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah”
-Qorib dkk(2015.27)
59 tahun Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berdiri, umur yang dikatakan sudah seharusnya memasuki usia keemasan. Namun, pada saat ini bagi sebagian kader masih IMM masih belum memiliki gerakan yang sinergis dan konfrehensif. Gerakan yang terbagi-bagi menandakan bahwa IMM tidak selaras dalam gerakan. Hal ini tentunya harus menjadi sebuah refleksi bagi IMM di usia yang sudah panjang, namun keseimbangan daan seselarasan dalam gerak masih di pertanyakan. Mungkin kita harus menanamkan kembali niai gerak ikatan yang mungkin sudah dilupakan oleh sebagian kader-kader kita.
“Anggun dalam moral unggul dalam intelektual” itulah slogan yang sering diucapkan oleh kader IMM. Slogan tersebut jangan berhenti hanya pada kata-katanya yang indah saja yang bertumpu pada ujaran verbal yang sekadar menarik. Lebih dalam dari itu, slogan tersebut seharusnya mampu berpengaruh dalam tingkah laku individual kader dan sikap keorganisasian. Frans-Magnis Suseno menjelaskan fungsi moralitas sebagai keseluruhan norma, nilai, dan sikap seseorang atau masyarakat. Ia berpandangan bahwa moralitas merupakan sikap hati yang termanifestasi dalam perbuatan lahiriah. Moralitas dapat dilihat dalam diri seseorang kala orang tersebut dapat mengambil sikap yang baik sebab ia sadar akan kewajiban dan tanggungjawabnya dan bukan untuk mencari keuntungan. Moralitas adalah sikap dan perbuatan baik yang dilakukan tanpa pamrih1. Demikian dalam hubungannya dengan intelektualisme. Moralitas berfungsi untuk memberi inspirasi nilai ihwal bagaimana seseorang intelektual bertanggung jawab pada fungsi kehadirannya.
Belum lagi trilogi dan tirkompetensi dasar IMM. Tri kompetensi yang berarti 3 kompetensi, mwnurut Badan Nasional Sertifikasi Profesi Kompetensi adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standardisasi yang diharapkan. Hal ini berartikan bahwa tri kompetensi merupakan standarisasi bagaimana seharusnya menjadi seorang kader. Pertama, kader IMM harus memiliki sifat atau perilaku religiusitas, sebagai organisasi islam tentunya penanaman jiwa spiritual harus dimiliki oleh seluruh kader, dalam pengembangan serta pembentukan karakternya harus sesuai dengan yang diajarkan oleh agama islam terutama Al-Qur’an dan hadits. Tentu pemahaman gerakan keagaaman dalam trilogi yang masih berkolerasi dengan trikompetensi harus dipahami. Pemahaman keagamaan ikatan berbeda dengan umat islam kebanyakan, sehingga menjadi ciri yang khas yaitu Islam sebagai rahmat bagi alam semesta (rahmatan li al-„alamin). Pelaksanaan agama Islam sebagai rahmat dengan mendialogkan antara kesalehan individual, kesalehan sosial dan kesalehan lingkungan. Sehingga kader IMM bisa memanifestasikan akhlak Islam dengan jiwa tauhid yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Standar yang kedua adalah intelektualitas yang merupakan interpetasi trilogi yaitu kemahasiswaan. Mahasiswa merupakan salah satu generasi yang memiliki sensitifitas sosial, kepeduliaan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, dan cara menyikapi realitas tersebut. Mahasiswa juga disebut sebagai generasi akademisi yang memiliki sikap terbuka, siap menerima kritikan dan berpikir futuristic atau berpikir jauh ke masa depan. Kader IMM harus mengaktualisasikan dirinya sebagai pengejawantahan dari akademisi Islam yang beraklak mulia. Akademisi merupakan cerminan kader yang haus akan ilmu sehingga menjadi masyarakat pembelajar. Kader IMM harus seperti obor, secara sadar berani menerjang kegelapan sebagai ikhtiar untuk mewujudkan tujuannya, terbentuknya akademisi Islam yang beraklak mulia untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan Muhammadiyah. Lalu yang ketiga mengenai jiwa humanitas atau bentuk aktualisasi kemasyarakatan dalam trilogi. IMM hadir untuk masyarakat, kader yang berjiwa humanis atau mudahnya berjiwa sosial harus dimiliki oleh seorang kader. Gerakan intelektual tidak memiliki arti jika tidak berdampak terhadap masyarakat. Karena ini merupakan esensi dari sebuah eksistensi kader IMM adalah untuk masyarakat. trilogi kemahasiswaan, keagamaan, kemasyarakatan dalam ikatan dikenal dengan tri kompetensi dasar yaitu intelektualitas-religiusitas-humanitas. Bukan hanya sekedar kata yan tidak ada maknanya semua harus ada dalam diri kader. Kompetensi dasar dalam diri kader harus berkembang menjadi eksistensi kader sehingga menjadi ciri khas kader ikatan. Eksistensi tiga kompetensi ikatan dalam diri kader secara integral, menyeluruh (holistik), tetapi dalam diri kader salah satu dari ketiga tersebut ada yang dominan sebagai ciri kader yang lebih spesifik. Pelaksanaan kompetensi dasar yang secara lengkap dalam diri kader merupakan cerminan manusia paripurna-nya (insan kamil) ikatan, atau profil kader IMM.
Nilai gerak yang sudah dijabarkan mungkin hanya kita pahami pada tingkat komisariat , namun apakah nilai gerak itu berubah ketika kita menduduki tempat yang lebih tinggi. Saya rasa semua wajib menanamkan kembali nilai-ilai ikatan yang kini semakin berkembang semakin hilang pada diri kader-kadernya. Sudah menjadi ketentuan bahwa seorang kader IMM harus memahami Nilai Gerak IMM itu sendiri. Jika kata Dilan :” Rindu itu berat” maka kata saya, “menjadi immawan dan immawati itu bera”. Selain memahami nilai ideologis kader IMM harus juga mengaplikasikan apa yang menjadi nilai gerak IMM. Sebagai perwujudan nyata sebagai organisasi pergerakan yang tentunya bermanfaat bagi masyrakat. Namun sebagai organisasi perkaderan dan pergerakan. Apakah IMM sudah menanamkan nilai-nilai tersebut dan tertanam di setiap kadernya? Lalu gerakan apa yang sudah dilakukan sehingga memajukan peradaban? Hanya kita yang mampu menjawab dan menjadikan ini sebuah tantangan. Dari Pimpinan Pusat bahkan sampai Pimpinan Komisariat harus membuat gerakan terstruktur sehingga mampu membuat suatu terobosan yang bersifat masif dan efektif yang tentunya menghasilkan hasil yang memuaskan bahkan mampu memajukan peradaban sesuai tema milad ini.
*)
Muhammad Diva Mu’zizat
Ketua Umum PK IMM FISIP UMJ
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
