Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Sodikin Jarkasih

Hijrah dan Kemenangan Islam

Agama | 2026-10-12 11:19:57

HIJRAH DAN

KEMENANGAN ISLAM

Oleh : Dr. H. SODIKIN JARKASIH, M.Pd.

(Ketua Dikdasmen PNF PDM Jakarta Utara, Dosen FIP UMJ)

ٱلْحَمْدُ لِلهِ ٱلَّذِى هَدَانَا لِهَـٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِىَ لَوْلَآ أَنْ هَدَانَا ٱللهُ, اَشْهَدُ اَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ, اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ, وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللهِ فَقَدْ هُدِيَ اِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ, أَمَّا بَعْدُ.

Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk, saya bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata dan tidak ada sekutu bagi–Nya. Ya Allah limpahkanah kemurahanMu kepada Muhammad dan keluarganya. Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

A. Definisi Hijrah.

Kata hijrah (هِجْرَةٌ) berasal dari akar kata hajara (هَجَرَ) yang berarti berpindah (tempat, keadaan, atau sifat), atau memutuskan, yakni memutuskan hubungan antara dirinya dengan pihak lain, atau panas menyengat, yang memaksa pekerja meninggalkan pekerjaannya. Dalam pengertian syar'iy, hijrah berarti, "perpindahan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallaam bersama sahabat-sahabatnya dari Mekkah menuju Madinah, yaitu pada tahun ke-13 dari masa kenabiannya".

Hijrah juga mengandung maksud perpindahan dalam rangka meninggalkan kampung kemusyrikan menuju suatu kampung keimanan, dalam rangka melakukan pembinaan dan pendirian masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam surat al-Anfâl (8) : 74:

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَالَّذِيْنَ اٰوَوْا وَنَصَرُوْاۧ أُوْلَٓئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيْمٌ

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.

B. Makna Hijrah.

Dalam al-Qur’an, kata hijrah dengan segala bentuk kata jadiannya, digunakan sebanyak 31 kali, dengan mengacu kepada makna-makna misalnya sebagai berikut:

(1). Perintah Meninggalkan Keburukan dan Kemaksiatan.

Allah berfirman dalam QS. Al-Muddatstsir (74) : 5

وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْۖ

Dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji

(2) Meninggalkan orang-orang yang tidak beriman dengan cara yang baik, tanpa melukai hati mereka.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam QS. Al-Muzammil (73) :10

وَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيْلًا ۝١٠

Bersabarlah (Nabi Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik.

(3) Kembali kepada Allah dengan harapan mendapatkan hidayah-Nya.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam QS. Al-.Ankabût (29) : 26

فَاٰمَنَ لَهٗ لُوۡطٌ ۘ وَقَالَ اِنِّىۡ مُهَاجِرٌ اِلٰى رَبِّىۡ ؕ اِنَّهٗ هُوَ الۡعَزِيۡزُ الۡحَكِيۡمُ

Maka Luth membenarkan (kenabian Ibrahim). Dan dia (Ibrahim) berkata, "Sesungguhnya aku harus berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku; sungguh, Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana."

(4) Meninggalkan tempat, keadaan, atau sifat, karena menuntut ridha' Allah.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam QS. A n-Nisâ (4) : 89

وَدُّوْا لَوْ تَكْفُرُوْنَ كَمَا كَفَرُوْا فَتَكُوْنُوْنَ سَوَاۤءً فَلَا تَتَّخِذُوْا مِنْهُمْ اَوْلِيَاۤءَ حَتّٰى يُهَاجِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَخُذُوْهُمْ وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ وَجَدْتُّمُوْهُمْ ۖ وَلَا تَتَّخِذُوْا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَّلَا نَصِيْرًاۙ

Mereka ingin agar kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, sehingga kamu menjadi sama (dengan mereka). Janganlah kamu jadikan dari antara mereka sebagai teman-teman(mu), sebelum mereka berpindah pada jalan Allah. Apabila mereka berpaling, maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka di mana pun mereka kamu temukan, dan janganlah kamu jadikan seorang pun di antara mereka sebagai teman setia dan penolong,

C. Hakikat Hijrah Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallaam.

Sejarah telah mencatat, bahwa orang pertama yang meresmikan peristiwa hijrah Nabi sebagai tonggak awal dalam perhitungan kalender hijriyah adalah Umar bin Khattab RA, yaitu saat beliau menjabat sebagai Khalifah ke-2 menggantikan Abu Bakar As-Shiddiq RA. Peristiwa itu terjadi 17 tahun setelah Hijrah Nabi. Sayidina Umar adalah seorang pemimpin yang selalu bermusyawarah dengan para sahabat Nabi yang lain dalam menyikapi berbagai persoalan umat, termasuk dalam menentukan penanggalan atau kalender umat Islam.

Dalam kitab Shahih al-Bukhari, pada kitab Manâqib al-Anshâr (biografi orang-orang Anshar) pada bab sejarah memulai penanggalan disebutkan: عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ مَا عَدُّوْا مِنْ مَبْعَثِ النَّبِيِّ ﷺ وَلَا مِنْ وَفَاتِهِ مَا عَدُّوْا إِلَّا مِنْ مَقْدَمِهِ الْمَدِينَةَ

Dari Sahl bin Sa’d ia berkata: Mereka (para sahabat) tidak menghitung (menjadikan penanggalan) mulai dari masa terutusnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan tidak pula dari waktu wafatnya beliau, mereka menghitungnya mulai dari masa sampainya Nabi di Madinah.

Terkandung makna yang sangat dalam dari hakikat hijrahnya Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallaam, diantaranya:

  1. Dalam perspektif historis, hijrah Nabi saw. pada hakikatnya merupakan langkah strategis untuk membela dan menegakkan nilai-nilai tauhid kepada Allah, serta membersihkan dunia dari kejahatan dan kezaliman, sekaligus sebagai awal kebangkitan, kemenangan Islam dan kaum Muslimin.
  2. Hijratur Rasul mendidik manusia, bahwa untuk mencapai suatu kesuksesan yang besar, memerlukan pengorbanan yang besar pula. Serta menjelaskan bahwa esensi hidup dalam perspektif al-Qur’an, bukan semata menarik dan menghembuskan nafas, tetapi untuk membela dan mengembangkan agama Allah, yang diawali dengan sikap optimis dan kerja keras kemudian tawakkal.
  3. Makna hakiki kebangkitan Islam dan kemenangan umat Islam sesungguhnya belum dapat dipahami oleh sebagian besar umat Islam. Hal ini terjadi karena umat Islam belum menyadari makna keberagama-an, sebagai satu-satunya jalan menuju kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
  4. Sesungguhnya penguasaan ilmu dan teknologi hanya sebagai alat untuk memudahkan kehidupan umat manusia. Dan kekayaan hanya merupakan alat untuk kemudahan hidup manusia dalam beribadah kepada Allah.
  5. Satu-satunya cara mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat adalah Keberpihakan kita dalam kebenaran, keseriusan kita dalam menegakkan Amar ma’ruf Nahi Munkar, serta menjadikan dirinya dapat bermanfaat bagi sesama.
  6. Kesadaran keberagama-an atau religio-sitas seperti di atas tentu perlu bagi umat Islam, karena semakin banyak agenda keberhasilan umat Islam di masa depan, terutama dalam menguasai iptek dan perekonomian, maka eksistensi Islam semakin disegani, dapat membuktikan

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam QS Al-Baqarah (2) : 218.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

HR. al-Bukhari dan Muslim dari Umar bin al-Khattab berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda;

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.

Perbuatan-perbuatan itu hanyalah dengan niat dan bagi setiap orang hanyalah menurut apa yang diniatkan. Karena itu, siapa yang hijrahnya itu kepada kerelaan Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya ialah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa hijrahnya untuk memperoleh keduniaan atau wanita yang bakal dikawininya, maka hijrahnya itu ialah kepada apa yang telah dihijrahi.

D. Hijrah Sebagai Awal Kebangkitan dan Kemenangan Umat Islam.

Merenungi proses hijrahnya Rasulullah, secara akal sehat dan penuh kewajaran menimbulkan pertanyaan besar sebagai mana berikut:

1. Mengapa Nabi Muhammad saw. memilih non-Muslim (Abdullah bin Uraiqith: Penyembah Latta) sebagai pemandunya ketika hijrah?

2. Mengapa Beliau berkeras untuk membayar upah kendaraan, yang dihadiahkan oleh sahabatnya?

3. Mengapa beliau begitu tenang, ketika musuh berada di mulut guwa, dan begitu gusar ketika berkecamuknya peperangan Badar?

Bila dianalisis secara mendalam, maka dapat ditemukan jawaban tentang hakekat ajaran Islam sekaligus menunjang suksesnya tugas kekhalifahan manusia sebagai khalifatullah fil-‘ardh (tugas membangun peradaban dunia). Dengan adanya hijrah tersebut, terjadi peristiwa penting antara lain, perang Badar, Uhud, Khandaq dan Perjanjian Hudaibiyah dan setelah 8 (delapan) tahun Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam hijrah di Madinah, kembali ke Makkah al-Mukarramah dengan membawa kemenangan yang dikenal dengan “Fathu Makkah”.

Karenanya, Al-Qur’an menjadikan hijrah sebagai sebuah pertolongan, termaktub dalam QS. Al-Taubah [9]: 40):

إِلَّا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُوْلُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَاۖ فَأَنْزَلَ اللهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلَٰىۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya: Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa Maha Bijaksana.

Hijrah dari kekufuran, yang didasari iman yang benar kepada Allah, akan diberi kemerdekaan dan kelapangan rezeki. Dalam QS al-Nisâ (4) :100 ditegaskan,

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَة .

Siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di bumi ini tempat yang luas dan rezeki yang banyak).

Berhijrah karena Allah, rezeki dunia dan akhirat (surga) akan menjadi tebusannya. Dalam QS al-Hajj (22) : 58 ditegaskan,

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ مَاتُوا لَيَرْزُقَنَّهُمْ اللَّهُ رِزْقًا حَسَنًا.

Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah kemudian mereka dibunuh atau mati, maka Allah pasti akan memberikan mereka rezeki yang baik.

Allah pun telah memuji orang-orang yang berhijrah, dan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam setelah hari kemenangan Fath Makkah bersabda:

لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوْا (مُتَّفّقٌ عَلَيْه). وَمَعْنَاهُ:لاَ هِجْرَةَ مِنْ مَكَّةَ لِأَنَّهَا صَارَتْ دَارَ إِسْلاَمٍ

Tidak ada hijrah setelah penaklukan kota Makkah, akan tetapi jihad dan niat. Dan jika kalian diminta untuk pergi berjihad, maka pergilah. (Muttafaq Alaih dari jalur Aisyah Radliyallahu Anha).

Dan satu hal yang penting dalam hijrah adalah bermakna luas, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ (رواه البخاري)

Orang yang berhijrah itu adalah orang yang berhijrah, meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah. (HR. al-Bukhârî).

Wallahu a’lamu bissawab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image