Visi Seorang Pemimpin
Agama | 2026-09-01 22:51:22
Oleh Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
Pada tahun ke-5 hijriah negara Madinah mendapatkan ancaman serius. Kaum kafir Quraisy melakukan koalisi dengan suku-suku di sekitar Madinah untuk menyerang kaum Muslimin di Madinah. Terhimpunlah pasukan ahzab (sekutu) dengan jumlah yang besar. Secara kalkulasi matematika pasukan sekutu akan mampu meluluh lantakkan Madinah.
Menghadapi ancaman serangan mematikan dari pasukan sekutu, Rasulullah segera melakukan musyawarah bersama para sahabat. Singkat cerita, disepakatilah usulan Salman al-Farisi untuk menggali parit mengitari sisi selatan Madinah yang merupakan satu-satunya jalur masuk Madinah yang terbuka. Pada tulisan ini, saya tidak hendak membahas jalannya dan ending perang ahzab. Saya ingin meng-capture sebuah momen yang menunjukkan kekuatan visi seorang pemimpin.
Saat proses penggalian parit, para sahabat tidak mampu menghancurkan batu besar yang menghalangi penggalian. Para sahabat melapor kepada Rasulullah. Kemudian, Rasulullah mengangkat palu godamnya seraya bertakbir dan mengucapkan, “Aku diberikan kunci-kunci negeri Syam. Aku melihat istana merahnya.”
Rasulullah menghantamkan palu kedua kalinya pada batu besar itu, bertakbir dan berucap, “Aku diberikan kunci Persia. Aku melihat istana putihnya.” Rasulullah menghantamkan kembali palu ke batu besar itu ketiga kalinya seraya bertakbir dan berucap, “Aku diberikan kunci-kunci Yaman. Aku melihat gerbang-gerbang kota Shan’a.” Batu besar dan keras itu hancur berkeping-keping.
Mari kita bahas pernyataan Rasulullah tersebut dari perspektif kepemimpinan. Anda bayangkan kaum Muslimin ketika itu dalam kondisi genting. Mendapatkan ancaman serangan mematikan dari pasukan sekutu. Psikologis para sahabat pasti terguncang dan dalam tekanan. Mereka dikejar target untuk menyelesaikan menggali parit sebelum pasukan sekutu datang.
Dalam situasi seperti itulah, Rasulullah sebagai pemimpin memahami suasana psikologis kaum Muslimin. Maka itu, Rasulullah membakar semangat kaum Muslimin dengan mengucapkan tiga kalimat penting tentang gambaran masa depan. Ini menjelaskan tentang visi seorang pemimpin. Seolah Rasulullah hendak memberikan garansi, “Kalian jangan cemas. Insya Allah kalian akan melewati situasi genting ini. Karena, kalian akan mendakwahkan Islam terus meluas, bahkan hingga ke negeri Syam, Persia, dan Yaman.”
Orang beriman sangat menyakini masa depan itu ada dalam genggaman Allah. Dia Mahakuasa memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mencabutnya dari siapa yang Dia kehendaki. Dan, itu sangat mudah bagi Allah. Inilah hukum yang dipergilirkan Allah dari masa ke masa.
Karena itu, kaum Muslimin terbakar semangatnya. Meyakini kabar gembira Rasulullah tentang gambaran masa depan yang gemilang. Kemudian, para sahabat berjuang segenap upaya untuk merealisasikannya. Bahkan, visi besar peradaban Islam itu terus terwariskan dari generasi ke generasi.
Mari kita pikirkan, dalam situasi terjepit, apa yang akan membuat sebuah organisasi tetap bersemangat berjuang? Harapan. Adanya harapan masa depan yang lebih baik, bahkan gemilang. Dan, harapan itu bisa dibaca pada visi seorang pemimpin. Karena, dari situlah bisa dibaca akan dibawa ke mana arah dan laju gerak organisasi atau perusahaan.
Mungkin pada saat visi itu diucapkan oleh seorang pemimpin, sama sekali belum terlihat tanda-tandanya. Itulah yang membuat orang-orang Yahudi tertawa dan meledek saat mendengar visi peradaban Islam yang dinyatakan Rasulullah. Dalam logika orang-orang Yahudi, kaum Muslimin bermimpi terlalu jauh. Nyatanya sekarang mereka dalam ancaman pasukan sekutu yang mematikan. Kok ya, berbicara pembebasan Syam, Persia, dan Yaman. Dari mana hitung-hitungannya. Ternyata sejarah mencatat kaum Muslimin berhasil membebaskan Syam, Persia, dan Yaman.
Mari kita beralih ke dunia bisnis. Bagaimana pentingnya visi seorang pemimpin terhadap laju gerak perusahaan. Anda pengguna laptop Apple? Anda tahu kisah awal Steve Wozniak dan Steve Jobs mendirikan dan membangun Apple? Bermula dari mimpi, lebih tepatnya visi atau gambaran masa depan yang ingin direalisasikan. Wozniak dan Jobs membayangkan komputer pribadi (laptop) ada di meja-meja setiap orang dan bisa dibawa kemana-mana. Sehingga, setiap orang bisa melakukan pekerjaannya dengan lebih mudah dan praktis tanpa harus tetap berada di kantor.
Visi itulah yang menggerakan Wozniak dan Jobs untuk memproduksi komputer pribadi, yang kemudian diberi nama Apple. Keduanya memulai dengan memproduksi Apple I dari sebuah garasi rumah. Dirakit dengan tangan langsung. Tidak ada teknologi pabrikasi dengan modal besar. Semua dimulai dari kecil dan modal sangat terbatas.
Wozniak dan Jobs kemudian memproduksi Apple II perbaruan dari Apple I, yang kemudian memperoleh respon pasar luar biasa. Apple terus melakukan perbaruan terhadap produknya. Anda paham kemudian Apple menjelma menjadi perusahaan kelas dunia dengan produk utama komputer pribadi. Bahkan, kemudian melakukan diversifikasi dengan mengeluarkan produk-produk Apple lainnya, seperti iPhone, iPad, dan Apple watch.
Sekarang Anda renungkan, pernahkah Anda melakukan perjalanan, namun tidak memiliki tujuan? Kira-kira apa yang akan terjadi? Kemungkinan Anda hanya akan berputar-putar dan tidak akan pernah sampai tujuan. Karena, Anda sendiri tidak tahu tujuannya mau ke mana.
Selain itu, Anda juga berpotensi melakukan hal-hal yang tidak penting selama dalam perjalanan. Karena tidak ada tujuan, maka Anda tidak bisa memilah dan memilih mana hal penting yang harus dilakukan untuk sampai tujuan dan mana yang tidak penting.
Jika dalam konteks perjalanan saja tujuan sangat penting, apatah lagi dalam konteks organisasi atau perusahaan. Tujuan besar yang ingin dicapai pada masa depan, itulah visi. Visi akan memandu organisasi atau perusahaan melakukan perjalanan dengan benar. Tidak tergoda belok kanan dan kiri yang akan menjauhkannya dari visi meski sepintas menarik pandangan. Konsisten meniti langkah demi langkah menuju visi.
Maka itu, bayangkan jika ada organisasi atau perusahaan melakukan perjalanan, namun terlupa tidak merumuskan tujuan besar atau visinya. Apa yang akan terjadi? Berjalan tak tentu arah. Mungkin organisasi atau perusahaan model ini terlihat sibuk dan padat aktivitasnya, namun tidak akan mengantarkan mereka ke mana-mana.
Mereka hanya akan berputar-putar melakukan rutinitas. Apa yang menarik dilihat di tengah perjalanan, itulah yang dilakukan. Energinya habis melakukan aktivitas parsial. Namun, bukan laiknya potongan puzzle yang pada akhirnya membentuk pola utuh.
Karena itu, ada baiknya setiap organisasi atau perusahaan berhenti sejenak. Keluar dari jebakan rutinitas. Kemudian, merumuskan dengan matang arah dan visi organisasi atau perusahaannya. Visi laiknya peta yang akan memandu organisasi atau perusahaan berjalan sesuai rute yang benar. Memastikan setiap aktivitas yang dilakukan mengarah kepada pencapaian visi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
