Ketika Hafalan Ad Dhuha Ditukar dengan Sebotol Newport
Medika | 2026-08-27 11:19:39Asumsi ekonomi mengenai pertukaran tidak mensyaratkan bahwa dua hal yang dipertukarkan memiliki nilai intrinsik yang sama. Pertukaran justru terjadi ketika seseorang mempersepsikan bahwa apa yang diterimanya lebih bernilai daripada apa yang harus ia lepaskan untuk mendapatkannya. Maka, ketika lantunan hafalan Ad-Dhuha dijadikan alat tukar untuk memperoleh minuman beralkohol gratis di sebuah booth sponsor konser musik, logika pertukaran itu mengusik nalar saya. Apa sebenarnya nilai yang sedang dipertukarkan di sini? Dan benarkah mereka telah memahami apa yang ada di kedua sisi pertukaran tersebut?
Dari kacamata pengandaian saya, boleh jadi pelafal Ad-Dhuha yang kini terseret dalam proses penyelidikan telah menyimpan rangkaian lafal surah itu dalam memori jangka panjang melalui repetisi bacaan sejak masa kanak. Lafalnya melekat, dapat dipanggil kembali dengan lancar, tetapi maknanya mungkin tak pernah diproses sedalam lafalnya tersimpan: kandungannya tidak sungguh ditelusuri, pesan di balik ayat-ayatnya belum terenungkan, pun kedalaman maknanya tak sampai diselami.
Dalam salah satu riwayat mengenai latar turunnya surah ini, dikisahkan bahwa wahyu sempat terhenti untuk suatu masa. Kaum Quraisy pun menjadikannya bahan ejekan, seolah Allah SWT telah meninggalkan Rasulullah SAW. Di tengah kegelisahan itulah Ad-Dhuha hadir membawa penghiburan sekaligus peneguhan akan pemeliharaan Allah SWT.
Pesan Ad-Dhuha ternyata melintasi zaman dan konteks manusia yang membacanya. Jeffrey Lang, seorang matematikawan Amerika yang pernah menjalani kehidupan sebagai ateis, misalnya, mengisahkan pengalaman emosionalnya ketika berjumpa dengan Ad-Dhuha, yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan intelektual dan spiritualnya menuju keimanan dan Islam.
Meski lekuk maknanya mungkin tak sepenuhnya terengkuh oleh mereka yang bukan penutur bahasa Arab, membaca terjemahannya saja cukup memperlihatkan bagaimana pengalaman inderawi akan fenomena alam, pengalaman batin, ingatan, harapan, dan laku sosial dirajut dalam satu alur utuh, lalu bermuara pada kesadaran dan kesyukuran akan nikmat yang hadir dalam beragam realitas kehidupan.
Surah Ad-Dhuha diawali dengan dua fenomena alam: terangnya waktu dhuha, ketika sinar matahari masih terasa lembut dan nyaman, dan malam ketika sunyi. Seolah mengajak manusia melihat bahwa terang dan gelap datang silih berganti; malam, betapapun gelap dan panjangnya terasa, bukanlah keadaan yang menetap selamanya. Dari alam, pesan kemudian bergerak ke ruang batin: “Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu”. Kegelisahan tidak disangkal, tetapi pandangan kita seperti ditarik melampaui apa yang sedang dirasakan hari ini: “yang kemudian lebih baik bagimu daripada yang terdahulu”.
Menariknya, harapan akan apa yang ada di depan kemudian ditautkan dengan ingatan akan apa yang telah dilewati: dalam konteks nabi Muhammad SAW, beliau pernah yatim lalu mendapat perlindungan, pernah mencari jalan lalu mendapat petunjuk, pernah berkekurangan lalu dicukupkan. Dalam konteks diri, rangkaian ayat tersebut seakan mengajak kita bertanya: bukankah dahulu kita juga pernah berada dalam kesulitan, lalu menemukan pertolongan? Dan pengalaman personal itu tidak berhenti menjadi penghiburan diri.
Setelah diingatkan bahwa kita pernah ditolong, kita justru diminta menoleh kepada orang lain: jangan berlaku sewenang-wenang kepada yatim dan jangan menghardik mereka yang meminta-minta. Pada akhirnya, ingatan bahwa diri pernah menerima nikmat kebaikan menjelma menjadi alasan untuk meneruskan kebaikan itu kepada sesama. Dan seluruh perjalanan tersebut bermuara pada syukur: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan.” Lantas, apa yang berada di sisi lain dari neraca pertukaran di booth Newport itu? Minuman beralkohol. Dalam pembahasan berikut, pengertian alkohol merujuk pada zat etanol.
Istilah “minuman” merujuk pada sesuatu yang secara fisiologis dapat memenuhi kebutuhan mendasar manusia akan cairan, menghilangkan dahaga, dan membantu mempertahankan hidrasi tubuh. Minuman beralkohol memang mengandung air, sehingga cairan di dalamnya tetap dapat berkontribusi terhadap asupan cairan. Namun, alkohol sendiri bukan zat yang dibutuhkan tubuh untuk mempertahankan hidrasi.
Sebaliknya, pada dosis dan kadar tertentu, alkohol dapat meningkatkan diuresis sehingga meningkatkan pengeluaran air melalui urin. Besarnya efek ini bergantung pada jumlah dan konsentrasi alkohol yang dikonsumsi serta status hidrasi seseorang. Pada konsumsi berlebihan, kehilangan cairan dapat semakin diperburuk oleh efek muntah, yang sekaligus menyebabkan hilangnya air dan elektrolit.
Mungkin nilai yang dicari adalah kalorinya? Alkohol dalam bentuk etanol memang menghasilkan energi, sekitar 7 kilokalori per gram, lebih tinggi daripada karbohidrat dan protein. Namun, energi tidak identik dengan gizi. Etanol tidak menyediakan protein, asam lemak esensial, serat, serta kelengkapan vitamin dan mineral yang diperlukan tubuh untuk mempertahankan struktur dan fungsinya. Pada konsumsi berat dan berkepanjangan, alkohol bahkan dapat menggusur asupan makanan bergizi sekaligus mengganggu pencernaan, absorpsi, penyimpanan, dan metabolisme berbagai zat gizi sehingga turut berkontribusi terhadap malnutrisi.
Ada paradoks metabolik yang menarik. Alkohol tidak mengandung lemak, tetapi konsumsinya dapat membuat hati menimbun lemak. Hati adalah organ utama yang harus bekerja mengolah alkohol yang masuk ke tubuh. Ketika alkohol dipecah di dalam sel hati, proses tersebut mengubah cara hati mengelola lemak: pembakaran lemak berkurang, sementara proses yang mendukung penumpukan lemak meningkat.
Sederhananya, yang masuk memang bukan lemak, tetapi metabolisme alkohol membuat hati lebih mudah menimbun lemak. Akibatnya, trigliserida dapat menumpuk di dalam sel hati dan terjadilah perlemakan hati. Sebagaimana pada gambar sel-sel hati tampak seperti lubang-lubang yang sebenarnya berisi tetes lemak.
Pada awalnya seseorang mungkin tidak merasakan apa-apa. Namun, jika paparan alkohol terus berlangsung, pada sebagian orang kerusakan dapat berlanjut. Sel-sel hati mengalami cedera dan peradangan, kemudian terbentuk jaringan parut sedikit demi sedikit. Ketika jaringan parut semakin luas dan mengubah struktur hati, terjadilah sirosis. Pada tahap ini persoalannya jauh lebih serius daripada sekadar “hati berlemak”. Hati adalah pabrik kimia tubuh yang mengerjakan begitu banyak fungsi penting.
Salah satunya membuat albumin, protein yang membantu mempertahankan cairan tetap berada di dalam pembuluh darah. Ketika hati yang mengalami sirosis tidak lagi mampu menjalankan fungsi ini dengan baik, kadar albumin dapat menurun. Bersama berbagai gangguan sirkulasi akibat sirosis, cairan kemudian dapat menumpuk di tungkai dan rongga perut. Perut dapat membesar karena dipenuhi cairan, suatu kondisi yang disebut asites.
Sirosis juga menghambat aliran darah yang melewati hati. Tekanan pada pembuluh darah di sekitarnya meningkat dan dapat menyebabkan terbentuknya pembuluh darah yang melebar di kerongkongan dan lambung. Pembuluh ini rapuh dan sewaktu-waktu dapat pecah. Akibatnya bisa dramatis: muntah darah atau buang air besar berwarna hitam akibat perdarahan saluran cerna.
Belum lagi fungsi hati sebagai salah satu pusat detoksifikasi tubuh. Salah satu zat yang harus ditangani hati adalah amonia, senyawa yang bersifat toksik terutama bagi otak. Dalam keadaan normal, hati mengubah amonia menjadi urea yang jauh lebih aman, untuk kemudian dibuang melalui ginjal. Ketika hati mengalami sirosis berat, kemampuan ini dapat terganggu.
Amonia dan berbagai zat toksik lainnya dapat meningkat dalam darah dan mengganggu fungsi otak. Penderitanya dapat mulai mengalami perubahan perilaku, kebingungan, mengantuk, hingga penurunan kesadaran. Kondisi ini disebut ensefalopati hepatik. Pada keadaan yang berat, penderita dapat jatuh dalam koma.
Pada sirosis tahap lanjut hingga terjadi gagal hati, cangkok hati adalah satu-satunya cara penyembuhan definitif. Sirosis juga merupakan salah satu faktor risiko utama kanker hati. Data menyebutkan hingga 20% penyalahguna alkohol berat dapat mengalami sirosis, dan sirosis yang dikaitkan dengan penggunaan alkohol merupakan penyebab kematian utama. Inikah yang ditukar dengan hafalan Ad Dhuha? Barangkali jawabannya berada di domain lain, misalnya pikiran.
Alkohol sebagai penenang atau penenung?
Dalam nomenklatur farmakologi, alkohol dikelompokkan sebagai depresan sistem saraf pusat karena memiliki efek sedatif. Alkohol memang dapat memberikan reward yang dirasakan nyata oleh peminumnya: relaksasi, berkurangnya kecemasan dan inhibisi, serta rasa lebih percaya diri, sehingga alkohol di berbagai budaya kerap dipandang sebagai lubrikan sosial. Ada manfaat subjektif yang dirasakan. Kalau tidak, tentu manusia tidak akan mencarinya. Al-Qur'an pun tidak menihilkannya: “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar (minuman keras) dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.’” (QS Al-Baqarah [2]: 219)
Tetapi pertanyaannya: berapa lama? Adakah pengalaman ini realiti atau semu belaka?
Setelah alkohol mencapai otak, yang terjadi bukan sekadar “rasa tenang”. Seiring meningkatnya kadar alkohol, fungsi kognitif seperti memori, judgment, dan kontrol perilaku mulai terganggu. Salah satu bagian otak yang terdampak adalah korteks prefrontal, bagian otak yang sangat berkembang pada manusia, yang membantu kita berpikir sebelum bertindak, menimbang konsekuensi, mengendalikan dorongan, dan mengambil keputusan.
Performa dan koordinasi motorik pun ikut terganggu. Serebelum, yang berperan penting dalam menjaga koordinasi tubuh, juga terdampak. Keseimbangan dapat memburuk, bicara menjadi tidak jelas, mual dan muntah dapat muncul. Pada intoksikasi berat, kesadaran dan fungsi vital bahkan dapat terancam. Dan ketika pesta usai, interaksi alkohol dengan tubuh belum tentu selesai. Datanglah hangover: sakit kepala, mual, lelah, rasa haus, gangguan konsentrasi, dan berbagai ketidaknyamanan yang dapat bertahan hingga keesokan hari.
Inilah paradoks “ketenangan” alkohol. Zat ini dapat membuat seseorang merasa lebih rileks, tetapi pada saat yang sama justru dapat mengurangi kemampuan otak untuk berpikir jernih dan mengendalikan diri.
Ad-Dhuha hadir dalam karakter Al-Qur'an sebagai Adz-Dzikr, pengingat yang membangunkan kembali kesadaran manusia akan dirinya, Tuhannya, dan keluhuran yang dianugerahkan kepadanya. Sedangkan alkohol justru dapat berjalan ke arah sebaliknya: semakin tinggi kadarnya, semakin teredam fungsi-fungsi luhur otak manusia.
“Ah, Alkoholnya Cuma 19,7 Persen”. Tunggu dulu. Dalam toksikologi, angka persentase pada label bukan keseluruhan cerita. Yang menentukan paparan adalah berapa banyak etanol yang benar-benar masuk, berapa volume yang diminum, seberapa cepat, seberapa sering, bagaimana pola konsumsinya, dan tubuh siapa yang menerimanya. Dan ada persoalan lain yang jauh lebih penting daripada sekadar kadar alkohol dalam satu botol: etanol adalah zat psikoaktif dengan kemampuan menimbulkan ketergantungan.
Memang tidak setiap orang yang mencoba alkohol serta-merta menjadi pecandu karena kerentanan manusia tidak seragam. Faktor genetik, psikologis, lingkungan, usia mulai mengonsumsi, serta pola paparan berinteraksi dalam menentukan risiko “gangguan penggunaan alkohol”. Belum ada prediktor yang akurat untuk menentukan siapa yang akan jatuh ke dalam kondisi adiksi. Maka pertanyaannya bukan hanya “Berapa persen alkohol dalam botol Newport ini?” tetapi juga: “Apakah botol pertama akan selalu berhenti sebagai botol pertama?” Kenyataannya, alkohol menjadi masalah kesehatan global yang serius.
WHO memperkirakan sekitar 400 juta orang berusia 15 tahun ke atas hidup dengan gangguan penggunaan alkohol, dan sekitar 209 juta orang dengan ketergantungan alkohol. Alkohol sendiri dikategorikan oleh WHO sebagai zat psikoaktif, toksik, dan mampu menimbulkan ketergantungan (https://www.who.int/health-topics/alcohol#tab=tab_1). Ketika ketergantungan sudah terbentuk, mengatakan “ya, tinggal berhenti mengonsumsi alkohol” menjadi terlalu sederhana.
Perubahan neurobiologis, craving, gejala putus alkohol, kebiasaan yang terbentuk, lingkungan sosial, dan risiko relaps membuat sebagian orang membutuhkan intervensi profesional untuk dapat berhenti. Dan ini semakin sulit ketika lingkungan justru mengatakan bahwa minum adalah hal biasa. Ditambah lagi, stigma yang ditempelkan pada pecandu alkohol sebagai orang-orang yang tak mampu mengendalikan diri. Sungguh ironis karena sesungguhnya alkohol-lah yang menipiskan kemampuan pengendalian diri tersebut.
Sekarang mari kembali kepada neraca pertukaran tadi. Kalau hanya menghitung beberapa jam pertama, kita mungkin menemukan relaksasi dan euforia di sisi manfaat. Namun, nilai resultan sebuah paparan tidak dapat dihitung hanya dari kesenangan sesaat. Kita perlu menguliti sisi biayanya. Hati merupakan salah satu organ yang paling nyata membayar paparan kronis alkohol: dari steatosis, inflamasi, fibrosis hingga sirosis. Tetapi alkohol tidak berhenti di hati.
Sistem saraf, sistem kardiovaskular, sistem pencernaan, sistem imun, sistem endokrin, otot dan tulang, juga dapat terdampak. Pada sistem saraf, konsumsi berat berkepanjangan dapat berkaitan dengan gangguan kognitif dan memori serta kerusakan saraf tepi. Dalam keadaan tertentu, kerusakan neurologis kronis dapat berkembang menjadi sindrom gangguan kognitif berat. Karena itu, terlalu sederhana jika alkohol hanya dipandang sebagai minuman yang “membuat rileks”.
Belum lagi dampaknya dalam meningkatkan risiko kanker. Alkohol merupakan salah satu faktor risiko utama kanker, dan risiko kesehatan ini tidak hanya muncul pada mereka yang sudah mengalami ketergantungan. Skalanya bukan kecil. WHO mengestimasi 2,6 juta kematian di dunia berkaitan dengan konsumsi alkohol, sekitar 4,7 persen dari seluruh kematian global.
Tubuh tidak mengenal minuman gratis. Ketika Orang Lain Ikut Membayar Harganya
Bahkan neraca itu belum selesai. Sebab sebagian harga alkohol tidak dibayar oleh orang yang meminumnya. WHO menggunakan istilah "alcohol's harm to others" untuk menggambarkan dampak konsumsi alkohol terhadap keluarga, pasangan, teman, rekan kerja, dan orang asing. Konsekuensinya dapat muncul dalam bentuk kecelakaan, masalah pekerjaan dan finansial, kerusakan relasi, pengabaian, hingga kekerasan interpersonal.
Dalam konteks perempuan dan anak, alkohol juga menjadi salah satu faktor terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Di sinilah konsep ekonomi kembali relevan. Harga sebotol minuman dibayarkan oleh konsumen. Namun, ketika konsumsi mengakibatkan kecelakaan, biaya kesehatan, hilangnya produktivitas, kekerasan, atau penderitaan keluarga, biaya tersebut tidak lagi berhenti pada orang yang meminumnya. Sebagian berubah menjadi tanggung renteng sosial.
Ketika Gimmick Mengubah Persepsi Nilai
Kembali ke booth sponsor konser musik tadi. Sebuah perusahaan tentu berkepentingan untuk mempertahankan konsumennya dan memperoleh konsumen baru. Persoalan kesehatan masyarakat muncul ketika pemasaran bukan hanya membuat seseorang memilih merek A daripada merek B, tetapi ikut membuat konsumsi alkohol tampak semakin menarik, lumrah, dan menjadi bagian dari pengalaman sosial.
WHO mencatat bahwa pemasaran alkohol menggunakan berbagai strategi, termasuk sponsorship serta pengaitan merek dengan aktivitas olahraga dan budaya. Strategi semacam ini dapat memperluas paparan merek kepada audiens baru. Yang lebih penting, paparan pemasaran alkohol, khususnya pada anak dan kaum muda berkaitan dengan normalisasi konsumsi serta dapat memengaruhi keputusan untuk mulai minum dan pola konsumsi selanjutnya. Maka, challenge bukan sekadar permainan.
Ia dapat mengubah perceived value. Sesuatu yang sebelumnya tidak dicari menjadi menarik karena gratis. Sesuatu yang sebelumnya terasa asing menjadi dekat karena hadir dalam konser. Sesuatu yang sebelumnya dipandang sebagai risiko dapat terasa lebih ringan ketika dibungkus dengan kegembiraan, sorakan, challenge, dan FOMO. Oleh sebab itu, WHO memasukkan pembatasan komprehensif terhadap periklanan, sponsorship, dan promosi alkohol sebagai salah satu pilar SAFER (a safer world free from alcohol-related harms) . Tujuannya antara lain melindungi anak, remaja, dan mereka yang tidak minum dari tekanan untuk mulai mengonsumsi alkohol
Jadi, apa sebenarnya nilai yang sedang dipertukarkan?
Barangkali problemnya bukan semata bahwa sebotol minuman terlalu rendah nilainya untuk menjadi alat tukar hafalan Ad-Dhuha. Problemnya adalah dua hal itu sejak awal mungkin tidak pernah layak diletakkan pada timbangan nilai yang sama. Barangkali mereka memang tidak mengetahui nilai dari dua hal yang sedang dipertukarkan: kedalaman pesan Ad-Dhuha di satu sisi, dan seluruh konsekuensi biologis serta sosial alkohol di sisi lainnya.
Tetapi sampai kapan ketidaktahuan, kealpaan, atau kenaifan dapat menjadi dalih ketika pengetahuan dan informasi tersedia begitu luas? Indera telah diberi untuk menangkap realitas, akal untuk menimbangnya. Ironis bila kemampuan menimbang itu sendiri kemudian ditumpulkan oleh sesuatu yang sejak awal gagal kita timbang dengan jernih.
Penulis adalah dosen pengajar farmakologi dan toksikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
