Dari Bayt al-Hikmah di Baghdad Hingga Madrasah Terjemah di Toledo

Image
Azhari Mulyana
Sejarah | Friday, 02 Jul 2021, 15:31 WIB


Sejumlah karya klasik para filsuf dan ilmuwan kuno telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab selama Zaman Keemasan Islam di Timur seperti yang berasal dari sekolah Neoplatonisme, Aristoteles, Hippocrates, Galen, dan Ptolemy, serta karya-karya para filsuf dan ilmuwan kuno dari Persia, India, dan Cina (Gutas, 1998). Hal ini memungkinkan populasi berbahasa Arab pada saat itu (baik di Timur, Afrika Utara dan semenanjung Iberia) untuk belajar tentang banyak disiplin klasik kuno yang umumnya tidak dapat diakses oleh orang-orang Kristen di Eropa Barat. Justru para ilmuwan berbahasa Arab di negara-negara Muslim Timur seperti Ibn Sina, al-Kindi, al-Razi, dan lainnya, telah menambahkan karya-karya signifikan terhadap pemikiran kuno itu.

Selama abad ke-9 Masehi, beberapa khalifah dari Dinasti Abbasiyah, yaitu Al-Mamun (813–833) dan penerusnya adalah pendukung besar kebangkitan intelektual awal di Baghdad (sekarang Irak). Selama periode ini banyak manuskrip filosofis dan ilmiah Yunani Kuno dipelihara di Akademi Hipokrates Gundishapur[1]. Lalu manuskrip-manuskrip tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dari berbagai bahasa, seperti Yunani Kuno, Cina, Sanskerta, dan Persia (Vatle, 1991, pp. 3657-3662).

Diawali dengan pembangunan Bayt al-Hikmah di Baghdad oleh Khalifah al-Ma'mun, sebuah lembaga pendidikan di mana para ahli Muslim dan non-Muslim bersama-sama mengumpulkan pengetahuan dunia tidak hanya melalui tulisan asli tetapi juga melalui terjemahan. Mungkin penerjemah yang paling terkenal dan rajin pada zaman itu ialah Hunayn ibn Ishaq (w. 873 M), yang dikenal di Barat dengan nama Latin "Joannitius" (Osman, 2012, pp. 161-175). Ia disebut sebagai “Syekh Para Penerjemah”, dan dilaporkan telah menguasai empat bahasa utama pada masanya: Yunani, Syria, Persia, dan Arab. Hunayn dikreditkan dengan sejumlah besar terjemahan, mulai dari karya-karya kedokteran, filsafat, astronomi, fisika, dan matematika, hingga sihir dan keunikan.

Antara tahun 632 s/d 732 M., Islam menyebar dari selatan Hindustan ke Al-Andalus (mencakup juga Septimania, Selatan Perancis). Pada sepertiga pertama abad ke-10, Al-Andalus diperintah oleh Kekhalifahan Umayyah Cordoba, dengan cepat pengaruh budayanya meningkat hingga menyaingi Baghdad, Damaskus dan Kairouan (masing-masing saat ini adalah Irak, Suriah, dan Tunisia).

Sekolah Terjemahan Toledo

Toledo adalah ibu kota Kerajaan Visigoth, dan setelah penaklukan Islam pada 97 H /715 M, ia menjadi pusat budaya multibahasa dan memiliki kepentingan sebelumnya sebagai pusat pembelajaran di bawah pemerintah Muslim.

Kota Toledo kemudian menjadi ibu kota salah satu negara al-Thawaif[2] pada abad ke-5 H /11 M, yaitu Daulah Bani Dzun-Nun. Lalu pada tahun 487 H /1085 M raja Alfonso VI dari Kastilia berhasil menaklukkan dan merebutnya dari kekuasaan Sultan Al-Qadir Billah Yahya bin Dzun-Nun. Sejak saat itu, kota metropolis ini telah menjadi ibu kota resmi Kastilia, tetapi penduduknya (mengingat toleransi yang diterapkan Alfonso VI) adalah campuran dari orang-orang Kristen Spanyol (Mozarabs), Arab Muslim dan Yahudi yang masih memelihara agama mereka atau telah konversi agama memeluk Kristen.

Sekitar setengah abad setelah Toledo jatuh ke penguasa Spanyol, seorang biarawan bernama Raimundo de Sauvetat, diangkat menjadi uskup agung Toledo pada tahun 519 H /1125 M (Al-Warakili, 1994, pp. 34-35; Cheikha, 1994, p. 35). Di awal masa jabatannya, ia memulai upaya untuk mendirikan Sekolah Penerjemah Reguler di perpustakaan Katedral Toledo (Bahasa Spanyol: Escuela de Traductores de Toledo; Bahasa Arab: مدرسة طليطلة للمترجمين) dan memimpin tim penerjemah yang mencakup kaum Mozarabs, warga Kristen lokal Toledo, cendekiawan Yahudi, guru sekolah dan sejumlah biarawan. Mereka menerjemahkan banyak karya ilmiah berbahasa Arab ke Bahasa Castillan (sering disebut Castellano), dan kemudian dari Bahasa Castillan ke Bahasa Latin atau Yunani sebagai bahasa resmi gereja. Dalam beberapa kasus, mereka boleh menerjemahkannya secara langsung dari Bahasa Arab ke Bahasa Latin.

Dr. Jomâa Cheikha, Direktur utama Jurnal d’Études Andalouses dalam artikelnya (1994: 39) menyebutkan bahwa tahap pertama pendirian sekolah terjemah ini ditandai dengan terjemahan pertama karya Yahya bin Dureid al-Isybili (di Barat dikenal dengan nama John of Seville atau avendeut atau Johannes Hispalensis), seorang Yahudi yang dipabtis oleh Raimundo ke agama Katolik. Ia lah penerjemah inti teks-teks Arab ke Bahasa Castillan karena menguasai kedua bahasa tersebut dengan baik, sementara Domingo Gondisalve (Dominicus Gundissalinus) kemudian menerjemahkannya dari Bahasa Castillan ke Bahasa Latin, dan pada saat yang sama mereka berusaha untuk menyelaraskan isi teks terjemahan dengan ideologi dan kepercayaan Kristen.

Dominicus Gundissalinus dianggap sebagai Direktur pertama yang ditunjuk oleh Sekolah Penerjemah Toledo, dimulai pada tahun 1180 Masehi (Pidal, 1951, pp. 363-380). Meskipun mulanya harus bergantung pada Yahya al-Isybili untuk semua terjemahan dari Bahasa Arab, namun belakangan ia berhasil menguasai Bahasa Arab dengan cukup baik untuk menerjemahkannya sendiri. Tidak seperti rekan-rekannya, ia berfokus secara eksklusif pada filsafat, menerjemahkan karya-karya Yunani dan Arab serta komentar-komentar para filsuf Muslim sebelumnya di semenanjung. Di antara terjemahan-terjemahan pentingnya adalah “Fons Vitæ (Meqor Hayyim)” oleh filsuf Yahudi Ibn Gabirol. Gundissalinus juga menerjemahkan beberapa karya filsuf Muslim utama, yaitu Avicenna dan Al-Ghazali. Dia diketahui sering menghilangkan bagian-bagian dan menambahkan komentarnya sendiri, daripada setia pada teks aslinya.

Sedangkan topik karya yang diterjemahkan oleh Yahya al-Isybili terutama astrologi, astronomi, filosofis dan medis. Gaya bahasa penerjemahan Yahya atau John of Seville sangat diakui oleh para sarjana karena kecenderungannya untuk menerjemahkan kata demi kata, sambil terus mempertahankan sintaksis bahasa asli dan struktur tata bahasa orisinal.

Adapun metode penerjemahan yang dipakai adalah terjemahan lisan ke dalam bahasa Latin oleh seorang Mozarabs, Muslim atau Yahudi di depan seorang imam Katedral Toledo atau seorang ahli Latin yang berpengetahuan, lalu pada gilirannya, menuliskan apa yang telah didengar dengan Bahasa Latin yang sesuai (Arráez-Aybar, 2015, pp. 23-24). Terjemahan semacam itu ditulis di atas kertas, sebagaimana telah diperkenalkan oleh orang-orang Arab ke Andalus selama abad ke-11.

Sedangkan tahap kedua dari sekolah terjemah Toledo, ditandai dengan kedatangan Gérard de Crémone dari Italia (w. 583 H /1187 M) ke Toledo, ia dianggap sebagai salah satu penerjemah paling produktif di sekolah ini. Lebih dari delapan puluh buku telah diterjemahkan dan didokumentasikan, diantaranya yang paling terkenal adalah kitab “Al-Tasrif” karya Abu al-Qasim al-Zahrawi, “Al-Qanun” karya Ibn Sina, dan “Al-Manshuri” karya al-Razi. Melalui terjemahannya ini lah Ibn Sina memperoleh ketenaran di Eropa sehingga bangsa Eropa mengetahui doktrin ideologis dan filosofis bertuliskan nama Ibnu Sina itu dengan istilah Avicennisme.

Dengan demikian, Sekolah Toledo dalam fase kedua, telah membuka pintu lebar-lebar bagi Eropa untuk mengonsumsi keilmuan Arab, dari sini lah kebangkitan modern dimulai. Tentu, jika bukan karena Raimundo yang mengawali berdirinya sekolah tersebut, Eropa pasti akan mengasingkan semua yang berkaitan dengan orang-orang Arab.

Tahap selanjutnya, kegiatan penerjemahan tidak hanya dilakukan di kota Toledo, tetapi merambat ke kota-kota lain, diantaranya adalah Michael Scotus (w. 1232 M), salah satu intelektual dan poliglot terpenting di masanya. Ia mempelajari Bahasa Arab dengan cukup baik di Toledo, kemudian dipanggil menghadap Raja Frederick II dari Kerajaan Sisilia (sekarang Italia), dan atas titah raja, ia menerjemahkan buku-buku karya Aristoteles, komentar orang-orang Arab terhadap pemikirannya dan buku-buku karya Ibnu Sina (Avicenna) dan Ibnu Rusyd (Averroes). Kemudian abad ke-13 M penerjemahan dilanjutkan oleh Marcos dan Miguel Escoto sampai masa pemerintahan Alfonso El Sabio (650 H /1252 M – 683 H /1284 M). Alfonso diketahui sangat memotivasi penerjemahan ilmiah dan historis hingga mendirikan Lembaga Pendidikan Tinggi. (Cheikha, 1994, h. 41)

Akhir abad ke-7 H /13 M, tidak sampai stagnan gerakan penerjemahan dan translasi di Toledo, malahan muncul lembaga dan pusat-pusat penerjemahan lain yang aktivitasnya lebih besar dan lebih kuat. Bagi beberapa sejarawan mengira bahwa gerakan ini telah berakhir di kota Toledo, padahal semakin berkembang ke kota-kota lain seperti Montpellier, Paris, Chartres, Toulouse dan Reims. Sebagaimana banyak penerjemah muncul di pusat-pusat Anglo-Saxon seperti Adelard of Bath, Robertus Ketenensis, Alfredus Anglicus (Alfred of Sareshel), Daniel of Morley dan Petrus Alphonsi.

Di lembaga-lembaga ini, terjemahannya beragam, tidak hanya ke Bahasa Latin, tetapi juga ke Bahasa Ibrani dan Rumania. Juga, para penerjemah dari golongan cendekiawan mulai menulis buku-buku dengan topik yang sama seperti buku-buku yang diterjemahkan, yaitu dalam bentuk ringkasan, komentar maupun eksposisi atau uraian.

Gambar Sekolah Penerjemah Toledo saat ini berlokasi di Universidad de Castilla-La Mancha di Toledo


[1] Academy of Gundishapur, adalah sekolah yang dibangun oleh Nestorian (kaum bidah atau heresi Kristen yang diasingkan oleh Kaisar Bizantium bernama Zeno) pada tahun 489 M di Persia (saat ini Iran). Di akademi tersebut banyak naskah Yunani diterjemahkan ke dalam Bahasa Syria, diantaranya adalah dua belas buku Hippocrates of Cos, Bapak Kedokteran Yunani yang hidup antara tahun 460 SM – 370 SM, dan tiga puluh tujuh buku Aelius Galenus, seorang dokter, ahli bedah dan filsuf dari Kekaisaran Romawi, hidup antara tahun 129 – 199 M.

[2] Adalah kelompok negara-negara kecil, dipimpin oleh amir-amir (Muluk al-Thawaif) yang memerintah wilayah-wilayah Islam di Spanyol dan Portugal, setelah keruntuhan Kekhalifahan Umayyah di Kordoba pada tahun 1031.

Referensi:

Al-Warakili, Hasan. Yaqutat al-Andalus Dirasat fi al-Turath al-Andalusi, Lebanon, 1994.

Arráez-Aybar, Luis A., “Toledo School of Translators and their influence on anatomical terminology” in Annals of Anatomy, 2015.

Cheikha, Jomâa. “Daur Madrasat at-Tarjamah bi Thulaithulah fi Naql al-‘Ulūm al-‘Arabiyyah wa bittāli fi Nahdhah Awrubba”, in Revue d’Etudes Andalouses, Vol. 11, Tunis, 1994.

Gutas, Dmitri. “Greek Thought, Arabic Culture: The Graeco-Arabic Translation Movement” in Baghdad and Early 'Abbasaid Society, London, 1998.

Osman, Ghada. “The sheikh of the translators: the translation methodology of Hunayn ibn Ishaq”, in The Journal of the American Translation and Interpreting Studies Association, Vol. 7, 2012.

Pidal, Gonzalo Menéndez. Cómo trabajaron las escuelas alfonsíes. Mexico, D.F.: Nueva Revista de Filología Hispánica, 1951. ISSN 0185-0121.

Vatle, A., 1991. “Medical assimilation processes in the Middle Ages: From Gundishapur to Toledo”, Tidsskr Nor Laegeforen 111.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Islamofobia dan Wanita-Wanita Muslim

Image

Lapas Narkotika Purwokerto Jalin Kerjasama dengan Kantor Pos Indonesia Cabang Purwokerto

Image

Trash-Talk dalam Dunia Game Online

Image

Kaum Feminisme dalam Cengkraman Patriarki

Image

MAdinah Iman Wisata Serahkan Donasi Bantu Korban Gempa Cianjur

Image

Menebak-nebak Rambut Putih Pak Jokowi, Menggiring atau Memancing?

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image