Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Prof. Dr. Budiharjo, M.Si

Politik Negara Adiluhung

Politik | Tuesday, 24 Jan 2023, 11:34 WIB
Partai politik sejatinya mengembang nilai adiluhung yang mengedepankan kepentingan nasional.

Kontestasi politik di setiap pemilu memberi warna begitu besar bagi kehidupan masyarakat. Pemilu yang diselenggarakan lima tahun berpengaruh pada relasi sosial kita. Acap kali, kekisruhan politik di panggung demokrasi melahirkan pertikaian. Permusuhan, teror dan intimidasi kerap terjadi antar pendukung atau simpatisan.

Padahal, kemesraan antar elit politik sebenarnya terjalin kuat meski di akar rumput saling gontok-gontokan. Saling serang di masyarakat karena elit partai memainkan emosi massa dengan melempar wacana-wacana yang menyulut emosi.

Mengapa hal ini terjadi? Penulis melihat terjadinya pengerdilan makna politik di kehidupan berbangsa dan bernegara pada saat ini. Pengerdilan itu adalah memaknai politik hanya berkaitan dengan partai. Apakah untuk mewujudkan kesadaran politik warga diperlukan partai? Dan apakah partai ini mampu memerankan fungsi sosialisasi dan partisipasi publik?

Pada kenyataannya, hingga saat ini partai politik tidak mampu melahirkan sosok pemersatu yang bisa berdiri di semua golongan. Media sosial menjadi bukti betapa saling serang dan menjatuhkan bagi kontestan partai politik menjadi hal lumrah dan tontonan. Ini ironi karena bertentangan dengan keinginan para pendiri bangsa ketika merumuskan Indonesia sebagai negara bangsa.

Pendiri bangsa ini telah merumuskan tujuan kita berbangsa dan bernegara. Rumusan itu tertuang dalam Pancasila yakni keinginan mewujudkan masyarakat yang berketuhanan, kemanusiaan adil beradab, persatuan, musyawarah dan makmur di atas prinsip keadilan sosial.

Ignatius Adiwidjaja mengungkapkaan partai politik sejatinya pelembagaan ekspresi ide, pikiran, pandangan dan keyakinan bebas dalam masyarakat demokratis. Menurutnya, partai politik harusnya menjadi penghubung strategis antara warga negara dengan pemerintahan dan legislatif. Suara rakyat didengar dan disampaikan melalui aspirasi lembaga politik tersebut.

Namun, yang terjadi saat ini justru tidak lebih dari sekelompok orang yang ingin berkuasa dan menguras sumber daya kekayaan negara. Partai politik tidak lebih dari kendaraan politik yang dikuasai segelintir orang yang beruntung memenangkan suara rakyat melalui pemilu. Setelah menang dan berkuasa, mereka memaksakan berlakunya kebijakan-kebijakan publik, yang tentu saja tujuannya adalah untuk kepentingan mereka sendiri.

Dengan kondisi begini, apakah kita harus anti terhadap politik? Tentu tidak demikian. Jika orang-orang baik tidak berpolitik, justru politik akan dikuasai orang-orang jahat. Ini pameo yang sering kita dengar.

Kita membutuhkan sosok yang memang mau berjuang untuk kepentingan bangsa dan mampu berdiri di atas semua golongan. Politik yang diemban adalah politik negara yang memiliki nilai adiluhung. Sosok yang mampu merangkul dan menggerakan manusia Indoesia agar kita menjadi bangsa yang berkualitas dan mampu bersaing secara global. Tentu, tanpa meninggalkan dan melupakan jati diri bangsa kita sendiri.

Politik negara adiluhung menjadi gagasan kebangsaan yaang disandarkan pada Pancasila dan UUD 1945. Indonesia sebagai negara berdaulat yang demokratis membutuhkan sosok tersebut yang menjadikan politik, ekonomi dan hukum sebagai instrumen, bukan tujuan.

Aktivitas politik diselenggarakan untuk kepentingan bangsa dan negara. Dengan cara pandang demikian, partai politik akan mampu memainkan fungsi demokratisasi secara lebih konstruktif. (*)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image