Wajah Baru Kota Lama Surabaya dan Gerak Ekonomi UMKM Krembangan
Sejarah | 2026-10-02 16:48:15
Halo sobat travelers! Kota Lama Surabaya tidak lagi sekadar kawasan yang dilewati secara sekilas. Setelah direvitalisasi, kawasan ini perlahan berubah menjadi tempat yang didatangi, dinikmati, lalu dibicarakan kembali. Bangunan lama yang dulu terasa biasa kini hadir kembali sebagai bagian dari wajah baru Surabaya. Suasananya lebih tertata, aktivitas wisata semakin terlihat, dan kawasan ini mulai mempunyai daya tarik wisata baru, terutama ketika malam tiba dan akhir pekan datang.
Namun, ada pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar apakah Kota Lama sekarang lebih ramai, melainkan mengenai “apakah keramaian itu benar-benar sampai ke kantong masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari kawasan tersebut?”
Ramai, tetapi Ada Waktunya
Seorang pedagang di sekitar Kota Lama menggambarkan kondisi tersebut secara sederhana. Menurutnya, kawasan memang terasa lebih ramai setelah revitalisasi, tetapi peningkatan pengunjung tidak terjadi sepanjang hari.
“Kalau malam dan weekend biasanya lebih ramai. Kalau hari biasa tidak selalu seperti itu,” ujar salah satu pedagang di sekitar kawasan Kota Lama.
Ramainya pengunjung memang tidak datang sepanjang waktu. Bagi pedagang, perbedaan itu paling terasa ketika malam dan akhir pekan, saat lebih banyak orang datang dan aktivitas jual beli ikut bergerak. Semakin ramai kawasan, semakin besar pula peluang dagangan mereka dilirik dan dibeli.
Pengalaman tersebut sejalan dengan hasil survei terhadap 20 pedagang di kawasan Kota Lama. Sebanyak 80 persen responden menyatakan jumlah pengunjung meningkat setelah revitalisasi. Rinciannya, 60 persen menyatakan setuju dan 20 persen sangat setuju. Sementara itu, 15 persen memilih netral dan 5 persen tidak setuju.
Keramaian tersebut kemudian terlihat dalam angka pendapatan. Sebelum revitalisasi, rata-rata pendapatan 20 pedagang tercatat sebesar Rp.299.250,- Setelah revitalisasi, rata-ratanya meningkat menjadi Rp.472.500,- Artinya, terdapat kenaikan sebesar Rp.173.250,- atau sekitar 57,89 persen. Tetapi angka tersebut bukan berarti semua pedagang mengalami perubahan dengan cara yang sama.
Sebanyak 17 pelaku ekonomi mengalami peningkatan pendapatan. Kenaikan tertinggi mencapai Rp. 500.000 atau 100 persen. Di sisi lain, dua pelaku usaha justru mengalami penurunan dan satu lainnya tidak mengalami perubahan. Artinya, Kota Lama memang semakin hidup, tetapi manfaat dari keramaian itu belum tentu dirasakan secara merata. Tetapi angka tersebut bukan berarti semua pedagang mengalami perubahan dengan cara yang sama. Perbedaan inilah yang membuat cerita revitalisasi Kota Lama tidak bisa hanya dilihat dari angka kenaikan pendapatan.
Ketika Bentor Harus Berbagi Pengunjung
Cerita yang berbeda datang dari pengemudi bentor di kawasan Kota Lama. Jika pedagang makanan dan minuman dapat merasakan keuntungan dari pengunjung yang berhenti untuk makan atau beristirahat, pengemudi bentor menghadapi situasi yang lebih kompleks. Pengunjung memang semakin banyak, tetapi pilihan aktivitas wisata juga semakin beragam.
Dalam percakapan di lapangan, seorang pengemudi bentor menyampaikan bahwa penumpang tidak selalu ramai. Salah satu alasannya adalah wisatawan kini memiliki pilihan lain untuk menikmati kawasan, termasuk jeep tour Kota Lama.
“Sekarang pengunjung ada, tetapi tidak semuanya naik bentor. Banyak yang pilih jeep tour untuk keliling,” kurang lebih demikian gambaran yang disampaikan pengemudi bentor mengenai kondisi yang ia rasakan.
Kondisi bentor menjadi contoh bahwa perkembangan destinasi tidak selalu berarti semua jenis usaha otomatis mendapatkan keuntungan yang sama. Ketika pilihan wisata bertambah, wisatawan juga memiliki lebih banyak alasan untuk memilih satu layanan dibandingkan layanan lainnya. Bagi pengemudi bentor, situasi ini menjadi tantangan untuk mempertahankan daya tarik jasanya di tengah munculnya pengalaman wisata baru. Dengan demikian, pertumbuhan kawasan juga menuntut pelaku usaha untuk membaca perubahan perilaku wisatawan.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa revitalisasi tidak hanya membawa lebih banyak orang ke Kota Lama. Revitalisasi juga mengubah cara wisatawan bergerak dan memilih pengalaman. Bagi wisatawan, jeep tour menawarkan pengalaman berkeliling kawasan dengan cara yang berbeda. Bagi bentor, kehadiran layanan tersebut berarti munculnya persaingan baru untuk mendapatkan wisatawan yang sama. Dengan kata lain, semakin berkembangnya sebuah destinasi tidak hanya menciptakan peluang, tetapi juga membuat pelaku usaha harus beradaptasi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa bertambahnya aktivitas wisata tidak selalu berarti semua pelaku usaha mendapatkan porsi yang sama. Ketika wisatawan memiliki lebih banyak pilihan, mereka juga semakin bebas menentukan pengalaman yang ingin dicoba. Bagi sebagian usaha, perubahan ini menjadi peluang. Bagi yang lain, justru menjadi tantangan baru.
Pada akhirnya, perubahan tersebut memperlihatkan bahwa wajah baru Kota Lama bukan hanya soal bangunan yang lebih tertata. Ada perubahan pada pola kunjungan, aktivitas wisata, hingga peluang usaha yang muncul di dalam kawasan. Hal-hal sederhana seperti suasana malam, keramaian akhir pekan, pedagang yang tetap berjualan, hingga wisatawan yang memilih berkeliling dengan kendaraan wisata menjadi bagian dari pengalaman Kota Lama yang sekarang.
Dari Keramaian Fisik ke Keramaian Digital
Perubahan Kota Lama juga menarik jika dilihat dari sisi pariwisata digital. Kawasan yang semakin tertata memiliki lebih banyak hal untuk diceritakan. Bangunan bersejarah, suasana malam, aktivitas wisata, hingga pengalaman pengunjung dapat berubah menjadi foto, video pendek, ulasan, dan konten media sosial.
Kota Lama kini tidak hanya ramai di jalan, tetapi juga berpeluang hadir di layar ponsel. Media digital menjadi ruang untuk mengenalkan kembali kawasan, membangun citra baru, dan menarik perhatian calon wisatawan. Ketika perhatian di dunia digital bertemu dengan keramaian di lapangan, peluang ekonomi masyarakat sekitar pun semakin terbuka.
Revitalisasi Bukan Akhir Cerita
Pada akhirnya, perubahan tersebut bukan hanya terlihat dari cerita para pelaku usaha, tetapi juga terukur dalam data. Hasil uji paired sample t-test dalam penelitian juga memperkuat adanya perubahan ekonomi tersebut. Nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,001, lebih kecil dari 0,05. Artinya, terdapat perbedaan yang signifikan antara pendapatan pedagang sebelum dan sesudah revitalisasi. Angka tersebut membuat cerita Kota Lama menjadi lebih dari sekadar kisah tentang bangunan lama yang diperbaiki.
Angka ini memperkuat apa yang sudah terlihat di lapangan bahwa revitalisasi tidak hanya mengubah wajah Kota Lama, tetapi juga diikuti perubahan pada kondisi ekonomi sebagian pelaku usaha di sekitarnya.
Kota Lama akhirnya memperlihatkan bahwa revitalisasi bukan hanya soal membuat kawasan terlihat lebih menarik. Di balik ramainya pengunjung, ada pedagang yang mendapatkan peluang, ada bentor yang harus menghadapi persaingan baru, dan ada masyarakat yang perlu beradaptasi dengan wajah wisata yang terus berubah.
Kota Lama sudah kembali dilihat. Tantangannya sekarang adalah memastikan keramaian tersebut tidak berhenti sebagai pemandangan, tetapi benar-benar mengalir menjadi manfaat bagi masyarakat Krembangan. Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah kawasan wisata bukan hanya tentang seberapa ramai tempat itu dikunjungi. Dan pertanyaan yang lebih penting untuk saat ini adalah “siapa yang ikut tumbuh ketika keramaian itu datang?”
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
