Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Maximilianus Bayu Pratama

Paradigma Matematika di Indonesia: Paling Dicintai Tapi Paling Ditakuti

Pendidikan | 2026-10-14 15:42:51

Apakah teman-teman pernah berpikir ‘Yeah, aku suka matematika!’, tetapi ketika mulai belajar matematika secara lebih dalam atau menghadapi soal-soal ujian, justru rasanya seperti mau mati. Tentu saja hal itu membuat kita takut untuk belajar matematika.

Sumber: Ilustrasi/Maximilianus Bayu Pratama (2026).

Di Indonesia, matematika memiliki reputasi yang sangat unik. Satu sisi, matematika dianggap sebagai ‘rajanya’ ilmu pengetahuan yang sangat dicintai karena matematika dinilai sebagai tolak ukur kecerdasan dan kepintaran seorang pelajar. Ketika melihat orang yang jago matematika, tanggapan orang lain pasti ‘wah, jenius sekali orang ini!’, sehingga otomatis mendapat label keren dan dianggap memiiki masa depan yang cerah.

Namun di balik itu, matematika diam-diam juga memegang predikat ‘salah satu mata pelajaran yang mematikan’ oleh mayoritas pelajar. Fenomena benci tapi rindu terhadap matematika memunculkan sebuah paradoks dilematis dalam pendidikan kita: matematika diagungkan, sekaligus dihindari layaknya momok yang sangat menakutkan.

Perlu kita ketahui bersama bahwa penyebab anggapan dapat muncul bukan dari aspek itu saja. Terdapat beberapa aspek yang menjadi penyebab matematika terasa menyenangkan sekaligus menyeramkan.

Sumber: Ilustrasi/Maximilianus Bayu Pratama (2026).

Menurut Sutriyani, W. & Widiyono, A. (2021) istilah matematika berasal dari bahasa Latin mathematika, bersumber dari bahasa Yunani mathematike yang memiliki makna mempelajari. Istilah tersebut berkaitan dengan kata mathein atau matheinein yang artinya belajar atau berpikir. Maka, ditinjau dari asal katanya, matematika dapat dipahami sebagai ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui proses belajar, berpikir, dan bernalar.

Ketakutan massal yang terjadi pada pelajar terhadap matematika ini bukan sekadar bualan belaka, melainkan benar-benar sebuah realitas psikologis yang nyata adanya. Menurut Nurjanah, R. dkk. (2025) kondisi tersebut diistilahkan sebagai math anxiety atau kecemasan matematika, sebuah gangguan psikologis multidimensi yang menyerang pelajar dalam aspek kognitif, emosional, sampai memicu gejala somatik atau gangguan fisik secara nyata.

Sumber: Ilustrasi/Maximilianus Bayu Pratama (2026).

Banyak pelajar yang mendadak pusing, nervous, bahkan kehilangan fokus untuk berkonsentrasi hanya karena melihat deretan rumus matematika yang rumit. Marfuah, L. & Widjajanti, D. B. (2026) menegaskan bahwa gejala ketakutan yang akut umumnya berasal dari rasa tidak percaya diri, serta akumulasi trauma belajar masa lalu yang tidak menyenangkan. Ketakutan akan salah menjawab, dan anggapan bahwa matematika itu ‘kaku’ membuat para pelajar merasa kurang mampu.

Ironisnya, di tengah rasa takut itu, ada sebuah fakta unik dari hasil studi internasional. Jika kita membedah hasil survei dari Programme for International Student Assessment (PISA), terdapat hal yang sangat kontras pada profil pelajar di Indonesia, terutama tingkat kemampuan numerasi kita yang memang masih memerlukan transformasi besar karena skor yang diperoleh masih di bawah rata-rata internasional (Kadata, 2024).

Sumber: Grafik/Adi Ahdiat (25 Januari 2024).

Sisi lain yang jarang disorot adalah antusiasme personal dari para pelajar itu sendiri. Salsabila (2026) mengungkapkan sebuah fakta bahwa sekitar 80% pelajar di Indonesia sebetulnya memiliki rasa ingin tahu, kemauan, serta modal belajar yang sangat tinggi dalam hal bertanya dan berusaha untuk mempelajari hal-hal baru.

Berdasarkan data dari Tirto.id (2026) tingkat ketertarikan intrinsik ini bahkan jauh melampaui rata-rata minat pelajar di negara- negara maju yang tergabung dalam Organization for Economic Co-operation and Development (OECD). Di sini letak paradoksnya, para pelajar di Indonesia sebenarnya mempunyai rasa cinta dan penasaran terhadap matematika, tetapi rasa tersebut sering layu sebelum berkembang yang diakibatkan oleh sistem pembelajaran yang menakutkan.

Sumber: Ilustrasi/Maximilianus Bayu Pratama (2026).

Lalu, mengapa cinta yang sangat besar itu dapat berubah menjadi ketakutan yang luar biasa? Jawabannya karena adanya pola pengajaran konvensional yang masih mengakar. Selama puluhan tahun, pembelajaran matematika di Indonesia masih terjebak pada metode hafalan demi mengejar nilai akhir semata, bukan pendalaman terhadap pemahaman konsep. Para pelajar dipaksa untuk menghafal algoritma bilangan tanpa pernah tahu sebenarnya rumus tersebut digunakan untuk apa dalam penerapannya pada kehidupan sehari-hari.

Menurut ulasan Fajri (2026) kondisi seperti ini dapat memicu terjadinya fenomena learning poverty. Pelajar datang ke sekolah untuk menghitung berlembar-lembar soal, tetapi mereka tidak sepenuhnya memahami makna logis di balik ilmu tersebut. Ketika pembelajaran kehilangan relevansi kontekstualnya, matematika akan berubah wujud dari awalnya sebuah ilmu logika yang indah menjadi banyaknya tumpukan beban mekanis yang mematikan kreativitas berpikir anak terhadap konsep penerapan ilmu matematika dalam kehidupan.

Fakta bahwa 80% pelajar Indonesia memiliki rasa ingin tahu dan motivasi yang tinggi (Salsabila, 2026; Tirto.id, 2026) adalah sebuah kesempatan atau modal yang dimiliki oleh anak-anak Indonesia. Sangat disayangkan dan berdosa secara akademis jika potensi yang begitu besar ini harus layu bahkan sampai mati di tangan budaya belajar konvensional yang kaku, penuh ancaman dan hukuman nilai, serta tidak adanya relevansi dalam kehidupan nyata.

Kita tidak kekurangan anak- anak berbakat, tapi kita sedang mengalami krisis akut dalam memperlakukan ilmu logika ini di ruang kelas. Oleh karena itu, diperlukan suatu transformasi radikal pada metode pengajaran ilmu matematika di Indonesia, dan tidak dapat ditunda-tunda atau sekadar menjadi jargon di atas kertas kurikulum baru Fajri (2026).

Sumber: Ilustrasi/Maximilianus Bayu Pratama (2026).

Kementerian pendidikan, pihak sekolah, dan para guru harus berkolaborasi secara penuh untuk meruntuhkan tembok kecemasan matematika (math anxiety) yang selama ini sebenarnya menyiksa psikologis siswa Nurjanah, R. dkk. (2025).

Guru matematika harus bisa melepaskan dan memutus rantai ‘algojo rumus’ yang menakutkan, dan bertransformasi menjadi fasilitator petualangan logika yang humanis dan menyenangkan. Pembelajaran tidak boleh lagi terjebak pada ‘hafalan kuno’, melainkan harus menghargai setiap proses penalaran dan critical thinking yang dibangun oleh para pelajar.

Matematika sebaiknya diajarkan sebagai bahasa universal untuk memecahkan suatu permasalahan kehidupan sehari-hari seperti algoritma media sosial, perencanaan keuangan, hingga pola alam, sehingga matematika bukan sekadar deretan angka mati yang wajib dihafal hanya untuk meloloskan diri dari jerat tuntutan ketuntasan minimal.

Hingga pada akhirnya, masa depan numerasi bangsa Indonesia di kancah global sangat bergantung pada bagaimana kita mengelola dan mengubah paradoks ini (Kadata, 2024). Jika kita berhasil mengubah budaya dan pola belajar dari tekanan psikologis yang memicu munculnya trauma Marfuah, L. & Widjajanti, D. B. (2026) menjadi sebuah ruang eksplorasi yang menyenangkan bagi pelajar, maka benih cinta yang terpendam dalam para pelajar akan tumbuh menjadi kompetensi akademik yang tangguh.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image