Islam Nusantara Sebagai Basis NU Membangun Peradaban Dunia
Agama | 2023-02-09 23:29:07
Islam Nusantara merupakan gagasan Islam yang khas ala Indonesia yang menyinergikan antara nilai-nilai teologis Islam dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat yang berlaku di Indonesia. Islam Nusantara menghendaki peleburan antara prinsip-prinsip nilai Islam dengan budaya lokal yang berkembang bersama masyarakat setempat. Sehingga, datangnya Islam bukan untuk membasmi, memusnahkan, dan menghilangkan budaya yang melekat pada masyarakat, tetapi untuk memperkaya dan mengislamisasi budaya tersebut secara bertahap hingga kemudian membentuk sistem sosial baru dalam masyarakat muslim Indonesia.
Karakter yang berusaha dibangun oleh Islam Nusantara adalah karakter Islam yang ramah, terbuka, inklusif, moderat, toleran, dan dinamis yang mampu berdialektika dengan lingkungan kultur, sub-kultur, dan agama yang beragam. Karakter lainnya adalah mampu hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain serta penerimaan akan demokrasi dengan baik. Ciri khas tersebut menunjukkan sikap Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yakni Islam yang akomodatif terhadap keragaman kebudayaan dan tradisi yang berkembang di suatu daerah sebagai suatu rahmat bagi seluruh alam.
Dengan karakter-karakter yang berusaha dibangun tersebut, Islam Nusantara sebagai suatu manhaj atau model beragama tidak hanya cocok diimplementasikan di bumi Indonesia, tetapi dunia juga membutuhkannya sebagai fondasi untuk membangun peradaban dunia yang lebih maju dan lebih baik di masa depan. Lantaran tiap daerah atau tiap negara memiliki kebudayaan khasnya masing-masing, maka pengimplementasian Islam Nusantara tidaklah bersifat homogen, tetapi lebih menonjolkan kebudayaan Islam dari daerah tersebut. Oleh karena itu, meski istilah yang digunakan tak harus Islam Nusantara, tetapi napas yang dikeluarkan sama, yakni mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang kondusif, damai, dan adil yang disertai dengan pemenuhan & perlindungan hak tiap masyarakat, perbaikan kualitas hidup, dan kemakmuran masyarakat.
Nahdlatul Ulama sebagai organisasi masyarakat Islam terbesar di dunia tak dapat dipisahkan dengan gagasan Islam Nusantara. Sejak awal kiprahnya, NU selalu menjaga dan melestarikan tradisi-tradisi Islam Nusantara yang telah dilakukan sejak zaman Wali Songo berdakwah di tanah Jawa. Tradisi semacam tahlil, talqin mayit, tawasul, ziarah kubur, maulid nabi, selawat nabi, dll. sebagai bentuk akulturasi nilai ajaran Islam dengan budaya lokal telah dilaksanakan dan dilestarikan NU semenjak didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1344 H/1926 M. hingga saat ini mencapai usia satu abadnya pada tahun 1444 H/2023 M. Selain itu, istilah Islam Nusantara sendiri merupakan manifestasi dari pandangan dan gagasan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur – tokoh Nahdlatul Ulama yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PBNU periode 1984–1999 – pada dekade 1980-an yang lazim disebut dengan Pribumisasi Islam. Semangat Gus Dur untuk mengaktualisasikan nilai-nilai prinsip Islam yang luhur dan universal dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia melalui gagasan Pribumisasi Islamnya menjelma menjadi ajaran Islam Nusantara.
Tak sampai di situ, NU juga pernah menjadikan Islam Nusantara sebagai tema dan narasi besar yang diusung pada Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Kabupaten Jombang pada 1 – 5 Agustus 2015. Dengan mempertimbangkan kondisi dunia Islam pada saat itu yang banyak dilanda konflik, peperangan, dan kekerasan, Islam Nusantara diusung NU untuk menjadi pemecah masalah yang tak kunjung berkesudahan itu. “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia” menjadi gagasan sentral kegiatan muktamar selama lima hari tersebut.
Tentunya, gagasan ini tak bisa dianggap kedaluwarsa meski telah lama dicetuskan dan gaungnya telah tersebar ke berbagai penjuru Indonesia, bahkan dunia. Karena eskalasi konflik, kekerasan, peperangan, serta terorisme yang terjadi di kalangan umat Islam masih belum mereda hingga saat ini yang mencegah pembangunan peradaban dunia ke arah yang lebih baik. Sebut saja perang saudara Suriah, konflik Israel – Palestina, perang Yaman, dll. merupakan bukti nyata bahwa wajah umat Islam belum sepenuhnya diliputi kedamaian dan keharmonisan. Apalagi, ditambah dengan berbagai gerakan terorisme yang melanda negara mayoritas muslim. Yang terbaru, misalnya, adalah teror bom bunuh diri di Kantor Polsek Astana Anyar, Bandung yang menewaskan seorang anggota polisi dan pelaku. Sebelumnya juga muncul ancaman bom di sebuah konser yang berlangsung di Tangerang.
Sumbangsih NU melalui promosi ajaran Islam Nusantara ke dunia luar demi pembangunan peradaban dunia memang sangat dibutuhkan. Selain karena keterkaitannya sangat erat, NU juga merupakan organisasi yang mempunyai banyak diaspora di luar negeri. Dengan jumlah diaspora yang sangat banyak, potensi NU untuk ikut andil dan berbicara banyak dalam membangun peradaban dunia yang lebih damai, aman, dan kondusif di masa depan melalui pengimplementasian nilai-nilai Islam Nusantara akan sangat besar. Dengan ini, NU dapat membuktikan bahwa wacana keislaman yang diusungnya merupakan gagasan yang cemerlang bagi kehidupan dunia di masa yang akan datang.
Satu abad Nahdlatul Ulama yang jatuh pada 16 Rajab 1444 H/07 Februari 2023 M harus menjadi momen refleksi dan renungan sejauh mana organisasi ini menyuarakan, mempromosikan, dan mengimplementasikan ajaran-ajaran Islam Nusantara, seperti tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleransi), ramah, inklusif, dan terbuka, kepada masyarakat pribumi dan masyarakat global demi terciptanya peradaban dunia yang lebih damai, adil, aman, tenteram, dan nyaman.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
