Menapaki Jalan Cahaya, Melalui Jejak As-Sidiq
Agama | 2026-09-30 16:29:46Para sahabat adalah orang-orang terbaik yang dipilih Allah Swt. untuk mendampingi Nabi Muhammad saw. Jumlah mereka sangat banyak, sekitar 124.000 orang, dan di antara mereka ada empat sahabat termulia di sisi Allah Swt. Merekalah Khulafaur Rasyidin, yang Rasulullah saw. meminta kita mengikuti jalan mereka. Sebab mereka adalah penerus jalan cahaya beliau. Rasulullah saw. bersabda, “Ikutilah jalanku dan jalan hidup khulafaur rasyidin pengganti-penggantiku mereka telah mendapat petunjuk dan dapat menunjukkan jalan. peganglah tali ini kuat-kuat.“ (HR. Abu Daud dan Tirmizi)
Salah satu Khulafaur Rasyidin sebagai penerus jalan cahaya Nabi Muhammad saw. adalah Sayyidina Abu Bakar As-Sidiq. Kita dapat menapaki jalan cahaya tersebut dengan cara, yaitu meneladani kisah perjalanan hidup Sayyidina Abu Bakar, dengan mengikuti akhlak beliau dalam bermuamalah kepada Allah Swt. dan sesama. Ada banyak sekali contoh perilaku atau akhlak para Sayyidina Abu Bakar yang memperlihatkan ketakwaan mereka yang tinggi kepada Allah Swt. serta besarnya cinta dan kesetiaan beliau dalam mendampingi dakwah Rasulullah saw., baik dalam keadaan susah dan senang selama hidup beliau hingga wafatnya. Beliau rela mengorbankan harta benda, bahkan nyawa untuk membela umat Islam serta mampu bertahan dalam setiap cobaan atau ujian yang Allah Swt. berikan.
Sayyidina Abu Bakar adalah lelaki dewasa pertama yang beriman kepada Nabi Muhammad saw. Beliau adalah sahabat Nabi Muhammad saw. dari masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa. Terpaut usianya hanya dua tahun di bawah Nabi Muhammad saw. Sayyidina Abu Bakar berakhlak mulia. Santun, baik hati, dermawan, lembut, dan berbagai karakter indah terkumpul dalam diri beliau. Ada beberapa akhlak dalam diri Sayyidina Abu Bakar yang dapat kita dapat belajar meneladaninya, antara lain sebagai berikut.
1. Bersegera Mengerjakan Kebaikan tanpa Menunda-nunda
Sesuai nama panggilan Rasulullah saw. kepadanya, yaitu Abu Bakar, yang artinya seseorang yang bersegera. Beliau memang tidak pernah menunda-nunda kebaikan termasuk untuk masuk dalam agama Islam. Beliau menjadi lelaki dewasa pertama yang masuk Islam. Awalnya, nama beliau adalah Abdul Kakbah. Sesudah Islam, Nabi Muhammad saw. menggantinya dengan Abdullah dan memanggilnya dengan panggilan Abu Bakar. Karena Abu Bakar bersegera masuk ke dalam Islam, Nabi Muhammad saw. menceritakan tentang keimanannya tersebut. Nabi Muhammad saw. berkata: “Tidaklah aku mengajak Islam kepada siapa pun, kecuali menemukan keraguan-keraguan, selain Abu Bakar. Dia segera menerima dan istikomah di jalan ini.”
Abu Bakar memang selalu bersegera melakukan kebaikan tanpa menunda, sebab hatinya bercahaya dengan keimanan. Itulah yang membuatnya segera mempercayai kabar Isra Mikraj. Ketika kabar Isra Mikraj tersebut beliau dengar, bahkan bukan dari Nabi Muhammad saw. Malam itu, Nabi Muhammad saw. melakukan Isra Mikraj. Pagi harinya, Nabi Muhammad saw. menceritakan hal itu sehingga membuat orang-orang kafir terpingkal-pingkal dan mentertawakan cerita beliau. Bahkan ada beberapa orang yang sudah masuk dalam agama Islam, merasakan keraguan-keraguan.
Orang-orang kafir mengatakan, “Kami harus menempuh perjalanan untak berbulan-bulan, untuk bisa sampai ke Baitul Maqdis. Dan dia mengatakan hanya semalaman saja, dia sudah berangkat ke Baitul Maqdis, kemudian pulang kembali ke Kota Mekah ini. Alangkah, tidak masuk akalnya cerita semacam ini.”
Sampailah cerita tersebut kepada Sayyidina Abu Bakar. Abu Bakar mendengarnya dari orang-orang kafir. Orang-oarang kafir berkata: “Hai Abu Bakar, teman kamu itu (Muhammad), dia mengaku bahwa dia berangkat dari Mekah sini, kemudian dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Setelah itu, dia pergi ke langit untuk berjumpa dengan Tuhannya, dan kembali hanya dalam waktu satu malam saja. Dia memang sungguh-sungguh berhayal temanmu itu, Wahai Abu Bakar.
Tahukah kalian, Abu Bakar imannya bukan karena cinta. Justru sebaliknya, cintanya lahir dari keimanan. Sayyidina Abu Bakar tersenyum, kemudian mengatakan: “Jika memang dia mengatakannya, aku percaya padanya. Jika memang dia mengatakannya, tak ada sedikit pun keraguan aku padanya.”
“Mengapa engkau mempercayai cerita Muhammad yang tidak masuk akal itu, wahai Abu Bakar?”, tanya orang-orang kafir kepada Abu Bakar.
Sayyidina Abu Bakar menjawab, “Aku bahkan percaya terhadap kabar langit, bagaimana aku tidak percaya padanya (Nabi Muhammad saw.). Tentang kabar bumi, aku percaya padanya. Tentang kabar akan terjadinya hari kiamat, aku percaya padanya. Tentang kabar akan adanya azab atau nikmat kubur, aku percaya padanya. Tentang kabar para malaikat-malaikatnya Allah Swt., aku percaya padanya. Tentang kabar langit, tentang hari kiamat, dan tentang apa yang akan terjadi sudah kiamat, aku tentu percaya padanya. Bagaimana mungkin aku tidak percaya tentang kabar bumi yang dia sampaikan.”
Ketika hal tersebut sampai kepada Nabi Muhammad saw., Nabi Muhammad menyematkan julukan As-Siddiq, artinya yang selalu membenarkan. Abu Bakar selalu percaya kepadaku dan dia tanpa ragu percaya padaku, kata Nabi Muhammad saw.
Ketika di Madinah, saat itu jumlah umat Islam sudah banyak. Suatu hari, Nabi Muhammad saw. bertanya kepada para sahabat-sahabatnya. Nabi Muhammad saw. bertanya kepada kumpulan para sahabat-sahabatnya, “Siapa di antara kalian yang hari ini berpuasa?” Ternyata, tidak ada seorang pun sahanat yang menjawab, kecuali Sayyidina Abu Bakar. Beliau menjawab dengan lirih, “Saya, ya Rasulullah.”
Nabi Muhammad saw. kemudian bertanya lagi, siapa di antara kalian yang hari ini telah memberi makan pakir miskin? Semua tidak menjawab, kecuali Sayyidina Abu Bakar. Belaiau menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” Nabi Muhammad saw. kembali bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang hari ini telah menjenguk orang yang sakit? Tak ada yang menjawab, kecuali Sayyidina Abu Bakar.” Belaiau menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” Nabi kembali bertanya lagi, siapa di antara kalian yang hari ini telah mengantarkan jenazah? Mereka semua diam, kecuali Sayyidina Abu Bakar. Belaiau menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.”
Nabi Muhammad saw. berkata, “Tidaklah berkumpul kebaikan-kebaikan ini dalam diri seseorang, melainkan Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga”.
2. Penuh Kasih Sayang kepada Siapa pun
Para sahabat Nabi Muhammad saw. memiliki sifat penuh kasih sayang, termasuk Sayyidina Abu Bakar. Allah Swt. berfirman dalam salah satu ayat Al-Qur’an, yaitu sebagai berikut.
مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۗوَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ . ( الفتح/۴۸: ۲۹)
Artinya: Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih sayang sesama mereka . (QS. Al-Fatḥ/48:29)
Semua disayangi oleh Sayyidina Abu Bakar, bahkan kepada anak-anak kecil sekalipun. Sesudah Sayyidina Abu Bakar menjadi khalifah, suatu hari Sayyidina Abu Bakar sedang melewati sebuah jalanan. Beliau mendengar, anak-anak perempuan kecil sedang mengobrol. Mereka berkata, “Tahukah kalian, sekarang Abu Bakar sudah menjadi khulifah. Tentu, sekarang dia tidak akan lagi memerahkan susu unta atau susu kambing untuk kita. Sayyidina Abu Bakar mendengar hal itu, beliau langsung menghampiri anak-anak perempuan kecil tersebut. Sayyidina Abu Bakar berkata, “Jangan takut, sungguh demi Allah, aku akan memerahkan susu dari kambing-kambing kalian seperti yang biasa aku lakukan.” Sayyidina Abu Bakar segera memerahkan susu untuk anak-anak perempuan kecil itu, kemudian memberikan kepada mereka untuk meminumnya.
Dalam kisah yang lain, dikisahkan oleh Sayyidina Umar bin Khattab kepada para sahabatnya. Aku melihat Abu Bakar, sesudah ia menjabat sebagai khalifah, hampir setiap pagi ia pergi ke sebuah rumah tua di pinggir Kota Madinah. Karena penasaran, suatu hari aku membuntutinya, ingin mengetahui gerangan apa yang dia lakukan di rumah tersebut. Cukup lama ia berada di sana, sementara aku bersembunyi di luar rumah. Ketika Abu Bakar sudah keluar dari rumah tersebut, aku pun segera masuk ke dalam rumah itu. Aku mendapati di dalam rumah tersebut kosong. Hanya ada seorang perempuan tua yang buta duduk di sudut ruangan. Aku pun menghampirinya.
Sayyidina Umar bin Khattab bertanta kepada seorang perempuan tua tersebut, “Nek, siapa laki-laki yang baru saja keluar dari rumah nenek barusan itu?” Nenek tersebut menjawab, “Saya tidak tahu siapa dia, Nak. Hanya saja, setiap hari dia datang ke sini membawakan belanjaan dan memasakkan untukku. Kemudian, sesudah makanan itu masak, dia pun mulai menyuapi aku. Setelah itu, dia membersihkan rumahku. Sesudah itu, ia pun keluar dari rumah ini. Semoga Allah merahmatinya.”
Sayyidina Umar bin Khattab yang mendengar itu, berderaian air matanya. Sayyidina Umar bin Khattab berkata dalam hatinya, bahkan Abu Bakar dari keikhlasannya tidak menceritakan siapa dirinya kepada nenek buta tersebut. Hatinya hanya dipenuhi dengan kasih sayang kepada siapa pun saja.
3. Cintanya kepada Nabi Muhammad saw. Sangat Luar Biasa
Cintanya Sayyidina Abu Bakar kepada Nabi Muhammad saw. sangat luar biasa. Cinta di dalam hatinya membuatnya mampu merelakan, bahkan nyawa sekalipun dalam jalan cintanya. Salah satu pembuktian cintanya., yakni ketika beliau menemani Nabi Muhammad saw. berangkat hijrah ke Madinah. Dalam perjalanan hijrah tersebut, Sayyidina Abu Bakar dan Nabi Muhammad saw. ingin beristirahat di dalam Gua Tsur sekaligus bersembunyi dari kejaran orang-orang kafir.
Sayyidina Abu Bakar masuk ke dalam gua terlebih dahulu untuk memastikan keadaan gua. Ketika dilihatnya ada lubang-lubang, beliau segera merobek surbannya menutupi lubang-lubang tersebut khawatir ada binatang yang keluar dari lubang tersebut. Hingga akhirnya, surban beliau telah habis untuk menutup lubang-lubang tersebut. Namun, ada satu lubang tepat di bawah kakinya yang baru terlihat oleh Sayyidina Abu Bakar. Beliau pun mengganjal lubang itu dengan kakinya. Setelah dirasa aman, Sayyidina Abu Bakar memperkenankan Nabi Muhammad saw. untuk masuk ke dalam gua. Nabi Muhammad pun tidur di atas pangkuan Sayyidina Abu Bakar.
Saat Nabi Muhammad saw. tidur, tiba-tiba kaki Sayyidina Abu Bakar merasakan kesakitan yang luar biasa. Ternyata, ada ular berbisa yang menggigit kaki beliau yang digunakan untuk mengganjal lubang itu. Tidak bisa terbayangkan seperti apa sakitnya dan tentu saja akan dengan sepontan berteriak. Namun tidak demikian dengan Sayyidina Abu Bakar. Cintanya kepada Nabi Muhammad saw. sangat luar biasa sehingga membuatnya dapat menahan sakitnya digigit ular berbisa. Beliau hanya khawatir mengganggu dan membangunkan tidur Nabi Muhammad saw. Jenis cinta macam apa ini? Beliau rela tubuhnya digigit ular yang mungkin akan membuat ruhnya keluar dari tubuhnya hanya demi agar yang dicintai tidak bangun dari tidurnya. Hanya demi kenyamanan dan kenyanyakan tidur sang kekasih hati, beliau rela menahan sakitnya bisa ular berbisa.
Sayyidina al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitabnya Al-Fusul al-‘Ilmiyyah mengisahkan tentang Sayyidina Abu Bakar. Beliau mengatakan, “Tahukah kalian, setelah wafatnya Rasulullah saw., setiap kali Sayyidina Abu Bakar berbicara, dari mulut beliau tercium aroma seperti daging yang gosong, seperti bau daging yang baru saja dibakar atau dipanggang.”
Sampai-sampai para sahabat saling bertanya satu sama lain. “Apakah kamu juga mencium bau itu? Saya mencium bau seperti daging gosong dari mulut Sayyidina Abu Bakar.” Demikianlah kisah yang disebutkan dalam kitab tersebut tentang keadaan Sayyidina Abu Bakar setelah wafatnya Rasulullah saw. Ternyata, semua orang menciumnya. Ketika para sahabat berdekatan dengan Sayyidina Abu Bakar, tercium dari mulut beliau aroma seperti daging gosong. Para sahabat kemudian bertanya-tanya, apa gerangan sebabnya? Ada sebuah ungkapan sebagai berikut.
غَبِيتُ مَحْرُومًا مِنَ الْمُفَارَقَةِ بِالْحَبِيبِ
Artinya: Aku tidak menyadari betapa merana karena berpisah dengan kekasih (orang tercinta)
Ungkapan tersebut menggambaran hati Sayyidina Abu Bakar yang seakan hangus terbakar oleh kerinduan setelah wafatnya Rasulullah saw.. Rasa cinta dan kerinduan beliau kepada Rasulullah saw. begitu mendalam. Kerinduan itu seakan membakar hati beliau, hingga diibaratkan bahwa aromanya dapat tercium oleh orang-orang yang berada di dekatnya. Demikian dalamnya cinta Sayyidina Abu Bakar kepada Rasulullah saw., cinta yang tetap menyala bahkan setelah Rasulullah saw. wafat.
Barangkali, itulah makna dari apa yang pernah disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. tentang Sayyidina Abu Bakar, “Wahai Abu Bakar, engkau adalah pemimpin para syuhada nantinya. Engkau adalah pemimpin para syuhada di hari akhirat kelak.” Namun, kita mengetahui bahwa Sayyidina Abu Bakar tidak wafat di medan peperangan. Beliau meninggal dunia di atas pembaringan, dalam keadaan sakit. Diceritakan bahwa beliau mengalami demam dan panas yang tinggi. Namun, ketika orang-orang di sekitarnya hendak mencarikan pengobatan, beliau tidak lagi berkeinginan untuk berobat.
Para ulama menjelaskan bahwa ketika Nabi Muhammad saw. menyebut Sayyidina Abu Bakar sebagai pemimpin para syuhada, hal itu berkaitan dengan keadaan dan kedudukan beliau. Sayyidina Abu Bakar wafat dalam keadaan yang sangat dekat dengan kenangan dan kecintaannya kepada Rasulullah saw. Beliau wafat dua tahun setelah wafatnya Rasulullah saw. Usia Nabi Muhammad saw. ketika wafat adalah 63 tahun, dan Sayyidina Abu Bakar juga wafat pada usia 63 tahun.
Pada hari-hari terakhir kehidupannya, Sayyidina Abu Bakar terbaring di atas tempat tidurnya. Seseorang kemudian bertanya kepada beliau, “Wahai Abu Bakar, bagaimana jika kami panggilkan seorang dokter untukmu?”
Beliau menjawab, “Dokter itu sudah datang kepadaku.”
Mereka bertanya, “Apa yang disampaikan oleh dokter tersebut?”
Beliau menjawab, “Apa yang aku kehendaki pasti terjadi.”
Maksud beliau adalah Allah Swt. Beliau telah menyerahkan sepenuhnya urusannya kepada Allah Swt. dan tidak lagi berkeinginan untuk mengobati sakitnya. Ketika orang-orang telah meninggalkan kamar beliau, Sayyidina Abu Bakar memanggil putrinya, Sayyidah Aisyah.
Beliau bertanya, “Hari apakah hari ini, wahai Aisyah?”
Sayyidah Aisyah menjawab, “Hari ini adalah hari Senin, wahai Ayah.”
Mendengar jawaban itu, senyum Sayyidina Abu Bakar mengembang dengan penuh kebahagiaan. Kemudian beliau berkata kepada Sayyidah Aisyah, “Wahai Aisyah, apabila aku meninggal dunia hari ini, janganlah engkau menundanya sampai besok. Segeralah makamkan aku pada hari ini juga.” Mengapa? Karena bagi Sayyidina Abu Bakar, hari yang paling indah adalah hari ketika beliau berharap dapat kembali berjumpa dengan Rasulullah saw. Rasulullah saw. wafat pada hari Senin. Maka Sayyidina Abu Bakar pun berharap dapat meninggal pada hari yang sama. Tidak lama kemudian, beliau berulang-ulang mengucapkan dua kalimat syahadat. Dengan senyum yang begitu indah, Sayyidina Abu Bakar kemudian menghembuskan napasnya yang terakhir. Beliau pergi meninggalkan dunia ini dengan harapan untuk kembali berjumpa dengan kekasih hatinya, yaitu Rasulullah saw.
Tentang kedekatan Sayyidina Abu Bakar dengan Rasulullah saw., terdapat ungkapan yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad saw: “Aku dan Abu Bakar seperti sepasang sandal. Kami selalu bersama. Hanya saja, aku adalah seorang nabi, sedangkan Abu Bakar bukan seorang nabi.” Begitu dekatnya Sayyidina Abu Bakar dengan Rasulullah saw. Begitu dalam cintanya kepada Rasulullah saw.
Dikisahkan pula, bagaimana Sayyidina Abu Bakar memandang Rasulullah saw. dengan penuh cinta. Seakan-akan beliau ingin terus memandang Rasulullah saw. dari ujung rambut hingga ujung kaki. Beliau melihat Rasulullah saw., lalu melihatnya lagi dan lagi. Tahukah kalian, apa yang beliau rasakan? Seluruh dirinya dipenuhi dengan cinta kepada Rasulullah saw. Semoga Allah Swt. mengaruniakan rasa cinta seperti itu ke dalam hati kita. Semoga kelak di akhirat kita dapat berjumpa dengan Rasulullah saw., bersama orang-orang yang mencintai beliau dan dicintai oleh beliau.
Mari kita renungkan, bagaimana cara kita menyayangi orang-orang yang ada di sekitar kita? Sudahkah kita menunjukkan kasih sayang kepada orang tua, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang Allah Swt. hadirkan dalam kehidupan kita? Semoga cinta yang kita miliki kepada sesama manusia menjadi jalan cahaya bagi tumbuhnya cinta kita kepada Allah Swt. dan Rasulullah saw.
Sumber: isi kajian Ustadzah Halimah Alaydrus dalam acara Maulid Nabi Muhammad saw. di Masjid Istiqlal, Jakarta pada 20 September 2026
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
