Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Diana Putri - Dosen FAPERTA UNAND

Kecil Mikrobanya, Besar Dampaknya

How To | 2026-09-14 12:38:01

Ketika mendengar kata mikroba, sebagian besar orang langsung membayangkan penyakit. Padahal, tidak semua mikroba adalah musuh. Justru, sebagian besar mikroorganisme menjadi fondasi kehidupan di bumi, terutama dalam menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan.

Data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menunjukkan bahwa lebih dari 25 persen keanekaragaman hayati dunia hidup di dalam tanah, menjadikan tanah sebagai salah satu ekosistem paling kaya di bumi. Namun ironisnya, organisme yang paling berperan justru paling jarang mendapat perhatian.

Satu gram tanah yang sehat dapat mengandung hingga satu miliar sel bakteri, puluhan ribu kelompok mikroba, serta jaringan hifa cendawan yang panjang totalnya dapat mencapai sekitar 200 meter. Bahkan, hanya sekitar 1 persen mikroorganisme tanah yang telah berhasil dikenali dan dipelajari oleh para ilmuwan. Artinya, masih terdapat "dunia tak kasatmata" yang menyimpan potensi luar biasa untuk mendukung pertanian dan kesehatan lingkungan.

Bagi tanaman, mikroba adalah mitra yang sangat penting. Mereka menguraikan bahan organik menjadi unsur hara, membantu penyerapan nitrogen dan fosfor, memperbaiki struktur tanah, serta meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air. Tanpa aktivitas mikroba, proses daur ulang unsur hara akan terhambat dan kesuburan tanah akan terus menurun.

Lebih dari itu, mikroba juga menjadi "dokter" sekaligus "pengawal" bagi tanaman. Berbagai bakteri dan cendawan menguntungkan mampu menekan perkembangan patogen melalui kompetisi ruang dan nutrisi, menghasilkan senyawa antimikroba, hingga merangsang sistem ketahanan tanaman. Pendekatan ini dikenal sebagai pengendalian hayati dan kini semakin berkembang sebagai bagian dari pertanian berkelanjutan.

Sayangnya, praktik budidaya modern sering kali justru mengganggu keseimbangan kehidupan mikroba. Pengolahan tanah secara intensif, penggunaan pestisida yang berlebihan, dan rendahnya pengembalian bahan organik menyebabkan populasi mikroorganisme bermanfaat menurun. Akibatnya, tanah kehilangan fungsi biologisnya dan tanaman menjadi semakin bergantung pada input kimia.

Kondisi tersebut menjadi tantangan besar ketika dunia menghadapi perubahan iklim dan kebutuhan pangan yang terus meningkat. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan populasi dunia akan mendekati 10 miliar jiwa pada tahun 2050, sehingga produksi pangan harus meningkat secara signifikan. Meningkatkan produksi tidak cukup hanya dengan menambah pupuk atau pestisida, tetapi juga dengan menjaga kesehatan tanah sebagai ekosistem hidup yang ditopang oleh mikroorganisme.

Di Indonesia, potensi mikroba lokal sesungguhnya sangat besar. Hutan tropis, lahan pertanian, hingga tanaman endemik menyimpan kekayaan mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati, agen pengendali hayati, maupun sumber senyawa bioaktif baru. Berbagai penelitian di perguruan tinggi telah membuktikan bahwa bakteri dan cendawan lokal mampu menekan penyakit tanaman sekaligus meningkatkan pertumbuhan tanaman. Tantangannya kini adalah bagaimana hasil penelitian tersebut dapat dihilirisasikan sehingga memberi manfaat nyata bagi petani.

Rrevolusi pertanian masa depan bukan hanya tentang kecerdasan buatan, drone, atau sensor digital. Revolusi sesungguhnya juga terjadi di bawah permukaan tanah, pada kehidupan miliaran mikroba yang bekerja setiap detik menjaga keseimbangan ekosistem.

Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap mikroba. Tidak semua harus dimusnahkan. Sebaliknya, mikroba yang bermanfaat perlu dijaga, dimanfaatkan, dan dikembangkan sebagai bagian dari solusi menuju pertanian yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.

Karena pada akhirnya, makhluk yang tidak kasatmata itulah yang menjadi penyangga ketahanan pangan kita. Ukurannya memang kecil, tetapi dampaknya sangat besar.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image