Niatnya Cari Hiburan, Malah Jadi Target Pemasaran
Teknologi | 2026-10-14 12:46:39Pernah nggak kamu membuka TikTok hanya untuk menghilangkan rasa bosan, tetapi akhirnya malah tertarik membeli sesuatu? Awalnya cuma menonton video lucu, lalu beralih ke rekomendasi makanan, skincare, dan outfit kekinian. Tanpa sadar, kita mulai mencari produk yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Niatnya hanya mencari hiburan, tetapi berakhir memasukkan barang ke keranjang belanja.
Fenomena ini dekat dengan kehidupan Generasi Z yang sehari-hari menggunakan media sosial. TikTok, Instagram, dan YouTube bukan hanya menjadi tempat mencari hiburan, tetapi juga ruang bagi bisnis untuk memasarkan produk. Di tengah video lucu dan konten menarik, kita sering menemukan iklan, promosi diskon, serta rekomendasi dari influencer dan content creator.
Di sinilah digital marketing memainkan perannya. Digital marketing merupakan strategi pemasaran yang memanfaatkan teknologi dan internet untuk memperkenalkan produk serta menarik perhatian konsumen. Promosi tidak selalu disampaikan dalam bentuk iklan secara langsung. Terkadang, produk diperkenalkan melalui video komedi, ulasan pengguna, atau konten kreatif yang membuat penonton tertarik tanpa merasa sedang melihat promosi.
Influencer juga memiliki pengaruh dalam membentuk minat konsumen. Ketika kreator favorit merekomendasikan suatu produk, kita mungkin merasa penasaran dan ingin mencobanya. Apalagi jika produk tersebut sedang viral dan banyak dibicarakan. Tanpa disadari, muncul perasaan takut ketinggalan tren atau yang dikenal sebagai fear of missing out (FOMO). Padahal, produk yang populer belum tentu menjadi sesuatu yang benar-benar kita butuhkan.
Selain itu, algoritma media sosial dapat merekomendasikan konten berdasarkan aktivitas pengguna. Ketika kita sering melihat atau berinteraksi dengan konten tertentu, konten serupa mungkin akan lebih sering muncul di beranda. Akibatnya, kita semakin mengenal suatu produk dan bisa tertarik untuk membelinya. Ditambah lagi dengan promosi seperti diskon besar, gratis ongkir, dan batas waktu pembelian, keputusan belanja terkadang menjadi lebih impulsif.
Contohnya, kita membuka marketplace hanya untuk membeli satu barang seharga Rp50.000. Namun, karena melihat berbagai promo menarik, kita akhirnya menghabiskan Rp150.000. Kita merasa sedang berhemat karena mendapatkan diskon, padahal pengeluaran justru bertambah. Situasi ini menunjukkan bahwa keputusan pembelian tidak selalu didasarkan pada kebutuhan, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh emosi, tren, dan strategi pemasaran.
Meskipun demikian, digital marketing tidak selalu berdampak negatif. Strategi ini membantu konsumen menemukan informasi dan membandingkan produk dengan lebih mudah. Bagi pelaku usaha, terutama UMKM, digital marketing juga membuka peluang untuk memperkenalkan produk kepada lebih banyak orang dengan cara yang kreatif. Oleh karena itu, pemasaran digital perlu dilakukan secara jujur dan bertanggung jawab, sedangkan konsumen perlu lebih kritis dalam menerima promosi.
Menurut saya, tantangan bagi Gen Z bukanlah berhenti menggunakan media sosial, melainkan belajar mengendalikan keputusan sendiri. Sebelum membeli produk yang sedang viral, kita bisa bertanya kepada diri sendiri: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan, atau kita hanya tertarik karena sering melihatnya? Kita juga perlu membandingkan harga, memeriksa ulasan, dan menyesuaikan pembelian dengan kemampuan keuangan.
Pada akhirnya, media sosial telah membuat hiburan dan pemasaran semakin sulit dipisahkan. Kita bisa tertawa melihat video lucu, lalu tertarik membeli produk yang muncul di dalamnya. Bagi bisnis, hal ini merupakan peluang untuk menjangkau konsumen. Namun, bagi kita sebagai pengguna, hal tersebut menjadi pengingat agar tidak mudah terbawa tren.
Kita boleh menikmati kontennya tanpa harus membeli produknya. Sebab, niat awal membuka media sosial adalah mencari hiburan, bukan membuat dompet ikut mengalami krisis. Di era digital, menjadi konsumen yang cerdas sama pentingnya dengan menikmati perkembangan teknologi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
