Rima-rima Ajaib Alquran

Image
Fitriyan Zamzami
Sastra | Thursday, 14 Oct 2021, 08:38 WIB
Manuskrip Alquran tertua yang kini disimpan di Universitas Birmingham di Inggris. (dok Universitas Birmingham).

ThaA HaA/ MA-andzalnaA 'alaikA l-quraanA litashqaA/ IllA tadzkiratA(n) llimA(n) yakhsyaA/ TandzilA(n) mimmA(n) khalaqA l-ardhA wassamawAti-l-'ulaA

Yang ajaib dari empat larik pertama Surah Thaha (20) ini adalah permainan sajaknya. Seluruh kata dalam surah itu, jika dibaca dalam bahasa Arab dengan benar seturut hukum tajwid nun mati akan berima dengan sempurna. Pada ujung masing-masing larik, "thaa haa", "litashqaa", "limayyakhsyaa", dan "wassamawatil'ulaa", suku katanya secara gradual meningkat dari dua, jadi tiga, kemudian lima, lalu tujuh.

Bagi mereka juga yang seumur hidup membikin puisi, adalah kesulitan luar biasa--mendekati mustahil--merancang sajak dengan sebegitu banyak kata yang berima dalam satu larik saja yang punya makna yang koheren dan subliminal macam begini:

Tha Haa/ Kami tidak menurunkan Alquran ini untuk menyusahkanmu/ Melainkan sebagai peringatan bagi mereka yang takut (kepada Allah)/ Diturunkan dari Yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.

Tak mengejutkan bahwa periwayat Ibn Hisham mengisahkan, karena mendengar dan membaca larik-larik awal Surah Thaha itu Umar bin Khattab yang mulanya berencana membunuh Rasulullah langsung luruh di tempat.

Dalam bukunya "Gott ist schn: Das sthetische Erleben des Koran" Navid Kermani mengingatkan bahwa mukjizat nabi-nabi seturut dengan keadaan kaum mereka. Musa diberi tongkat ajaib karena di masanya ilmu sihir begitu marak dipraktikkan. Nabi Isa diberi mukjizat pengobatan karena Bani Israil kala itu paling maju di bidang tersebut.

Nah, Kermani berseloroh, jika Nietzsche menyatakan hanya akan menyembah tuhan yang berdansa, maka suku-suku Arab di masa Rasulullah sepertinya hanya bakal menyembah tuhan yang bisa berpuisi.

Yang diturunkan pada Rasulullah SAW kemudian jauh melampaui puisi apapun pada masa jahiliyyah atau pada masa manapun dalam bahasa Arab. Meski tak bisa seturut tradisi Islam, menyebut Alquran sebagai puisi.

Bagaimana pun, sewaktu malaikat Jibril dikisahkan merengkuh Muhammad SAW sedemikian erat pada satu malam 1.400 tahun lalu, yang mengalir darinya adalah satu sajak simetris:

Iqra bismi rabbikal ladhi khalaq/ Khalaqal insaana min alaq/ Iqra wa rabbukal akram/ Al ladzii allama bil qalam/ Al lamal insaana ma lam yalam.

Dalam Discovering the Quran (1996), Neal Robinson, pakar studi Islam dari Universitas Leeds, menjelaskan mengapa sajak itu istimewa. Dengan menghitung unit isokronik pada masing-masing larik, ada refleksi ritmis dari larik pertama dengan larik kelima, dan larik keempat dengan larik kedua. Sementara larik ketiga jadi penyeimbang.

Tak hanya itu. Kata terakhir antara larik satu dan dua serta larik empat dan lima juga punya tautan makna. Khalaq, artinya menciptakan, berhubungan dengan alaq (segumpal darah). Sementara qalam (pena) bertaut dengan yalam (mengetahui). Robinson mengaitkan bahwa segumpal darah adalah muasal dari penciptaan manusia, sementara pena adalah medium pengantar pengetahuan.

Permainan kata, rima, makna, dan ritme sejenis, menurut Robinson, terserak dalam sekujur ayat Alquran, dan masing-masing menyimpan keunikan sendiri-sendiri.

Ada juga misalnya sajak-sajak dengan rima rusakmaksudnya, susunan dan strukturnya dari permukaan terbaca inkoheren. Tapi, menurut Robinson, rima-rima liar macam ini dibuat dengan tujuan tertentu. Saya menemukan satu contohnya pada surat Almaidah ayat 45:

Wa katabnaa alaihim/ fihaaa annan nafsa binnafsi/ wal aina bil aini/ wal anfa bil anfi/ wal uzuna bil uzuni/ wassinna bissinni/ waljurooha qisaas; faman tasaddaqa bihii fahuwa kaffaaratullah; wa mal lam yahkum bimaaa anzalal laahu fa ulaaaika humudhalimuun.

Seluruh larik berima itu menyinggung aturan yang telah ditetapkan Tuhan kepada Bangsa Yahudi: Nyawa dibalas nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka dengan luka. Kemudian, terselip larik yang melepaskan diri dari rima untuk memberi penegasan bahwa siapa yang melepaskan hak qisasnya, baginya hal itu adalah penebusan dosa.

Yang ingin dibilang Robinson, struktur sastrawi Alquran sepenuhnya terencana. Sajaknya, juga prosanya, bukan sekadar dekorasi atau bebungaan semata.

Tak ada yang tahu pasti mengapa Alquran diwahyukan dengan struktur sajak serta prosa dalam bahasa Arab yang sedemikian rumit dan canggih. Sebagian teori yang beredar agar ia mudah dihafal, atau supaya ia tak mudah diselewengkan.

Lewat struktur rima dalam Alquran macam itu, saya ingin menelisiknya lewat sebuah buku yang membicarakan musik hip-hop. Judulnya, Book of Rhymes: The Poetics of Hip Hop (2009), ditulis Adam Bradley, sarjana budaya kulit hitam Amerika Serikat, yang menjelaskan makna-makna dan evolusi puitis dari lagu-lagu rap.

Musik rap adalah subkultur gerakan hip-hop yang muncul di New York pada akhir 1970-an. Semula cara disk jockey membangkitkan massa dalam pesta-pesta jalanan, lambat laun ia jadi seni mengisi beat yang dibentuk dari petikan sampel lagu-lagu populer lain dengan repetan-repetan ritmik dan berima.

Sejumlah sejarawan, termasuk Bradley, sepakat bahwa budaya berpantun kulit hitam Amerika Serikat bermula dari komunitas budak asal Afrika Barat, wilayah yang juga dihuni Muslim Afrika.

Seperti tradisi pantun yang tersebar di Nusantara, budaya yang menekankan pada seni cakap ini biasanya melibatkan dua pihak yang coba membungkam lawan main dengan sajak-sajak yang lebih cerdas. Dalam musik rap, para rapper berlomba-lomba menciptakan inovasi-inovasi rima dan ritme dalam lirik-lirik mereka. Ujung-ujungnya, rap saat ini punya banyak sekali amunisi puitis.

Awalnya lirik lagu rap hanya berima pada akhir larik. Dirasa kurang menantang, para rapper yang lebih canggih menaruh kata-kata berima dalam tubuh larik. Teknik itu dalam rap dikenal sebagai internal rhyme. Para rapper juga menambah rumit susunan lirik dengan menerapkan apa yang disebut multisyllabic rhyme. Bradley mencontohkan potongan lirik dalam lagu Dumb It Down gubahan Wasalu Muhammad alias Lupe Fiasco:

Im FEARLESS, now HEAR THIS. Im EARLESS and Im PEERLESS, which means Im EYELESS, which means Im TEARLESS, which means MY IRIS resides where my EAR IS, which means Im blinded.

Kendati terdengar cerdas, Bradley menyinggung bahwa teknik serupa jarang sekali digunakan dalam lagu-lagu rap yang lebih komersial. Bukan kebetulan bahwa Wasalu memakai teknik itu dalam lagu yang berisi ejekan untuk para rapper komersial yang diwajibkan membuat lirik bodoh agar lebih menjual.

Bradley menilai, rima dalam rima seperti itu membuat lirik serta isinya terlalu menarik perhatian. Ia menjauhkan pendengar dari hentakan-hentakan lagu, hook, nada, atau elemen-elemen lagu lain yang bisa dijual.

Dalam sejumlah persentuhan, ayat-ayat al-Quran juga mengandung rima dalam rima. Surat al-Baqarah ayat 12 misalnya, ada tarikan rima Summun, bukmun, umyun fahum layarjiun. Penerapan rima internal yang digabungkan rima multisuku kata muncul dalam al-Baqarah ayat 286:

RabbaNA la tuakhidzNA innasiiNA aw akhtaNA/ RabbaNA wa la tahmil alayNA isrankama hamaltahu alalladziNA minqabliNA/ RabbaNA wala tuhammilNA ma la taqata laNA bihi/ WafuanNA waghfirlaNA warhamNA anta mawlaNA fansurNA alaalqawmi alkafirin.

Penggunaan teknik itu punya efek serupa dari apa yang diharapkan dalam lirik lagu rap. Mau pakai langgam Jawa atau langgam Auckland; mau keluar dari rekaman tape lewat pengeras suara bodong mushala atau dari mulut Haji Muammar ZAlarik wafuanna waghfirlana warhamna anta mawlana tetap jadi pusat perhatian.

Teknik lain dari penulisan lirik rap yang bisa menerangkan tujuan rima dalam Alquran adalah rima berantai. Ini adalah larik-larik dengan repetisi rima yang seragam, biasanya ditempuh lewat sekuensi panjang, yang terus membangun momentum. Efek yang diharapkan dari teknik ini merayu pendengar menuju titik puncak guna memasuki semacam kondisi yang hampir menyamai kerasukan.

Banyak surat dalam Alquran menggunakan taktik itu. Salah satunya, yang bagi saya begitu sangkil, adalah Attakwir:

Idza alshshamsu kuwwirat/ Waidza alnnujuumu inkadarat/ Waidza aljibalu suyyirat/ Waidza alisharu uttilat/ Waidza alwuhooshu hushirat/ Waidza albiharu sujjirat/ Waidza alnnufoosu zuwwijat/

(Apabila matahari digulung/ dan apabila bintang-bintang berjatuhan/ dan apabila gunung-gunung dihancurkan/ dan apabila unta-unta bunting ditinggalkan/ dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan/ dan apabila lautan dipanaskan/ dan apabila ruh-ruh dipertemukan )

Rima dan aliterasi itu terus berulang pada 14 ayat/larik awal surat, memiliki pola seragam yang membangun tensi sejenis kresendo hingga akhirnya ditutup dengan:

Waidza alssamau kushitat/ Waidza aljahiimu suirat/ Waidza aljannatu uzlifat/ Alimat nafsun ma ahdarat.

(dan apabila langit dilenyapkan/ dan apabila neraka Jahim dinyalakan/ dan apabila surga didekatkan/ maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.)

Jika saat ini saja surat itu bisa menggetarkan, Anda bisa bayangkan bagaimana efeknya saat ia dibacakan kepada suku-suku Arab, 14 abad silam.

Dalam lirik-lirik lagu rap, kata Bradley, ada juga teknik yang namanya consonances: penempatan huruf-huruf atau suku kata secara berulang di tengah-tengah larik. Biasanya, taktik ini dipakai rapper untuk menekankan pesan dan isi pada satu larik tertentu.

Ambil contoh salah satu larik lagu dari grup hiphop Fugees berjudul Zealots: Rap rejECTs my tape dECK, ejECTs proJECTILE/ Whether Jew or GenTILE, I rank top percenTILE.

Contoh penggunaan teknik itu dalam ayat-ayat al-Quran juga tak sedikit. Di antaranya, ALLAhu LA iLAha iLLA Huwa, AL-HaiYuL-QaiYum (al-Baqarah, 255); Lam YaLid wa Lam YuLad (al-Ikhlas, 3); atau iDZa ZulZilatil arDHu ZilZalaha (al-Zalzalah, 1).

Secara berurutan, arti ayat-ayat itu, Allah! Tiada tuhan selain Dia yang Hidup, Yang berdiri Sendiri, Abadi; (Allah) tak beranak dan tak diperanakkan; dan apabila bumi telah digoncangkan dengan dahsyat. Seluruh ayat ini memiliki urgensi pesan masing-masing.

Menelaah korelasi antara teknik penulisan lirik lagu rap yang berkualitas dan ayat-ayat puitis Alquran ini, tentu saja, bukan upaya meringkus (dan tak mungkin pula!) pada satu konklusi mengapa Alqruan diturunkan dengan sedemikian memikat. Yang ingin saya bilang, efek yang coba ditimbulkan teknik rima tertentu dalam musik rap, dalam tingkatan tertentu, bisa memberi gambaran soal efek yang coba ditimbulkan saat ayat Alquran menggunakan teknik rima serupa. Bagi saya, ini adalah penjelajahan yang indah sekaligus misterius.

Kualitas-kualitas puitis ini, seperti kata sejarawan Michael Sells dalam Approaching the Quran (1999), membuat Alquran tak hanya berharga bagi Muslim. Atau seperti yang diungkapkan karakter Gordon Deitrich dalam film dan novel grafis V for Vendetta saat ditanya mengapa menyimpan Alquran: Saya tak harus jadi seorang Muslim untuk menemukan keindahan gambarnya, dan tergerak oleh puisinya.

Nb: Sebagian tulisan ini sebelumnya di muat di situs "pindai.org" yang kini sudah ditutup.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Suka nulis...

Bernays, Freud, dan Jihad Akbar

Tuhan di Nusantara

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Menghindari Arus Putaran Mabuk Teknologi

Image

Kunjungan Lembaga Masyarakat Azno Team (Anti Zat Narkotika) ke Idaqu

Image

Kajian Rutin Sirah Nabawi di Institut Daarul Quran Jakarta bersama Ustad Zikran

Image

Tip Biar Nggak Bingung Saat Harus Pilih Saham yang Terbaik

Image

Seksisme Perempuan di Media yang Kian Melanggengkan Ketidaksetaraan Gender

Image

Sejarah Singkat Abu Yusuf, Hakim Agung di Dinasti Abbasiyah

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image