Sastra Indonesia Modern dan Manusia Urban

Image
mhmmd aditya
Sastra | Wednesday, 22 Jun 2022, 23:26 WIB

Pada tanggal 3-5 Agustus 2010 Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) mengadakan Konfrensi Internasional dengan tema “ Sastra dan Budaya Urban dalam Kajian Lintas Media” di Surabaya. Pilihan tema itu di latar belakangi oleh fenomena masifnya urbanisasi yang berlangsung abad XXI, yang dianggap telah menimbulkan fenomena berbeda dalam sastra Indonesia kontemporer yakni terbentuknya semacam gaya hidup (lifestyle) tertentu di perkotaan, baik dikalangan penulis sebagai produsen maupun masyarakat secara umum sebagai konsumen. Tertulis dalam latar belakang konfrensi antara lain sebagai berikut.

Dinamika kebudayaan urban termasuk kehidupan sastra di dalamnya kini semakin mendapatkan tempat dan menciptakan habitus tersendiri di kalangan masyarakat urban perkotaan. Fenomena adaptasi novel-novel berlabel Islami menjadi film yang laris manis ditonton semua kalangan-mulai dari presiden hingga ibu ibu kelompok pengajian adalah salah satu contohnya.

Tentu tidak ada yang salah dari latar belakang pelaksanaan konferensi itu. Fakta tentang terbentuknya gaya hidup tertentu dalam dunia kesusastraan mutakhir sebagaimana disinyalir panitia kongres memang dapat dengan mudah ditemukan. Menulis dan membaca karya sastra kini telah menjadi gaya tersendiri. Karya sastra pun merebak bagai jamur di musim hujan. Di beberapa kota, seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, kelompok menulis juga bermunculan. Beberapa penerbit bahkan membuat pelatihan tersendiri untuk mencari penulis, terutama prosa, yang karyanya diandaikan dapat menarik minat pembaca. Kapitalisasi sedang terjadi di ranah ini. Hal itu bukan hanya terbatas pada karya populer, melainkan juga pada karya sastra yang sebelumnya sering dikategorikan sebagai karya serius. Tampaknya, batasan antara sastra serius dan populer kini menjadi sangat tipis jika tidak mau dikatakan tidak ada.

Atas fenomena itu, beberapa pihak menyebut bahwa kini tengah hidup dan berkembang apa yang disebut sastra urban, sastra perkotaan dengan segala karakteristik manusia urban. Tema yang dipilih HISKI juga menyiratkan penyebutan tersebut. Pelabelan itu kiranya menarik dielaborasi. Selain itu, secara substansif, timbul juga pertanyaan, apakah benar sastra urban baru muncul dan menggejala sekarang ini, yang dalam bahasa HISKI dimulai sejak masifnya urbanisasi pada abad XXI?

Atas permasalahan tersebut, melalui tulisan ini, saya mencoba mengedepankan perspektif yang mungkin berbeda. Topik sastra urban coba dilihat dan ditempatkan dalam lingkup yang lebih luas. Namun, sebelum sampai pada masalah itu, kiranya penting diuraikan mengenai pelabelan dan perdebatan dalam kesusastraan Indonesia, juga pemahaman mengenai karakteristik masyarakat urban. Dari hal tersebut diharapkan permasalahan sastra urban dapat didudukkan.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Lapas Muaradua Sosialisasikan Layanan Kunjungan dan Pembinaan dari Pihak Luar Kepada WBP

Image

LP Narkotika Samarinda Hapus Buta Huruf Pada WBP Dengan Belajar Membaca

Image

Jika Belum Mampu Berkurban Setiap Tahun, Berkurbanlah Setiap Minggu

Image

Mengenal Lebih Dekat Tentang Keutamaan Memakmurkan Masjid

Image

Menepis Kerinduan, KYM Menggelar Acara Seseruan

Image

PEMBINAAN JASMANI SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KEBUGARAN WBP

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image