Radiografer: Garda Awal Diagnosis pada Pasien Gawat Darurat
Eduaksi | 2025-11-29 13:58:07
Radiografer adalah seorang tenaga kesehatan profesional yang berperan dalam mengoperasikan alat pencitraan radiologi. Radiografer biasanya bekerja sama dengan dokter untuk melakukan penegakan diagnosis penyakit melalui citra medis. Melalui ilmu radiologi, proses operasi tidak perlu dilakukan untuk melihat bagian dalam tubuh manusia. Alat-alat radiologi yang canggih mampu menembus jaringan kulit untuk melihat tulang maupun organ tubuh seseorang. Alat-alat dalam ruang radiologi tentunya sangat beragam, mulai dari X-ray, MRI, CT-Scan, dan banyak alat-alat lainnya yang menyesuaikan dengan kebutuhan pemeriksaan pasien.
Di rumah sakit, khususnya ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang merupakan tempat pasien dengan berbagai kasus darurat dan memerlukan tindakan cepat, seorang radiografer sangat krusial. Pasien yang dinilai mengalami cedera harus terlebih dahulu melakukan pemeriksaan rontgen agar lokasi luka di dalam tubuh dan jenis cedera seperti apa yang dialami pasien dapat diketahui. Seringkali luka yang dialami pasien tidak dapat dilihat langsung oleh mata, oleh karena itu pemeriksaan ini sangatlah penting. Setelah mengetahui berbagai informasi mengenai cedera yang dialami pasien, barulah dokter dapat mendiagnosis atau mengambil tindakan lebih lanjut dalam pengobatan yang harus diterima pasien.
Apabila dalam proses pengoperasian alat radiologi, seperti pengambilan citra, dilakukan dengan lambat atau lalai maka hal tersebut dapat membahayakan nyawa pasien yang memerlukan tindakan cepat. Seorang Radiografer memiliki andil yang sangat besar dalam menyelamatkan nyawa pasien. Tentunya radiografer tidak hanya melakukan pengambilan citra, namun radiografer juga harus mampu menciptakan rasa aman dan nyaman pada pasien agar pasien tidak takut dan proses pemeriksaan dapat berjalan dengan lancar. Ketepatan pengambilan citra sangat mempengaruhi bagaimana dokter dapat membaca dan mendiagnosis pasien, sehingga radiografer harus mampu melakukan pengambilan citra yang presisi dan benar. Apabila proses dilakukan dengan salah dan mengharuskan dilakukan berulang-ulang maka tingkat radiasi yang diterima pasien juga akan bertambah.
Melalui pengamatan lapangan yang telah saya lakukan, Radiografer yang sedang bertugas di IGD menangani banyak pasien. Setiap petugas memilikinya, ada radiografer yang memosisikan pasien dan ada yang bertugas melakukan pemaparan citra sehingga pemeriksaan dapat berlangsung dengan efisien. Salah satu kejadian yang menarik perhatian saya adalah saat petugas sedang menangani pasien usia lanjut, saat itu pasien merasa khawatir saat petugas sedang momosisikan tubuh beliau, tetapi cara radiografer tersebut mendengarkan kecemasan pasien, memberi penjelasan, dan memberi kata-kata yang hangat membuat pasien lanjut usia tersebut lebih tenang dan menjalani prosedur pemeriksaan dengan baik. Saat melihat kejadian tersebut, saya menyadari pentingnya komunikasi terapeutik dalam menangani pasien. Menurut penjelasan salah satu radiografer yang saya wawancarai, pasien yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) memiliki karakteristik yang sangat beragam, baik dari segi usia maupun jenis cedera yang dialami. Keberagaman ini menuntut radiografer untuk memiliki keterampilan komunikasi yang baik, empati, serta kemampuan memahami kondisi emosional setiap pasien.
Pada kesempatan tersebut, saya juga berkesempatan menyaksikan secara langsung proses pemeriksaan angiografi. Selama prosedur berlangsung, pasien tampak kurang kooperatif sehingga proses pemeriksaan sempat terhenti. Dalam situasi tersebut, dokter anestesi, perawat, dan radiografer bekerja sama dengan sigap untuk menenangkan pasien, masing-masing berusaha menerapkan koordinasi yang baik. Berkat kolaborasi tersebut, prosedur angiografi akhirnya dapat dilanjutkan hingga selesai dengan aman.
Pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata bahwa setiap tenaga kesehatan memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjaga keselamatan pasien. Masing-masing profesi memiliki tanggung jawab dan peran yang tidak bisa saling menggantikan. Oleh karena itu, tidak ada satupun tenaga kesehatan yang dapat diremehkan, karena keselamatan pasien hanya dapat dicapai melalui kerja sama tim yang baik dan kontribusi setiap tenaga Kesehatan dalam menjalankannya.
Tugas radiografer jauh melampaui menekan tombol eksposur. Mereka adalah bagian penting dari alur penegakan diagnosis, terutama pada kasus darurat. Tanpa radiografer, modalitas radiologi tidak dapat dioperasikan dan proses pemeriksaan tidak akan optimal. Terlebih lagi, perkembangan teknologi kesehatan mendorong radiologi untuk terus berekspansi menjadi berbagai cabang seperti radiologi diagnostik, intervensi, dan onkologi, masing-masing dengan peran yang semakin kompleks. Radiografer harus mampu mengikuti perkembangan teknologi radiologi demi meningkatkan kualitas layanan dan pemeriksaan pada pasien.
Radiografer bukan hanya alat operator, tetapi fondasi penting dalam rantai pelayanan medis modern. Di tengah meningkatnya kompleksitas teknologi kesehatan, kompetensi radiografer juga harus terus berkembang. Melalui ketelitian, empati, dan komunikasi terapeutik, radiografer menjadi garda awal yang memastikan setiap pasien mendapatkan diagnosis yang tepat dan kesempatan pemulihan yang lebih baik.
Penulis merupakan mahasiswa D4 Teknologi Radiologi Pencitraan, Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
