Belajar Memahami Manusia dari Tiga Pendekatan Psikologi
Update | 2026-08-30 16:52:23Bayangkan kita mendapatkan kesempatan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara gratis. Tidak perlu mengeluarkan biaya, layanan sudah tersedia, dan pemeriksaan tersebut penting untuk mengetahui kondisi kesehatan sejak dini.
Secara logika, seharusnya tidak ada alasan untuk menolaknya.
Namun, kenyataannya tidak selalu demikian.
Selama kurang lebih tiga tahun menjadi PIC program Selangkah, sebuah program screening kanker payudara gratis bagi perempuan, saya menemukan hal yang menarik. Banyak masyarakat merasa terbantu karena mendapatkan akses pemeriksaan yang cukup mahal jika dilakukan secara mandiri. Namun, tidak sedikit pula perempuan yang memilih tidak melakukan pemeriksaan karena takut mengetahui hasilnya.
Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa perilaku manusia tidak sesederhana apa yang terlihat. Seseorang dapat mengetahui bahwa sesuatu baik bagi dirinya, memiliki akses, bahkan tidak perlu membayar, tetapi tetap memilih untuk tidak melakukannya.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di balik sebuah pilihan manusia?
Pertanyaan ini menjadi menarik ketika saya mempelajari mata kuliah Tingkah Laku Manusia. Tiga pendekatan psikologi (psikoanalisis, behavioristik, dan humanistik) memberikan cara pandang yang berbeda dalam memahami manusia. Bagi saya, ketiganya bukan hanya teori, tetapi memiliki legacy yang masih relevan dalam praktik pekerjaan sosial.
Psikoanalisis: Melihat yang Tidak Tampak
Psikoanalisis memberikan pemahaman bahwa perilaku manusia tidak selalu dapat dijelaskan dari apa yang terlihat. Pengalaman masa lalu, konflik batin, dan kecemasan dapat memengaruhi cara seseorang berpikir dan bertindak.
Jika dikaitkan dengan pengalaman di Selangkah, perempuan yang menolak screening tidak serta-merta dapat dianggap tidak peduli terhadap kesehatannya. Bisa jadi terdapat ketakutan atau kecemasan yang lebih dalam terhadap kemungkinan hasil pemeriksaan.
Legacy penting dari pendekatan ini bagi saya adalah belajar untuk tidak terburu-buru menilai perilaku seseorang sebelum memahami apa yang ada di baliknya.
Behavioristik: Lingkungan Membentuk Perilaku
Berbeda dengan psikoanalisis, behavioristik memberikan perhatian besar pada perilaku yang dapat diamati serta pengaruh lingkungan, pengalaman belajar, stimulus, dan konsekuensi terhadap perilaku tersebut.
Dalam program Selangkah, pemberian layanan secara gratis dapat dilihat sebagai upaya mengurangi salah satu hambatan masyarakat untuk melakukan screening. Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa menghilangkan hambatan biaya belum tentu cukup. Masih ada hambatan lain, seperti ketakutan terhadap hasil pemeriksaan.
Legacy behavioristik mengajarkan bahwa perubahan perilaku tidak hanya bergantung pada individu, tetapi juga pada kondisi lingkungan yang membentuk dan memengaruhinya.
Humanistik: Melihat Manusia sebagai Subjek
Pendekatan humanistik membawa pemahaman yang berbeda. Manusia dipandang sebagai pribadi yang memiliki martabat, pengalaman, pilihan, dan potensi untuk berkembang.
Perspektif ini mengingatkan saya bahwa penerima manfaat program bukan sekadar “target” yang harus mengikuti program. Dalam konteks Selangkah, perempuan tetap memiliki perasaan, kekhawatiran, dan hak untuk menentukan keputusan terhadap dirinya sendiri.
Karena itu, intervensi tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa screening itu penting. Kita juga perlu menciptakan kondisi yang membuat seseorang merasa aman, mendapatkan informasi yang cukup, dan mampu mengambil keputusan secara sadar.
Di sinilah saya melihat hubungan yang kuat antara pendekatan humanistik dengan pemberdayaan dalam pekerjaan sosial.
Dari Teori Menuju Praktik Pekerjaan Sosial
Ketiga pendekatan tersebut akhirnya memberikan tiga cara pandang yang saling melengkapi.
Psikoanalisis mengajarkan kita untuk melihat lebih dalam.
Behavioristik mengajarkan kita untuk melihat pengaruh lingkungan dan proses belajar.
Humanistik mengajarkan kita untuk melihat manusia dengan martabat, pilihan, dan potensinya.
Bagi praktik pekerjaan sosial, ketiganya menjadi penting karena intervensi tidak dapat hanya berfokus pada masalah yang terlihat. Pekerja sosial perlu memahami individu sekaligus lingkungan yang memengaruhinya.
Hal ini sejalan dengan tujuan pekerjaan sosial untuk mencegah disfungsi sosial, memulihkan keberfungsian sosial, memperkuat ketahanan sosial, serta mendorong pemberdayaan dan pengembangan masyarakat.
Pengalaman di Selangkah membuat saya semakin menyadari bahwa menyediakan layanan belum tentu sama dengan membuat seseorang siap menerima layanan tersebut.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
