Biadab! Serangan Zionis Israel Menarget Anak-anak Palestina
Politik | 2026-09-01 13:03:29
Oleh Wiwin
Sahabat Literasi
Derita rakyat Palestina belum sirna, genosida yang dilakukan oleh Zionis Yahudi masih masif, bahkan semakin biadab, mereka menargetkan anak-anak Palestina. Sejak Januari 2024 sampai Juli 2026, PBB memverifikasi kematian 174 anak Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Artinya, anak-anak yang tewas lebih dari satu orang setiap minggunya. Lebih dari 1.500 anak mengalami luka-luka, dengan hampir separuhnya terluka akibat peluru tajam. Dan ada 355 anak Palestina dari Tepi Barat sedang ditahan dalam tahanan militer Israel (Republika, Rabu 12/8/26).
Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, Hannan Sulieman menyatakan bahwa pola serangan Zionis adalah dengan memaksa warga Palestina untuk meninggalkan tempat tinggalnya sebelum pemukim ilegal (warga Israel) mengambil alih lahan tersebut. Serangan terus dilakukan dan semakin luas. Pada tahun 2026 saja, 3800 warga Palestina kehilangan tempat tinggal akibat kekerasan, pembongkaran rumah dan penggusuran. Sehingga rumah, ruang kelas, jalanan menjadi tempat yang tidak aman bagi warga Palestina khususnya anak-anak.
Kejahatan Zionis Israel terhadap anak-anak Palestina terbukti sangat biadab dan brutal. Mereka menyasar anak-anak demi menghapus warga Palestina sampai akarnya dari tanah airnya. Kondisi tidak aman ini menimbulkan trauma, penderitaan dan kerusakan nyata bagi anak2 Palestina. Padahal anak-anak Palestina mempunyai hak yang sama dengan anak-anak manapun. Hak untuk hidup, belajar, dilindungi dan masa depan yang bebas dari kekerasan dan ketakutan.
Kekerasan terhadap anak-anak Palestina bukan insiden sporadis melainkan bagian dari situasi yang terus diulang. Zionis sengaja meningkatkan teror, ribuan serangan, pengusiran, perampasan dan genosida dalam senyap untuk menguasai Tepi Barat sebagaimana mereka berhasil menguasai Gaza.
Kejahatan Zionis pada anak-anak Palestina harus dilawan, sayangnya dunia dan para penguasa di negeri muslim justru bungkam dan tak berani memerangi Zionis Israel. PBB didesak untuk melindungi anak-anak dari penjajahan pemukim dan militer Zionis, tetapi tidak ada langkah nyata dilakukan. Seakan-akan PBB mati kutu menghadapi Zionis Israel dan sekutunya Amerika Serikat. Para penguasa negeri Muslim pun setali tiga uang, hanya mengecam dan merasa prihatin. Mereka jelas terlihat tunduk pada politik global Amerika Serikat.
Ketidakpedulian para penguasa muslim kepada warga Palestina akibat tunduk pada Amerika Serikat merupakan sebuah keharaman, karena Islam melarang pembiaran kejahatan pada anak-anak dan kemanusiaan secara total. Hal ini tercantum dalam QS An Nisa ayat 75, dimana Allah SWT bertanya kepada kaum muslim, "Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah dari (kalangan) laki-laki, perempuan dan anak-anak yang berdoa, Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekkah) yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu dan berilah kami penolong dari sisi-Mu".
Akar masalah pada kaum muslim adalah terpecahnya mereka oleh sekat nasionalisme sehingga tidak peduli pada kaum muslim di negara lain yang menderita. Maka Ukhuwah Islam atau persatuan negeri-negeri muslim dalam satu kepemimpinan sangat mendesak untuk diwujudkan. Kepemimpinan kaum muslim hanya dapat tegak dalam bentuk pemerintahan khilafah, negara yang menerapkan syariat Islam sebagai undang-undangnya. Dengan adanya khilafah, maka akan terwujud angkatan perang yang siap melawan dan mengusir Zionis Israel dan sekutunya dari tanah Palestina.
Anak-anak Palestina membutuhkan kepemimpinan yang mampu menempatkan keselamatan umat dan pembebasan kaum muslim dari penjajahan, sebagai bentuk tanggung jawab politik. Saat ini, khilafah belum tegak, maka kaum muslim harus terus dipahamkan bahwa hanya jihad dan pengiriman tentara Islam, solusi untuk membebaskan Palestina, bukan gencatan senjata atau solusi dua negara.
Wallahu a'lam bisshawab.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
