Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Cliviano Pesik

Radiografer Perempuan Pasti Mandul? Cek Faktanya Dulu!

Info Sehat | 2026-10-14 20:16:22

Radiografer Perempuan Pasti Mandul? Cek Faktanya Dulu!

Ilustrasi radiografer perempuan yang bekerja menggunakan peralatan radiologi dengan menerapkan prosedur keselamatan radiasi untuk melindungi diri dari paparan radiasi saat bertugas. {Sumber: iStock).

“Kerja di radiologi itu bahaya buat perempuan. Nanti bisa mandul.” Kalimat ini sering banget terdengar, bahkan sampai ke telinga calon mahasiswa yang ingin jadi radiografer. Wajar kalau takut, karena radiasi tidak kasatmata dan namanya saja sudah terdengar menyeramkan.

Tapi benarkah perempuan yang bekerja sebagai radiografer otomatis berisiko mandul? Jawabannya: tidak. Profesi radiografer tidak dengan sendirinya menyebabkan infertilitas. Yang menentukan risiko adalah dosis radiasi yang diterima, pola paparan, dan seberapa disiplin proteksi radiasi diterapkan.

Radiasi Itu Soal Takaran

Dalam kesehatan radiasi, efek ke tubuh bergantung pada besarnya dosis. Gangguan kesuburan akibat radiasi baru muncul pada dosis sangat tinggi yang diterima dalam waktu singkat, misalnya pada kecelakaan nuklir atau terapi radiasi tertentu. Ada dosis ambang yang harus dilewati dulu sebelum efek itu terjadi. Dosis sebesar itu jauh di atas yang diterima pekerja radiologi diagnostik sehari-hari.

Seberapa Besar Paparan Radiografer?

Di Indonesia, pekerja radiasi diatur oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). Nilai batas dosisnya 20 mSv (millisievert) per tahun, dihitung rata-rata selama lima tahun berturut-turut, dan tidak boleh melebihi 50 mSv pada satu tahun tertentu (BAPETEN, 2013).

Lalu kenyataannya di lapangan? Alakhras dkk. (2025) melaporkan rerata dosis efektif tahunan pekerja kesehatan perempuan dalam kelompok yang diteliti hanya 0,68–0,85 mSv. Studi pemantauan terhadap 1.117 tenaga kesehatan di 26 rumah sakit Arab Saudi (2016–2022) juga menemukan dosis di semua departemen tetap di bawah 20 mSv, dengan tren yang menurun dari tahun ke tahun.

Bayangkan batas dosis itu seperti kuota internet 20 GB, sedangkan pemakaian radiografer rata-rata cuma sekitar 0,7 GB. Itu kurang dari 5 persen dari batas aman.

Tapi perlu diingat, angka ini menggambarkan paparan kerja, bukan bukti langsung bahwa kesuburan pasti aman. Itulah kenapa penjelasan tentang ambang dosis di atas penting.

Kenapa “Pasti Mandul” Itu Menyesatkan

Mitos ini seolah menyiratkan bahwa sekali bertugas saja sudah cukup merusak kesuburan. Itu tidak sesuai fakta ilmiah. Efek radiasi pada organ reproduksi butuh dosis ambang yang jauh melampaui paparan kerja normal. Paparan rendah yang tidak melewati ambang tersebut tidak menyebabkan kemandulan. Tinjauan terhadap populasi pekerja yang terpapar radiasi, termasuk radiografer, juga tidak menemukan bukti kuat bahwa paparan sedikit di atas dosis latar membuat hasil kehamilan memburuk (COMARE, 2004).

Soal Kehamilan: Tetap Perlu Ekstra Hati-hati

Kehamilan memang mendapat perhatian khusus, dan itu bukan tanpa alasan. Janin lebih sensitif terhadap radiasi dibanding orang dewasa. Karena itu radiografer yang hamil dianjurkan segera memberi tahu atasan agar tugasnya disesuaikan, misalnya menghindari ruang fluoroskopi atau tindakan yang berdekatan dengan pasien yang sedang disinar. Aturan keselamatan radiasi juga menetapkan batas dosis yang jauh lebih ketat bagi pekerja hamil (Lojo Lendoiro & Moreno Sánchez, 2022).

Bukti ilmiahnya juga belum sepenuhnya seragam. Sebuah meta-analisis atas 26 studi (2023) menyimpulkan bahwa paparan radiasi dosis rendah berkaitan dengan peningkatan risiko luaran kelahiran yang kurang baik. Namun studi-studinya sangat beragam, mulai dari pekerja medis, korban bencana nuklir, sampai warga yang tinggal dekat pembangkit nuklir. Jadi hasil ini tidak bisa langsung diterapkan pada radiografer yang terlindungi dan dipantau dosisnya. Pesannya bukan “jangan jadi radiografer”, tapi lindungi diri dan laporkan kehamilan sedini mungkin.

Perlindungan yang Nyata

Radiografer tidak bekerja tanpa pelindung. Ada tiga prinsip dasar proteksi radiasi:

• waktu: memperpendek durasi paparan

• jarak: menjauh dari sumber radiasi

• perisai: menggunakan pelindung

Di lapangan, ketiganya diwujudkan lewat apron timbal, pelindung tiroid, ruang kendali berdinding timbal, dan kaca pelindung. Setiap radiografer juga memakai dosimeter perorangan yang dibaca secara berkala. Kalau ada paparan tidak wajar, hal itu terdeteksi dan ditindaklanjuti.

Pegangan lainnya adalah prinsip ALARA (as low as reasonably achievable), yaitu menjaga dosis serendah yang dapat dicapai secara wajar. Jadi keselamatan bukan pelengkap, tapi bagian dari cara kerja sehari-hari.

Dampak Mitos bagi Perempuan

Mitos yang tidak diluruskan punya akibat nyata. Sebagian perempuan mengurungkan niat menjadi radiografer karena takut, padahal profesi ini butuh tenaga kesehatan yang kompeten dan beragam. Sebagian lain bekerja dengan cemas berlebihan. Takut tanpa dasar sama merugikannya dengan menyepelekan keselamatan.

Pesan Kesehatan

• Radiografer perempuan tidak otomatis mandul. Risiko bergantung pada dosis, dan dosis kerja jauh di bawah batas aman.

• Disiplin proteksi (waktu, jarak, perisai) dan dosimeter adalah kunci keamanan.

• Kalau hamil, segera lapor atasan agar tugas disesuaikan.

• Jangan percaya mitos, cek faktanya.

Daftar Pustaka

Alakhras, M., dkk. (2025). Radiation dose to health care workers measured by thermoluminescent dosimetry. Clinical Radiology. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39462717/

BAPETEN. (2013). Peraturan Kepala BAPETEN Nomor 4 Tahun 2013 tentang Proteksi dan Keselamatan Radiasi dalam Pemanfaatan Tenaga Nuklir. https://jdih.bapeten.go.id/unggah/dokumen/peraturan/229-full.pdf

Lojo Lendoiro, S., & Moreno Sánchez, T. (2022). Occupational radiation and pregnancy: reality or disinformation? A review of the literature and summary of current clinical guidelines. Radiología, 64(2), 128–135. https://doi.org/10.1016/J.RX.2021.11.004

Brianna Frangione, Pratick Hinton, & Paul J Villeneuve. (2023). Low-dose ionizing radiation and adverse birth outcomes: a systematic review and meta-analysis. International Archives of Occupational and Environmental Health, 96(1), 77–92. https://doi.org/10.1007/s00420-022-01911-2

Rian J, & milfer. (2025). Trends in occupational radiation dose of health practitioners in the Eastern Province of Saudi Arabia. Applied Radiation and Isotopes.

COMARE. (2004). Eighth Report: Review of pregnancy outcomes following preconceptional exposure to radiation. https://assets.publishing.service.gov.uk/government/uploads/system/uploads/attachment_data/file/304586/COMARE8thReport.pdf

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image