Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Agus Budiana

Media dan Hilangnya Batas antara Berita dan Konten

Kolom | 2026-09-17 15:41:36
Ilustrasi Generate AI

Sempatkan sejenak menelisik linimasa media sosial Anda pagi ini. Di antara unggahan berita duka, ada video resep masak. Di sela kabar kebijakan pemerintah, muncul cuplikan gosip artis dan iklan skincare yang menyamar sebagai "tips". Semuanya tampil dengan format yang nyaris seragam, judul singkat yang menggoda, thumbnail mencolok, durasi yang dipangkas agar cocok untuk jempol yang gelisah.

Kita mengonsumsi berita hari ini persis seperti kita mengonsumsi hiburan dan itulah masalahnya. Batas yang dulu tegas antara "berita" sebagai produk kerja jurnalistik dan "konten" sebagai apa saja yang bisa menarik perhatian, kini nyaris lebur menjadi satu.

Fenomena ini bukan kebetulan. Ia lahir dari pertarungan panjang antara ruang redaksi yang dulu berdiri sebagai penjaga gerbang informasi, dengan ekosistem digital yang mengukur segalanya lewat klik, tayangan, dan durasi tonton. Ketika keduanya bertabrakan, yang kalah biasanya bukan algoritma.

Ketika Ruang Redaksi Berebut Perhatian dengan Algoritma

Media arus utama hari ini tidak lagi hanya bersaing dengan sesama media. Mereka harus berebut detik perhatian pembaca dengan jutaan kreator konten, meme, dan video pendek yang diproduksi tanpa perlu melalui proses verifikasi atau kode etik apa pun.

Dalam pertarungan itu, banyak ruang redaksi akhirnya menyesuaikan diri dengan logika medan yang bukan logikanya sendiri judul dibuat sesensasional mungkin, isu-isu remeh didramatisasi agar terlihat penting, dan berita yang sebenarnya kompleks dipotong menjadi cuplikan singkat yang mudah dibagikan.

Wartawan senior Bill Kovach bersama Tom Rosenstiel pernah mengingatkan soal ini jauh sebelum media sosial sepenuhnya mendominasi kehidupan kita. Dalam buku mereka yang secara harfiah berjudul "Blur", keduanya menggambarkan betapa banjir informasi di era digital justru membuat publik semakin sulit membedakan mana yang telah diverifikasi dan mana yang sekadar dibagikan berulang-ulang.

Kejelasan bukan lagi soal siapa yang bicara lebih dulu, melainkan siapa yang mampu membantu pembaca menyaring kebisingan itu dan justru fungsi penyaringan inilah yang mulai tergerus ketika newsroom ikut bermain di ranah kecepatan dan sensasi demi mengejar trafik.

Akibatnya, garis antara "berita yang layak dipercaya" dan "konten yang sekadar viral" menjadi kabur bukan karena publik tidak bisa membedakannya, tetapi karena media sendiri kadang tidak lagi konsisten menjaga jarak itu.

Ketika Semua Orang Bisa Jadi Sumber Berita

Sisi lain dari persoalan ini datang dari arah yang berbeda, pembaca kini bukan sekadar penerima berita, melainkan juga produsen, kurator, sekaligus penyebar informasi. Siapa pun yang merekam video di lokasi kejadian, menuliskan utas panjang tentang isu publik, atau membuat konten edukatif di media sosial, berpotensi menjalankan salah satu fungsi jurnalistik tanpa harus berstatus jurnalis.

Diskusi tentang siapa yang berhak disebut "jurnalis" sebenarnya sudah berlangsung lama. Jay Rosen, akademisi jurnalisme dari New York University, sejak pertengahan dekade 2000-an menegaskan bahwa perdebatan kaku antara blogger dan jurnalis sudah tidak relevan lagi kadang tulisan seorang blogger memang memenuhi kaidah jurnalistik, dan kadang tidak, sama seperti karya seorang jurnalis profesional yang belum tentu selalu memenuhi standar itu.

Pandangan itu kini terasa semakin nyata, Rosen sendiri belakangan justru memilih bekerja langsung bersama para kreator konten, membantu mereka mengadopsi sebagian perangkat kerja jurnalistik tanpa memaksa mereka menjadi wartawan formal.

Situasi ini punya dua wajah. Di satu sisi, ia mendemokratisasi arus informasi publik yang dulu hanya jadi penonton kini bisa ikut mengabarkan, mengoreksi, bahkan mengungkap hal yang luput dari media besar.

Namun di sisi lain, ketika setiap orang bisa mempublikasikan apa saja tanpa proses pengecekan fakta yang memadai, fungsi penjaga gerbang (gatekeeping) yang selama ini melekat pada jurnalisme profesional ikut melemah. Konten bisa terasa seperti berita, viral seperti berita, dipercaya seperti berita padahal tidak pernah melalui proses verifikasi yang menjadi inti dari kerja jurnalistik itu sendiri.

Menjaga Kompas di Tengah Derasnya Konten

Pertanyaan yang kemudian muncul jika teknologi sudah mengaburkan siapa yang bicara dan bagaimana caranya, apa yang masih tersisa dari jurnalisme sebagai sebuah profesi?

Di sinilah pemikiran Barbie Zelizer, akademisi komunikasi yang banyak menulis tentang masa depan jurnalisme, terasa relevan untuk direnungkan. Ia berpendapat bahwa jika jurnalisme hanya dipandang sebagai bagian dari teknologi semata, profesi ini akan kehilangan fungsi, otoritas, dan tanggung jawabnya.

Menurutnya, seharusnya justru jurnalismelah yang memberi arah, bentuk, dan makna pada teknologi yang digunakannya bukan sebaliknya, di mana jurnalisme hanya menjadi pelengkap dari logika platform digital.

Argumen ini penting karena ia menawarkan cara pandang yang berbeda dari sekadar meratapi hilangnya batas antara berita dan konten. Persoalannya bukan pada teknologi itu sendiri media sosial, video pendek, dan format konten yang ringkas bukanlah musuh jurnalisme.

Persoalannya ada pada apakah ruang redaksi masih memegang kendali atas nilai-nilai dasarnya: verifikasi, akurasi, dan tanggung jawab publik, atau justru membiarkan dirinya didikte sepenuhnya oleh apa yang disukai algoritma.

Bagi pembaca, kesadaran ini juga penting. Ketika format berita dan konten hiburan tampil nyaris identik di layar yang sama, kemampuan untuk bertanya "siapa yang menulis ini, dan bagaimana proses verifikasinya" menjadi keterampilan yang jauh lebih berharga dibanding sekadar kemampuan mengakses informasi itu sendiri.

Batas antara berita dan konten mungkin tidak akan pernah kembali setegas dulu. Namun bukan berarti batas itu harus benar-benar hilang. Ia hanya perlu dijaga dengan cara yang berbeda bukan lagi lewat format atau kanal distribusi, melainkan lewat komitmen pada proses dan nilai yang melahirkan sebuah berita.

Jurnalisme membuktikan bahwa dirinya tetap punya tempat, sekalipun harus berdesakan dengan jutaan konten lain di linimasa yang sama.

Agus Budiana, adalah jurnalis, penulis dan pemerhati komunikasi digital. Karyanya dimuat di berbagai plaform media nasional dan mengangkat isu jurnalisme, media, AI, literasi digital, serta dinamika masyarakat informasi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image