Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Marcus Banclair

Digitalisasi Perusahaan dan Budaya Memilih Teknologi

Teknologi | 2026-10-06 13:30:42

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah transformasi digital hampir selalu hadir dalam rapat-rapat perusahaan di Indonesia. Investasi pada sistem informasi, terutama ERP, menjadi salah satu wujudnya. Namun, ada satu hal yang jarang dibicarakan: bagaimana sebenarnya perusahaan memilih teknologi?

Di banyak organisasi, keputusan pembelian software masih sangat dipengaruhi faktor nonteknis. Rekomendasi kenalan, reputasi merek, atau kesan dari satu sesi presentasi sering kali lebih menentukan dibanding evaluasi yang terstruktur.

Budaya semacam ini berisiko. Sistem ERP menyentuh hampir seluruh proses bisnis, dari pembelian hingga laporan keuangan. Kesalahan memilih bukan hanya soal kerugian anggaran, tetapi juga hilangnya waktu, menurunnya semangat karyawan, dan tertundanya agenda bisnis lain.

Perusahaan perlu membangun kebiasaan baru dalam memilih teknologi. Pertama, memetakan kebutuhan secara jujur sebelum melihat produk. Kedua, membandingkan beberapa vendor dengan kriteria yang sama. Ketiga, melibatkan pengguna dari berbagai divisi dalam proses evaluasi.

Kebiasaan membandingkan ini dapat dimulai dari bahan yang sederhana. Saya pernah membaca referensi perbandingan software ERP untuk pengambil keputusan bisnis yang memuat beberapa vendor global maupun lokal. Bahan seperti ini tentu harus dibaca dengan kritis, namun cukup membantu sebagai daftar pertanyaan awal.

Transformasi digital bukan semata soal membeli teknologi terbaru. Ia adalah soal membangun cara berpikir yang lebih disiplin dalam mengambil keputusan. Dan disiplin itu dimulai sejak tahap memilih.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image