Ketika Hutan Terbakar, Rumah Para Satwa Ikut Hilang
Info Terkini | 2026-08-30 15:49:54Kalimantan dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki hutan dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Hutan di pulau ini bukan hanya menjadi tempat tumbuhnya berbagai jenis tumbuhan, tetapi juga menjadi rumah bagi banyak satwa, seperti orangutan Kalimantan, bekantan, beruang madu, burung enggang, dan berbagai jenis satwa lainnya. Namun, ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi, rumah bagi satwa-satwa tersebut ikut terancam.
Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya menghasilkan asap yang mengganggu manusia. Api juga menghancurkan pepohonan, sumber makanan, tempat berlindung, serta jalur yang digunakan satwa untuk berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain. Kerusakan tersebut membuat satwa kehilangan tempat hidup dan terpaksa mencari wilayah baru untuk bertahan hidup. Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah menyebutkan bahwa kerusakan habitat akibat karhutla dapat menyebabkan satwa kehilangan tempat berlindung, sumber makanan, dan lokasi berkembang biak.
Salah satu satwa yang sangat terdampak adalah orangutan Kalimantan. Satwa ini sangat bergantung pada hutan untuk mencari makanan, berlindung, dan berkembang biak. Ketika habitatnya terbakar, orangutan dapat terdorong keluar dari kawasan hutan dan mendekati perkebunan atau permukiman manusia.
Hal tersebut terlihat dalam kejadian di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada Agustus 2026. Tiga orangutan ditemukan berada di kawasan perkebunan yang berbatasan dengan permukiman setelah kebakaran menghanguskan bagian hutan yang menjadi jalur pergerakan mereka. Sumber makanan ikut hilang dan jalur menuju kawasan hutan lainnya terputus. Ketiga orangutan tersebut kemudian dievakuasi oleh tim gabungan untuk dipindahkan ke tempat yang lebih aman.
Bukan hanya orangutan yang menghadapi ancaman. Bekantan, burung enggang, beruang madu, trenggiling, hingga beberapa jenis ikan yang bergantung pada ekosistem gambut juga dapat terkena dampak kerusakan habitat. Kebakaran yang terjadi berulang kali dapat membuat habitat semakin terpecah dan mengurangi kemampuan ekosistem untuk pulih secara alami.
Masalahnya, ketika hutan terbakar, kehilangan yang terjadi tidak selalu berakhir ketika api berhasil dipadamkan. Pohon yang menjadi sumber makanan membutuhkan waktu untuk tumbuh kembali. Kawasan yang menjadi tempat berlindung juga membutuhkan waktu untuk pulih. Sementara itu, satwa harus tetap bertahan hidup dan mencari makanan di tengah habitat yang semakin terbatas.
Kebakaran hutan di Kalimantan pada 2026 menunjukkan bahwa persoalan ini masih menjadi ancaman serius. Pemerintah bahkan meningkatkan upaya pemadaman di sejumlah wilayah Kalimantan karena kebakaran meluas di kawasan hutan dan lahan gambut. Kondisi kering dan cuaca yang mendukung penyebaran api membuat risiko kebakaran semakin besar.
Karena itu, menjaga hutan bukan hanya berarti menjaga pepohonan. Menjaga hutan berarti menjaga rumah bagi berbagai makhluk hidup yang tidak dapat berbicara untuk meminta pertolongan. Ketika satu kawasan hutan hilang, yang hilang bukan hanya pemandangan hijau, tetapi juga tempat hidup, sumber makanan, dan kesempatan bagi satwa untuk bertahan hidup.
Kita mungkin tidak dapat memadamkan semua kebakaran atau menyelamatkan seluruh satwa seorang diri. Namun, kita dapat ikut menjaga lingkungan dengan tidak melakukan pembakaran sembarangan, tidak membuang benda yang dapat memicu kebakaran, serta mendukung upaya pelestarian dan pemulihan hutan.
Sebab, bagi kita hutan mungkin hanya terlihat seperti kumpulan pepohonan. Namun bagi para satwa, hutan adalah rumah. Dan ketika rumah itu terbakar, ke mana mereka harus pergi?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
