Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Athiyya Rahmah Inaz

AI, Kesepian Digital, dan Kesehatan Mental Generasi Muda Indonesia

Kabar WHO | 2026-08-27 08:43:51

Ditulis Oleh Athiyya Rahmah Inaz, S.Psi

Mahasiswa Magister Psikologi Sains

Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Di satu sisi, teknologi memudahkan komunikasi, pembelajaran, dan akses informasi. Namun, di sisi lain, muncul fenomena psikologis baru yang menjadi perhatian para ahli, yaitu meningkatnya tingkat kesepian (loneliness), ketergantungan pada AI sebagai tempat curhat, serta kelelahan digital (digital burnout). Fenomena ini menjadi salah satu isu psikologi yang sedang banyak diperbincangkan di Indonesia sepanjang tahun 2026.

AI sebagai Tempat Curhat Generasi Z

Saat ini banyak remaja dan dewasa muda yang memanfaatkan chatbot AI untuk berbagi perasaan, mencari saran, atau sekadar memperoleh dukungan emosional. Sebuah data Yayasan Digital Resilience Indonesia (2026) menunjukkan bahwa sekitar 59,4% Generasi Z di Indonesia pernah mencurahkan masalah pribadi kepada AI, termasuk masalah kesehatan mental, hubungan sosial, dan perencanaan masa depan. Fenomena ini menunjukkan bahwa AI mulai berperan sebagai sumber dukungan psikologis alternatif bagi generasi muda. Namun, para ahli menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan hubungan interpersonal yang nyata dan dukungan profesional dari psikolog.

Meningkatnya Fenomena Kesepian di Era Digital

Meskipun masyarakat semakin terhubung melalui media sosial, banyak individu justru mengalami perasaan kesepian. Psikolog menjelaskan bahwa kesepian tidak selalu berarti hidup sendiri, tetapi dapat terjadi ketika seseorang merasa tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan orang lain. Dominasi penggunaan gawai dan komunikasi digital sering kali membuat interaksi menjadi dangkal sehingga kebutuhan emosional seseorang tidak terpenuhi. Kondisi ini dapat berdampak pada meningkatnya stres, kecemasan, dan penurunan kesejahteraan psikologis.

Digital Detox sebagai Strategi Menjaga Kesehatan Mental

Sebagai respons terhadap tingginya penggunaan media sosial dan perangkat digital, muncul tren digital detox atau detoksifikasi digital. Digital detox merupakan upaya sadar untuk mengurangi penggunaan gawai dan media sosial dalam periode tertentu guna memulihkan keseimbangan psikologis. Penelitian menunjukkan bahwa digital detox dapat membantu meningkatkan kesehatan mental, mengurangi kecemasan, memperbaiki kualitas tidur, dan meningkatkan kemampuan fokus. Selain itu, konsep Joy of Missing Out (JOMO), yaitu kemampuan menikmati kehidupan tanpa merasa harus selalu mengikuti informasi atau aktivitas yang sedang tren di media sosial.

Dampak Screen Time yang Berlebihan

Pemerintah dan para ahli kesehatan mental juga menyoroti tingginya durasi penggunaan layar (screen time) masyarakat Indonesia. Paparan layar yang berlebihan dapat memengaruhi kualitas tidur, kemampuan konsentrasi, regulasi emosi, dan kesehatan mental secara umum. Tingginya screen time pada anak dan remaja bahkan dikaitkan dengan meningkatnya risiko masalah perilaku dan gangguan psikologis. Oleh karena itu, pengelolaan penggunaan teknologi menjadi salah satu tantangan penting bagi generasi muda saat ini.

Perspektif Psikologi

Dalam kajian psikologi, fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori kebutuhan akan keterhubungan sosial (need to belong), teori regulasi diri, dan teori kesejahteraan psikologis. Manusia pada dasarnya membutuhkan hubungan yang hangat, bermakna, dan autentik. Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, individu cenderung mencari alternatif melalui media sosial atau AI. Namun, teknologi hanya dapat menjadi pelengkap, bukan pengganti hubungan sosial yang nyata.

Salah satu tren psikologi yang paling menonjol di Indonesia tahun 2026 adalah meningkatnya penggunaan AI sebagai dukungan emosional, tingginya tingkat kesepian digital, dan munculnya gerakan digital detox sebagai upaya menjaga kesehatan mental. Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah kemajuan teknologi, kebutuhan dasar manusia untuk merasa terhubung, diterima, dan dipahami oleh sesama tetap menjadi faktor utama dalam mencapai kesejahteraan psikologis. Oleh karena itu, keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan kualitas hubungan sosial perlu terus dijaga agar kesehatan mental masyarakat, khususnya generasi muda, dapat berkembang secara optimal.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image