Menyambut Lebaran; Ketika Berbelanja Menjadi Obsesi

Image
Fatika Rahmadhani
Gaya Hidup | Tuesday, 11 May 2021, 15:41 WIB
sumber gambar: unsplash.com

Hari Raya Idul Fitri atau kerap disebut juga lebaran, menjadi momen yang amat istimewa khususnya bagi umat muslim setelah satu bulan penuh berpuasa. Sebagai simbol kemenangan banyak cara dilakukan untuk memeriahkannya. Berbagai tradisi digelar penuh suka cita.

Masyarakat Indonesia punya beberapa tradisi khas yang melekat dalam merayakan lebaran. Mulai dari takbiran keliling, halal bihalal, mudik, menyediakan ketupat dan opor sebagai hidangan wajib, kue kering, hingga kebiasaan untuk berbelanja membeli baju baru.

Berbelanja baju baru menjelang lebaran menjadi perilaku lumrah. Belum lebaran namanya kalau belum punya baju baru. Begitu kiranya istilah yang melekat. Tradisi membeli baju ini seperti sudah mengakar di masyarakat. Biasanya pada minggu-minggu terakhir puasa ramadan pusat perbelanjaan mulai ramai tak terbendung. Tak mau kalah di era teknologi saat ini, platform e-commerce turut meramaikan. Berbagai brand berlomba memberikan diskon serta cashback besar-besaran untuk produk mereka demi menarik perhatian konsumen. Bahkan ada yang khusus mengeluarkan produk terbatas edisi lebaran.

Momentum ini menjadi peluang emas bagi pengusaha dalam mendongkrak penjualan. Bagaimana tidak, lebaran dirayakan hampir seluruh masyarakat Indonesia. Tak hanya umat muslim, pemeluk agama non-muslim pun turut serta memeriahkannya. Sehingga omzet produk dan jasa bisa meraup keuntungan lebih banyak dibandingkan hari biasa.

Potongan harga besar-besaran yang muncul saat ramadan menjelang lebaran pun tak jarang menghipnotis kita. Niat awal membeli satu potong, yang dibayar lima potong baju. Belum lagi rayuan iklan di media sosial membuat tidak sadar sudah check-out baju atau barang lainnya di e-commerce. Akhirnya, terjebak perilaku konsumtif dan kemudian melahirkan obsesi berlebihan dalam berbelanja.

Konsumtif dan Obsesi

Perilaku konsumtif masyarakat saat ini turut dipicu oleh meningkatnya perkembangan ekonomi. Kebutuhan baik pokok berupa sandang, pangan, dan papan menjadi semakin kompleks. Barang yang dahulu hanya dimiliki kelompok tertentu, sekarang seolah menjadi kebutuhan setiap orang yang harus dimiliki. Beberapa masyarakat pun terobsesi membeli barang-barang tertentu seperti baju, tas atau sepatu mengikuti trend agar tidak dianggap ketinggalan jaman dan diterima di masyarakat.

Tidak ada yang salah dengan aktivitas berbelanja. Bagi beberapa orang aktifitas ini menjadi sarana untuk refreshing dan memberikan rasa senang. Namun, jika terlalu berlebihan, tanpa disadari akan berimbas pada gaya hidup boros dan dampak negatif lainnya.

Sejatinya, ramadan menjadi bulan dimana seluruh umat manusia belajar untuk bisa menahan diri. Bukan hanya berpuasa menahan lapar dan haus. Menahan hawa nafsu juga menjadi esensi penting dalam menjalankan ibadah puasa ramadan. Termasuk menahan agar tidak mudah tergiur diskon dan berlebihan dalam berbelanja.

Menyambut lebaran tanpa tradisi yang umum dilakukan memang seperti ada yang kurang. Tetapi jika sudah mulai merugikan diri sendiri maupun sekitar tentu bukan langkah yang baik. Dalam Islam, diajarkan untuk menerapkan kesederhanaan dan menjauhi sesuatu yang berlebihan. Tak terkecuali ketika bulan suci ramadan.

Memang ada hadits yang menganjurkan untuk mengenakan pakaian terbaik ketika hari raya. Sayangnya anjuran ini kerap disalahpahami dimana orang-orang menganggap harus membeli baju baru setiap Idul Fitri. Menurut hadits riwayat Al-Bukhari tersebut, makna pakaian terbaik, bersih, dan suci tidaklah harus baru. Kita bisa mengenakan pakaian lama yang masih layak. Tentunya sesuai dengan syariat Islam, dengan niat untuk berhias dalam memuliakan hari raya.

Memiliki baju baru saat lebaran tidaklah dilarang tetapi juga bukan kewajiban. Apalagi jika memaksakan atau dengan tujuan menyombongkan diri. Justru akan merusak hakikat hari raya. Alangkah baiknya jika kita bisa bijak dalam penggunaan budget tersebut pada hal yang lebih bermanfaat.

Menerapkan Gaya Hidup Minimalis

Konsep minimalis bisa menjadi solusi untuk mengurangi obsesi berlebihan dalam berbelanja. Perlu dicatat bahwa semakin banyak barang yang kita miliki maka semakin besar pula tanggungjawab kita. Seringkali kita kalah dengan ego maupun nafsu ketika berbelanja. Membeli sesuatu hanya karena lapar mata padahal kita sudah punya barang serupa. Terobsesi mengoleksi barang limited edition yang sebenarnya kita tidak terlalu membutuhkan.

Sebelum menerapkan gaya hidup minimalis perlu untuk menata pola pikir terlebih dahulu. Menanamkan mindset dalam memilih sesuatu barang sesuai kebutuhan bukan keinginan semata. Tidak akan ada habisnya apabila berpegang pada keinginan. Hal tersebut hanya akan membawa manusia pada perilaku mubazir.

Menerapkan minimalis dalam keseharian sebenarnya identik dengan ajaran Islam yakni qanaah dan zuhud. Qanaah berarti merasa cukup atas pemberian Allah SWT. Zuhud sebagai upaya meninggalkan atau melepaskan sesuatu yang tidak bermanfaat. Sifat ini turut digambarkan dalam kehidupan Rasulullah. Dalam kesehariannya yang sederhana dan jauh dari kata mewah. Beliau mengajarkan kepada umatnya bahwa kehidupan dan apapun yang ada di dunia bersifat fana. Sehingga tidak perlu terlalu berlebihan dalam hal-hal duniawi.

Minimalis dalam menyambut lebaran sangat mungkin untuk diimplementasikan. Misalnya, dengan membeli pakaian yang bisa dikenakan juga untuk harian, tidak sekali pakai saat lebaran saja. Membeli jika memang sudah benar-benar butuh atau menggunakan metode penyisihan. Dimana ketika membeli barang baru maka harus ada barang lama yang keluar. Lagi pula, dengan memaksimalkan penggunaan barang yang sudah kita punya juga akan menghemat pengeluaran. Dengan menerapkan gaya hidup minimalis ini membuat kita lebih menghargai lingkungan sekitar dan menciptakan ketenangan.

Idul Fitri bukan hanya tentang baju baru. Lebih dari itu, momentum ini semestinya diartikan sebagai ajang meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Sesuai dengan hakikatnya Idul Fitri diartikan sebagai ajang mensucikan diri sebagaimana maknanya yakni kembali kepada keadaan suci. Kiranya penting merayakan dengan penuh rasa syukur dan kesiapan mental untuk menjadi pribadi yang lebih bijak.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Tahukah Kalian, Tertawa Itu Baik Untuk Kesehatan?

Image

WIZ Salurkan Sembako Untuk Dhuafa yang Terdampak Pandemi

Image

Pentingnya Self Healing Dimasa Pandemi

Image

Keluarga Harmonis, Seperti Apa sih?

Image

3 Tips membuat konten yang viral

Image

6 Tips Agar Kamu Betah di Pesantren

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image