Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fabian Satya Rabani

Ketika Anak Muda Menormalisasi Umpatan

Gaya Hidup | 2026-09-21 08:31:57
Terlihat sekelompok anak muda tertawa sambil bercanda. Gambar: Ilustrasi AI

Terlihat sekelompok anak muda tertawa sambil bercanda. Salah seorang melontarkan umpatan kepada temannya, tetapi tidak ada yang merasa diserang. Kalimat yang bagi orang lain terdengar kasar justru disambut tawa dan dianggap sebagai bagian dari percakapan biasa. Adegan semacam ini memperlihatkan perubahan menarik dalam bahasa pergaulan: umpatan tidak selalu lagi dipahami sebagai penghinaan, tetapi dapat berubah menjadi tanda keakraban.

Normalisasi itu berlangsung perlahan melalui percakapan sehari-hari. Kata-kata yang dahulu hanya muncul ketika seseorang marah kini dapat hadir dalam candaan, sapaan, komentar media sosial, bahkan percakapan antarteman yang sebenarnya tidak sedang berkonflik. Bahasa tongkrongan kemudian membentuk aturan sendiri, dengan ukuran kesantunan yang berbeda dari ruang formal. Yang menjadi persoalan bukan semata-mata keberadaan kata kasar, melainkan ketika penggunaannya dianggap begitu biasa sehingga penutur tidak lagi mempertimbangkan siapa lawan bicaranya dan dalam situasi apa kata tersebut digunakan.

Normalisasi umpatan tidak muncul tanpa konteks. Dalam kelompok pertemanan, bahasa berfungsi bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun identitas dan menunjukkan kedekatan. Kata yang secara umum dianggap kasar dapat memperoleh fungsi berbeda ketika digunakan di antara orang-orang yang sudah memiliki hubungan akrab. Penelitian mengenai penggunaan umpatan dalam hubungan pertemanan menunjukkan bahwa kata-kata tabu dalam konteks tertentu dapat digunakan untuk humor, ekspresi spontan, dan pembentukan solidaritas sosial.

Di sinilah terjadi pergeseran makna. Sebuah kata yang secara leksikal mengandung unsur penghinaan belum tentu dipahami sebagai penghinaan oleh kelompok yang menggunakannya. Intonasi, ekspresi wajah, hubungan antarpembicara, serta situasi percakapan ikut menentukan makna. Karena itu, kalimat yang terdengar agresif bagi orang luar dapat dipahami sebagai candaan oleh orang-orang di dalam kelompok. Bahasa akhirnya tidak hanya ditentukan oleh arti kata dalam kamus, tetapi juga oleh kesepakatan sosial yang terbentuk di antara penuturnya.

Masalah muncul ketika batas tersebut semakin kabur. Kebiasaan menggunakan umpatan di antara teman dapat membuat penutur menganggap kata tersebut netral dalam hampir semua situasi. Padahal, penerimaan dalam satu kelompok tidak otomatis berlaku di kelompok lain. Ketika bahasa tongkrongan dibawa ke ruang kelas, lingkungan keluarga, tempat kerja, atau percakapan dengan orang yang belum dikenal, kata yang sebelumnya dianggap sebagai tanda keakraban dapat berubah menjadi bentuk ketidaksantunan atau bahkan penghinaan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa yang sedang berubah bukan sekadar kosakata, melainkan standar penggunaan bahasa. Anak muda menciptakan semacam kamus sosial sendiri: ada kata yang dianggap lucu, ada yang dianggap akrab, ada yang digunakan untuk mengejek, dan ada yang sengaja dipakai untuk menunjukkan keberanian. Kamus itu tidak tertulis, tetapi terbentuk melalui kebiasaan kelompok. Semakin sering sebuah bentuk bahasa digunakan tanpa mendapat reaksi negatif, semakin mudah pula bentuk tersebut dianggap normal.

Media sosial membuat proses normalisasi tersebut bergerak lebih cepat. Percakapan yang dahulu hanya diketahui oleh beberapa teman kini dapat muncul dalam komentar, unggahan, video pendek, atau percakapan kelompok yang kemudian disebarluaskan. Data BPS menunjukkan internet telah menjadi bagian luas dari kehidupan masyarakat Indonesia, sedangkan APJII menunjukkan besarnya keterlibatan generasi muda dalam ekosistem internet. Kondisi tersebut membuat bahasa populer memiliki jalur penyebaran yang jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Ruang digital juga mengubah cara sebuah umpatan dipahami. Dalam percakapan tatap muka, penutur dapat mengandalkan ekspresi wajah, intonasi, gestur, dan kedekatan personal untuk menjelaskan maksudnya. Dalam teks, sebagian besar tanda tersebut hilang. Sebuah kata yang dimaksudkan sebagai lelucon dapat dibaca sebagai penghinaan, sementara candaan internal sebuah kelompok dapat terlihat seperti serangan ketika dibaca oleh orang yang tidak mengetahui konteksnya.

Persoalan lain muncul ketika bahasa kasar menjadi bagian dari budaya popularitas. Ungkapan tertentu dapat berulang kali muncul dalam konten yang dianggap lucu, spontan, atau dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pengulangan membuat kata yang sebelumnya terasa ekstrem menjadi semakin familiar. Dalam proses tersebut, batas antara “berani berbicara” dan “sekadar berkata kasar” dapat menjadi semakin tipis.

Namun, menyebut seluruh bahasa tongkrongan sebagai kemerosotan bahasa juga terlalu sederhana. Bahasa memang selalu berubah, terutama ketika digunakan oleh generasi yang tumbuh dalam lingkungan sosial dan teknologi yang berbeda. Slang, singkatan, campur kode, serta perubahan makna merupakan bagian dari dinamika bahasa. Yang lebih penting untuk diperhatikan adalah kemampuan penutur membedakan konteks: bahasa yang cocok untuk teman dekat belum tentu tepat untuk ruang publik.

Karena itu, normalisasi umpatan sebetulnya bukan hanya persoalan tentang kata apa yang keluar dari mulut anak muda. Persoalannya terletak pada sejauh mana sebuah kelompok mampu membedakan candaan, keakraban, kritik, dan penghinaan. Umpatan dapat berfungsi sebagai penanda solidaritas dalam situasi tertentu, tetapi dapat pula menjadi serangan verbal ketika hubungan, situasi, atau penerimanya berbeda.

Bahasa tongkrongan memperlihatkan bagaimana generasi muda membangun identitas melalui kata-kata. Umpatan yang berulang dalam kelompok dapat kehilangan sebagian daya tabunya dan berubah menjadi kebiasaan komunikasi. Ketika kebiasaan itu terus dibawa ke berbagai ruang tanpa mempertimbangkan konteks, normalisasi tidak lagi sekadar soal gaya bicara, tetapi menjadi perubahan dalam cara orang memahami batas komunikasi.

Di tengah ruang digital yang semakin luas, perubahan tersebut membuat bahasa anak muda menarik untuk dibaca bukan sebagai pertentangan antara “bahasa baik” dan “bahasa buruk”, melainkan sebagai gejala sosial tentang bagaimana sebuah kata memperoleh makna, diterima, dan akhirnya dianggap biasa.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image