Berkas yang Berserak, Menanti Sentuhan Arsiparis
Eduaksi | 2026-09-16 16:23:20
Kertas berkas itu berserak melantai, terbengkalai dalam sunyi, seolah sedang menanti sentuhan sepasang tangan yang datang untuk menyelamatkan mereka dari kesepian.
Mereka menanti kasih sayang, ditata, diberi kode klasifikasi, disusun, diberi tempat bersandar berdasarkan retensinya dan nilainya, lalu disimpan dengan rapi di dalam filling cabinet arsip.
Tenang bos, berkas itu bukan untuk dilelang.
Ia hanya sedang menunggu seseorang yang tahu bahwa selembar kertas bukan sekadar berkas kosong semata. Di dalamnya mungkin tersimpan Surat Keputusan, pertanggungjawaban, sejarah sebuah lembaga, bahkan jejak memori perjalanan bangsa.
Seseorang yang dimaksud adalah Arsiparis.
Dengan ketelitian, pengetahuan, dan keterampilan, Arsiparis mengubah tumpukan menjadi susunan, mengubah kekacauan menjadi keteraturan, dan mengubah berkas yang nyaris terlupakan menjadi informasi yang mudah ditemukan kembali ketika dibutuhkan.
Namun, ironisnya, di banyak perkantoran maupun dunia usaha, pemandangan kertas berserakan masih menjadi cerita yang berulang. Berkas-berkas menumpuk di sudut ruangan, memenuhi kardus, berakhir di gudang, bahkan tak jarang ditempatkan di ruang yang sejatinya jauh dari layak untuk menyimpan sebuah rekam jejak kelembagaan.
Padahal, berkas-berkas itu lahir dari proses yang tidak sederhana.
Ada hasil rapat di baliknya. Ada laporan perjalanan dinas. Ada laporan hasil kegiatan. Ada tanda tangan. Ada laporan keuangan, ada laporan kepegawaian, ada anggaran yang dikeluarkan. Ada waktu, tenaga, pikiran, dan tanggung jawab yang dipertaruhkan untuk menciptakan arsip.
Lalu, setelah tahun anggaran berakhir dan audit selesai, ke mana semua itu pergi?
Apakah cukup dimasukkan ke dalam karung, dipindahkan ke gudang, kemudian dibiarkan menunggu waktu hingga kertasnya menguning, merapuh dan debu menutupi namanya?
Tentu tidak.
Arsip memiliki siklus hidupnya sendiri. Ia harus dikelola, diklasifikasikan, dipelihara, diamankan, disusutkan sesuai ketentuan, dan pada saat tertentu dapat menjadi sumber informasi yang sangat berharga.
Di sinilah Arsiparis memiliki peran yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Sayangnya, jumlah pejabat fungsional Arsiparis di sejumlah instansi masih belum sebanding dengan kebutuhan pengelolaan arsip yang begitu besar. Keterbatasan sumber daya manusia di bidang kearsipan akhirnya membuat sebagian pekerjaan pengelolaan arsip berjalan seadanya.
Bukan karena arsip tidak penting.
Barangkali karena orang yang ditugaskan untuk menjaganya belum jatuh cinta untuk menyayanginya.
Atau mungkin, profesi yang setiap hari menjaga ingatan lembaga itu sendiri belum sepenuhnya ditempatkan pada posisi yang semestinya.
Sungguh sebuah ironi.
Kita begitu serius menjaga angka dalam laporan keuangan, begitu teliti menghitung setiap rupiah anggaran, tetapi terkadang lupa bahwa dokumen yang membuktikan perjalanan angka-angka itu juga membutuhkan penjaga.
Kita membutuhkan Arsiparis bukan hanya ketika dokumen lama dicari, auditor datang, atau sebuah berkas tiba-tiba menjadi penting.
Kita membutuhkannya setiap hari.
Sebab arsip adalah ingatan organisasi. Dan Arsiparis adalah salah satu penjaga ingatannya.
Karena itu, berbicara tentang kearsipan seharusnya tidak berhenti pada lemari, kardus, rak, ruang penyimpanan, atau aplikasi digital. Kita juga perlu berbicara tentang manusia yang bekerja di baliknya...
Tentang kompetensinya...
Tentang pengembangan kariernya....
Tentang penghargaan terhadap profesinya.
Dan tentu saja, tentang kesejahteraannya.
Sebab bagaimana mungkin kita berharap seseorang menjaga arsip dengan penuh tanggung jawab, jika pekerjaan yang menjaga ingatan sebuah lembaga justru masih dipandang sebelah mata...
Arsiparis bukan sekadar orang yang “merapikan kertas”.
Mereka adalah pengelola informasi, penjaga bukti, dan perawat memori kelembagaan.
Maka sudah semestinya keberadaan mereka diperkuat. Kebutuhan formasi Arsiparis perlu dihitung berdasarkan beban kerja. Kompetensi perlu terus dikembangkan. Sarana dan prasarana kearsipan perlu dibenahi. Digitalisasi harus berjalan beriringan dengan tata kelola yang benar.
Dan yang tidak kalah penting, kesejahteraan serta penghargaan terhadap Arsiparis perlu mendapat tempat yang layak.
Sebab jangan sampai kita baru menyadari betapa pentingnya Arsiparis ketika sebuah dokumen hilang dan tak seorang pun tahu di mana harus mencarinya. Kertas-kertas yang berserak itu sebenarnya sedang bercerita.
Mereka bercerita bahwa ada pekerjaan yang belum selesai.
Mereka bercerita bahwa ada sistem yang perlu dibenahi.
Dan mungkin, diam-diam mereka juga sedang bertanya, “Kapan kami akan ditata?”
Namun di balik pertanyaan itu, ada pertanyaan lain yang jauh lebih manusiawi, “Kapan mereka yang menata kami akan benar-benar dihargai?”
Pada akhirnya, menata arsip bukan hanya perkara menempatkan kertas pada tempatnya.
Ia adalah tentang menghargai sebuah perjalanan. Dan menghargai Arsiparis berarti menghargai orang-orang yang dengan sabar menjaga agar perjalanan itu tidak hilang ditelan waktu.
Karena arsip boleh tua, kertas boleh menguning, lalu merapuh dan lemari boleh penuh.
Tetapi jangan biarkan profesi Arsiparis kehilangan tempatnya....
Arsip harus tertata. Informasi harus terjaga.
Harapannya Arsiparis harus disejahterakan...
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
