Hambamu, Yaa Allah
Sastra | 2026-09-17 06:37:48
Hambamu, Yaa Alloh
Di Antara Ketetapan dan Pilihan Senja tidak pernah bertanya kepada siapa ia harus pergi.
Ia hanya menutup matahari perlahan-lahan,membiarkan bumi memasuki malam, seolah berkata: setiap terang mempunyai waktunya, dan setiap gelap pun memiliki batasnya.
Kemudian malam datang.Gelap—tetapi tidak kosong.Bulan muncul tanpa dipanggil, bintang menyala tanpa diperintah, cahayanya jatuh perlahanke bumi yang sedang tidur.Tak ada bintang yang memuji dirinya,tak ada bulan yang meminta pujian.Mereka hanya hadir, berjalan pada garis waktunya,menjalankan ketetapan yang tidak pernah mereka bantah.Begitulah alam mengenal Tuhannya.
Air pun demikian.Ia tidak memilih jalan dengan kesombongan.Ia mencari celah,menyusuri batu, melewati tanah,menuruni lembah,dan terus mengalir menuju tempat yang lebih rendah.Ia tidak berkata,“mengapa aku harus ke sana?”Ia hanya mengalir.Namun air yang lembut dapat menjadi kehidupan, dan air yang kehilangan batas dapat menjadi bencana.
Api pun begitu. Nyala kecil dapat memberi cahaya,
memberi kehangatan, memasak makanan, menghidupkan peradaban.Tetapi api yang tak terkendali dapat menghanguskan rumah,hutan, bahkan kehidupan.
Air dan api tidak kehilangan hakikatnya.
Manusialah yang menentukan bagaimana kekuatan itu digunakan.
Lalu aku bertanya kepada diriku:
Mengapa aku berbeda, Yaa Alloh?
Bulan menjalankan ketetapan-Mu. Bintang menjalankan ketetapan-Mu.
Air mengalir dalam hukum-Mu.
Api menyala dalam hukum-Mu.
Sedangkan aku—Engkau beri akal, Engkau beri hati, Engkau beri kehendak, dan Engkau beri pilihan.Di situlah aku menemukan beratnya menjadi manusia.
Aku dapat menanam sebatang pohon dan merawatnya hingga menjadi besar,akarnya mengikat tanah,daunnya memberi udara,rantingnya memberi tempat bagi burung,dan bayangannya memberi teduh kepada mereka yang kelelahan.Tetapi dengan tangan yang sama aku juga dapat menebangnya. Aku dapat membangun,tetapi dapat pula menghancurkan.Aku dapat menjadi cahaya bagi sesama,tetapi dapat pula menjadi api yang membakar hati manusia.
Maka kehidupan bukan sekadar tentang berapa lama aku hidup.Ia adalah tentang untuk apa aku hidup.
Bukan tentang seberapa banyak yang kumiliki,melainkan seberapa banyak kebaikan yang kutinggalkan.
Bukan tentang seberapa tinggi aku berdiri,melainkan seberapa dalam aku mengenal siapa yang membuatku berdiri.
Yaa Alloh...Mungkin itulah rahasia yang sering tersembunyi di balik perjalanan manusia:
alam tunduk kepada hukum-Mu, sedangkan manusia diuji dengan pilihannya.Alam tidak perlu bertanya siapa dirinya.Tetapi manusia menghabiskan hidupnya untuk mencari jawaban:
Siapakah aku?
Dari mana aku datang?
Untuk apa aku hidup?
Dan kepada siapa aku akan kembali?Malam mengajariku tentang sunyi.Bintang mengajariku tentang cahaya.Air mengajariku tentang ketekunan.Api mengajariku tentang kekuatan.Pohon mengajariku tentang kehidupan.
Dan kematian—mengajariku bahwa tidak ada perjalanan dunia yang abadi.
Maka malam ini, Yaa Alloh, ketika dunia mulai senyap,aku tidak ingin banyak meminta.Aku hanya ingin Engkau benahi hatiku.Jika aku seperti air, jadikan aliranku menuju kebaikan.Jika aku seperti api, jadikan nyalaku sebagai penerang, bukan penghancur. Jika aku seperti pohon, jadikan hidupku tempat berteduh bagi sesama. Jika aku seperti bintang, biarkan cahayaku kecil, tetapi berguna di tengah kegelapan.
Dan jika suatu hari aku harus meninggalkan dunia, jangan biarkan aku pergi tanpa makna.
Yaa Alloh...Aku bukan pemilik kehidupan.Aku hanya seorang musafir yang Engkau beri waktu untuk berjalan sebentar di bumi-Mu.
Senja akan kembali.Malam akan datang.Bulan akan muncul.Bintang akan bercahaya.Fajar akan membuka pagi.
Air akan terus mengalir.Api akan terus menyala.Pohon akan tumbuh dan suatu hari akan tumbang.
Begitu pula aku.Aku akan datang, berjalan,dan akhirnya pulang.
Karena aku hambamu, Yaa Alloh.
Dari-Mu aku berasal, dengan izin-Mu aku berjalan,dalam kasih-Mu aku berharap,dan kepada-Mu aku akan kembali.
Doa Yaa Alloh,
Jadikan hidupku cahaya yang menerangi,
jadikan langkahku jalan yang berarti,
dan ketika waktuku tiba,
terimalah aku sebagai hambamu yang pulang kepada-Mu dengan hati yang telah mengenal-Mu.
dan Wahai jiwa yang tenang,
kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridho dan diridhoi-Nya, Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,
Aamiin!!!
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
