Menara Khayalan FPB-KPK: Ketika Anak Kelas 5 SD Terasing dari Perkalian Dua
Pendidikan dan Literasi | 2026-06-14 22:01:53Menara Khayalan FPB-KPK: Ketika Anak Kelas 5 SD Terasing dari Perkalian Dua
Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan tugas lapangan untuk mata kuliah Aritmatika. Saya diminta mendatangi salah satu Sekolah Dasar (SD) di Samarinda untuk mengobservasi dan membantu siswa yang kesulitan memahami materi Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dan Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK). Jujur, awalnya saya datang dengan bayangan ruang kelas yang aktif dan penuh semangat. Namun, kunjungan selama dua hari di sana justru meninggalkan rasa kaget, sedih, dan tanda tanya besar di kepala saya mengenai masa depan pendidikan kita.
Hari pertama saya masuk ke kelas, suasana langsung terasa canggung. Untuk mencairkan suasana sekaligus menguji kemampuan dasar mereka, saya melempar pertanyaan sederhana ke forum, "Teman-teman, ada yang tahu apa itu FPB dan KPK?"
Seketika itu juga, kelas langsung hening. Sunyi sekali. Tidak ada satu pun anak yang menjawab atau sekadar berani menatap mata saya. Melihat ruang kelas yang membeku, guru kelas kemudian berbisik kepada saya. Beliau mengatakan bahwa anak-anak sebenarnya baru saja mempelajari materi tersebut pada semester satu lalu. Namun, kalimat lanjutan dari guru tersebut benar-benar membuat saya terperangah. Beliau berkata, "Jangankan materi semester satu, Mbak. Mereka ini kalau sudah bel pulang sekolah dan sampai di rumah, besoknya pasti sudah lupa semua pelajaran hari ini.''
Mendengar kalimat yang diucapkan dengan nada datar dan pasrah itu, hati saya rasanya berdesir. Bagaimana bisa proses belajar mengajar menguap begitu saja tanpa bekas ketika anak melangkah keluar dari gerbang sekolah?
Fenomena ini mengingatkan saya pada kritik tajam Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara, dalam asas Tri Pusat Pendidikan yang menekankan pentingnya keselarasan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Sekolah tidak bisa menjadi menara gading yang berdiri sendiri. Beliau menegaskan:
"Pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak."
Artinya, jika apa yang dituntun di sekolah langsung menguap di rumah, maka ada rantai pendidikan yang terputus dalam ekosistem belajar anak.
Rasa penasaran membawa saya kembali pada hari kedua. Kali ini saya membawa beberapa lembar soal FPB dan KPK untuk dibagikan. Niat saya ingin melihat di bagian mana mereka bingung. Namun, kenyataan di lapangan justru jauh lebih menampar saya.
Jangankan menyelesaikan soal FPB dan KPK yang membutuhkan logika berpikir, mereka bahkan tidak bisa melangkah karena terbentur masalah yang sangat fatal: mereka belum menguasai perkalian. Dan yang membuat saya mengelus dada, perkalian yang tidak dikuasai itu adalah perkalian dua! Hanya ada beberapa gelintir anak di kelas yang bisa menjawab perkalian dua dengan lancar. Bayangkan, anak kelas 5 SD yang sebentar lagi lulus dan masuk ke jenjang SMP, ditanya perkalian dua saja banyak yang menggelengkan kepala. Lalu bagaimana mereka bisa menghadapi perkalian tiga, empat, lima, apalagi pembagian bersusun dan pecahan yang rumit?
Krisis numerasi di akar rumput ini selaras dengan tamparan keras dari data global. Dalam laporan OECD melalui hasil PISA (Programme for International Student Assessment), potret pendidikan kita memang sedang berada dalam darurat kompetensi dasar. OECD menggarisbawahi bahwa:
"Skor matematika yang rendah mencerminkan bahwa mayoritas siswa belum mampu mengomunikasikan dan menginterpretasikan situasi secara matematis, serta masih kesulitan dalam melakukan operasi hitung paling mendasar."
Namun, dari semua rentetan kejadian itu, hal yang paling membuat saya miris dan sedih adalah respons dari sang guru. Beliau sama sekali tidak terlihat panik, cemas, atau khawatir melihat kenyataan bahwa anak didiknya belum menguasai dasar matematika yang paling penting. Responsnya biasa-biasa saja. Guru tersebut seolah-olah sudah memaklumi ketertinggalan itu sebagai hal yang wajar terjadi setiap tahun.
Di titik itulah saya merasa ada yang salah dengan sistem kita. Mengapa kita bisa se-apatis ini? Mengapa kita bisa menganggap normal fakta bahwa anak kelas 5 belum menguasai kemampuan dasar berhitung?
Fenomena "pulang sekolah langsung lupa" ini terjadi karena anak-anak kita dipaksa untuk menghafal, bukan memahami. Mereka dicekoki materi yang terlalu padat demi mengejar target kurikulum, agar buku paketnya habis sebelum semester selesai. Otak anak-anak kita kewalahan. Mereka belajar hanya untuk memindahkan tulisan dari papan tulis ke buku, lalu memuntahkannya kembali saat ujian. Setelah itu? Ingatan itu hilang tertiup angin.
Realitas pahit ini sebenarnya menjadi alasan kuat di balik lahirnya kebijakan pemulihan pembelajaran oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Dalam dokumen resmi Naskah Akademik Kajian Pemulihan Pembelajaran, pemerintah secara eksplisit mengakui kelemahan kurikulum masa lalu yang senada dengan temuan saya di lapangan:
"Kurikulum yang terlalu padat materi mendorong guru untuk fokus pada penuntasan materi daripada pemahaman siswa. Akibatnya, terjadi ketertinggalan pembelajaran (learning loss) yang berlapis, di mana siswa dipaksa pindah ke materi baru sebelum menguasai materi prasyarat."
Kemendikbudristek melalui panduan literasi dan numerasinya juga menegaskan aturan mendasar yang sering kali dilanggar di lapangan:
"Kemampuan numerasi dasar, seperti operasi hitung perkalian dan pembagian, adalah prasyarat mutlak yang tidak boleh dilewati. Tanpa fondasi yang kuat pada fase awal, siswa akan mengalami kecemasan matematika (math anxiety) berkelanjutan di jenjang berikutnya."
Perkalian adalah fondasi, jantungnya matematika. Memaksa anak belajar FPB dan KPK tanpa bisa perkalian dua itu ibarat menyuruh anak membangun atap rumah di atas tanah yang berlumpur dan rapuh. Semuanya pasti akan runtuh, dan si anak akan tumbuh menjadi manusia yang benci serta takut dengan matematika.
Pengalaman dua hari di SD tersebut membuka mata saya. Pendidikan dasar bukan soal seberapa cepat guru menghabiskan materi di buku paket atau seberapa canggih kurikulum yang kita pakai. Ini soal memanusiakan manusia.
Sudah saatnya kita berani jujur pada diri sendiri. Lebih baik kita memperlambat ritme belajar dan fokus mengajari anak kelas 5 SD sampai benar-benar paham perkalian dua melalui prinsip Teaching at the Right Level (mengajar sesuai tingkat kemampuan), daripada kita terus berbohong pada laporan administrasi sekolah sementara anak-anak kita dibiarkan tersesat dalam ketidaktahuan
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
