Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image

Integritas Seorang Pemimpin

Agama | 2026-09-09 08:13:56

Oleh Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

(Founder Insani Leadership)

Michael Duke, CEO Walmart International, dalam rapat para pemegang saham, menyatakan, “Integritas adalah fondasi kami.”

Duke berbicara tentang kultur perusahaan yang dibangunnya di atas fondasi integritas. Sebuah narasi yang meyakinkan. Namun, beberapa waktu kemudian, Anda tahu apa yang terjadi? Dokumen Walmart menunjukan Michael Duke telah mengubah mekanisme dan cara penghitungan bonus perusahaan yang menguntungan dirinya dan pimpinan elit perusahaan. Pada saat yang sama tidak adil bagi para karyawan. Disparitas bonus pun menjadi sangat jomplang dan menganga lebar.

Integritas adalah keselarasan antara perkataan dan perbuatan. Walk the talk. Melakukan apa yang dikatakan. Begitu Duke mengubah aturan perusahaan untuk menguntungkan dirinya dan kelompok elitnya, seketika reputasinya runtuh. Karyawan menjadi tidak percaya lagi. Inilah pertaruhan mahal yang harus dibayar bagi seorang pemimpin yang mempermainkan integritas.

Dalam dunia militer, ada aturan baku tentang kewajiban mematuhi perintah komandan. Jika meneliti lebih dalam, selain harus dibaca dalam konteks situasi perang, para komandan militer ditempa sedemikian rupa agar hanya mengatakan situasi yang sebenarnya saat memberikan perintah kepada bawahan. Ini tentang integritas seorang perwira militer. Atas dasar inilah, pasukan diwajibkan mematuhi perintah komandan.

Apakah ada potensi keliru? Jelas terbuka. Seorang komandan bisa saja salah dalam membaca dan menganalisis situasi, sehingga perintahnya pun menjadi keliru. Namun demikian, poinnya adalah seorang komandan membaca dan menganalisis situasi dalam konteks untuk keselamatan bersama. Maka itu, kekeliruan itu persoalan yang bisa dimaklumi. Itu adalah kekeliruan manusiawi.

Berbeda halnya dengan yang dilakukan Duke. Ia dengan sengaja atas dasar kewenangannya memerintahkan dewan komite yang diketuainya agar mengubah peraturan perusahaan untuk kepentingan diri dan kelompok elit perusahaan. Ini jelas kekeliruan yang tidak bisa dimaklumi.

Nilai kepemimpinan diukur dari sejauh mana perkataan seorang pemimpin selaras dengan perbuatan. Inilah yang akan melahirkan keteladanan dan kemudian kepercayaan. Mari kita belajar kepada Rasulullah tentang integritas seorang pemimpin.

Pada periode dakwah jahriyah yang dimulai tahun keempat bi’tsah, para tokoh elit Quraisy semakin frustasi atas perkembangan dakwah Islam. Kian hari kian banyak orang yang masuk Islam. Mereka kemudian menjalankan satu strategi untuk menghentikan dakwah Islam. Caranya adalah menghentikan langsung motor penggerak utamanya.

Para tokoh elit Quraisy melobi Rasulullah dengan mengajukan penawaran yang sangat menarik jika ditinjau dari hawa nafsu manusiawi. Mereka mendatangi Rasulullah dan melobi dengan memberikan tawaran berikut ini:

1. Memberikan kekuasaan tertinggi dalam struktur suku Quraisy

2. Memberikan harta berlimpah yang menjadikan Rasulullah sebagai orang terkaya

3. Menikahkan perempuan-perempuan tercantik Quraisy kepada Rasulullah

Anda perhatikan, lobi politik sangat menarik yang bisa melemahkan seorang pemimpin dengan ambisi kekuasaan dan harta. Tawaran menggiurkan yang bisa meluluhkan mentalitas seorang panglima. Pemikat memesona yang bisa membuat kesatria luluh jiwanya.

Namun sayangnya, para tokoh elit Quraisy lupa berhadapan dengan Rasulullah. Sejak sebelum kerasulan saja, Muhammad muda dikenal dengan sifat amanahnya, sehingga dijuluki al-Amin (orang yang terpercaya). Terang saja lobi politik dan tawaran menggiurkan para tokoh elit Quraisy itu ditolak mentah-mentah oleh Rasulullah.

Secara elegan Rasulullah menegaskan, “Aku tidaklah seperti yang kalian pikirkan. Aku tidak datang kepada kalian untuk mencari kekayaan, kehormatan, atau kekuasaan atas kalian. Sejatinya, Allah mengutusku kepada kalian sebagai seorang rasul dan menurunkan kitab kepadaku. Dia memerintahkanku untuk menjadi pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada kalian. Maka itu, aku menyampaikan risalah Tuhanku dan memberi nasihat kepada kalian. Jika kalian menerima apa yang telah aku bawa, maka itu akan menjadi keberuntungan bagi kalian di dunia dan akhirat. Akan tetapi, jika kalian menolaknya, aku akan bersabar menunggu perintah Allah sampai Dia menetapkan keputusan antara aku dan kalian.”

Itulah integritas. Ketika nilai dan prinsip tidak bisa dibeli dengan harta, tahta, dan wanita. Keteguhan memperjuangkan kebenaran meski penuh onak duri dalam perjalanan. Keselarasan sikap dan perbuatan dengan apa yang didakwahkan.

Itulah yang menjadikan Rasulullah sebagai pemimpin yang memiliki wibawa sangat kuat. Integritas merupakan cara efektif membangun kepercayaan tim. Apa yang membuat tim berjuang maksimal tanpa merasa khawatir perjuangan mereka akan dikhianati dan sekadar dimanfaatkan oleh pemimpinnya? Adalah integritas seorang pemimpin.

Tim yang menyaksikan langsung bagaimana sikap pemimpinnya dalam menjaga nilai dan prinsip saat dihadapkan pada godaan menggiurkan di depan mata mata akan melahirkan kepercayaan dan kesetiaan tim kepada pemimpinnya. Integritas seorang pemimpin akan melahirkan budaya organisasi yang positif. Ia juga akan mendorong produktivitas untuk meraih kesuksesan berkelanjutan.

Bani Maulana Mulia, CEO Samudera Indonesia, menolak peluang memperoleh transaksi bisnis dengan nilai besar jika harus ditebus dengan melakukan suap atau uang pelican. Integritas seorang pemimpin menjadi modal utama Samudera Indonesia untuk membangun reputasi solid perusahaan, menjaga loyalitas pelanggan, dan pada akhirnya melahirkan kesuksesan berkelanjutan.

Hasilnya, Samudera Indonesia telah beroperasi hampir 80 tahun. Tumbuh menjadi perusahaan grup logistik dan pelayaran dengan 178 entitas anak usaha strategis. Samudera Indonesia menangani hampir 1 juta TEU kargo setiap semesternya. Demikianlah buah dari integritas kepemimpinan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image