Aku Cape Hidupku Tersiksa
Alkisah | 2026-08-23 08:28:06
Sumber foto : (Foto ini diambil dari pengeditan AI)
Judul : Sakit ibu, Sakit ayah diriku sudah tidak tahan
Pengalaman di setiap luka anak - anak diluar sana. Di balik senyum yang indah dan ceria di sekolah, ada sebuah perasaan yang mendalam seperti mencekik di dada. Cerita yang dirasakan salah satu anak bernama Toni. Bukan nama aslinya, melainkan pengalaman yang sangat sedih di dalam hidupnya. Dimana seharusnya anak yang masih kecil merasakan indahnya dunia, bermain riang dengan teman - temannya, tertawa gembira merasakan suasana.Namun, itu adalah sebuah hayalan yang terangan - angan di pikirannya. Setiap keluarga pasti mempunyai didikan yang pantas untuk anak mereka masing - masing.
Tetapi tidak seperti kehidupan Toni, Setiap hari pertengkarannya oleh ayah dan ibu di waktu yang tidak diduga. Saat pulang sekolah, aku pulang. Pikiranku masih tidak terkondisikan, sudah ada saja pertengkaran yang hebat di rumah. Aku terkejut, tetapi aku hanya bisa diam dan menangis di pojokan lemari yang sudah tua. Mendengarkan suara ocehan yang keras serta pembicaraan yang kasar. Tubuhku bergetar, tidak berani mengeluarkan suara di samping lemari sedikit pun.
Saat pertengkaran aku terlibat, mulai ocehan yang sangat keras oleh ibu dan ayah. Terkadang aku berfikir "Kenapa aku dilahirkan di dunia?, kenapa kehidupan ku menjadi seperti ini?". Rasa sakit yang kutahan selama ini, sangatlah membekas di sekujur tubuh. Dimana aku harus menahan jika ibu dan ayah bertengkar, mereka akan melampiaskan amarah kedalam tubuh ku. Memukul dengan gagang sapu, mencambuk dengan sabuk yang sangat tebal milik ayah, serta ucapan yang membuat hati dan perasaan ku sangat tersakiti. Padahal dulu, aku tidak diperlakukan seperti ini. Ibu dan ayah sangat baik dan pengertian terhadap kesehatan diriku.
Perlakuan baik tidak bertahan sangat lama, ibu dan ayah berubah secara tiba - tiba. Luka di tubuh mungkin bisa sembuh, tetapi apa ucapan maupun perkataan bisa?. Kekerasan mental tidak hanya bisa dilakukan dalam fisik melainkan dari ucapan yang sangat menusuk bagi kita. Hari - hari merasa tidak aman saat dirumah. Rasa takut, trauma, dan penderitaan yang dialami. Aku pun sering dipertanyakan oleh teman - teman, "Toni kamu makin hari makin kurus, apakah kamu mengalami masalah?". Luka yang sangat mendalam ingin keceritakan, namun bayangan ancaman dari ibu dan ayah tidak memperbolehkan menceritakan tentang masalah maupun kejadian di rumah.
Suatu hari, aku melihat di media sosial. Banyak anak yang mengalami kekerasan oleh orang tuanya, Mereka berbagi pendapat serta meluapkan perasaan dan perlakuan di catatan. Aku terdiam sebentar lalu tersenyum, "ternyata aku mempunyai banyak teman yang sama" ucap diriku Toni. Aku juga ingin mencoba meluapkan perasaan ku di media sosial, hahahha. Sudah ku upload, belum beberapa jam aku sudah mendapatkan banyak views yang melihat. Komentar yang banyak menceritakan kisah kekerasan yang dialami oleh anak - anak diluar sana, menyukai postingan yang menyebar, serta posting ulang bertulisan "Hai teman, hidup kita kok bisa sama ya". Ternyata banyak anak - anak di luar sana yang mengalami hal sama sepertiku.
Kekerasan terhadap anak itu bukan lah didikan, melainkan menumbuhkan rasa ancaman yang mendalam. Di suatu hari kita bisa melakukan kekerasan terhadap anak, tetapi belum tentu kita saat sudah tua bisa terhindar dari kekerasan yang dilakukan oleh anak. Sama seperti yang dulu kita lakukan, akan tumbuh didalam perasaan anak yang kita keraskan. Jadikanlah anak kita agar lebih baik. Rumah seharusnya adalah tempat anak - anak pulang dengan gembira, bukan kebalikannya anak - anak takut untuk pulang kerumah yang sama seperti siksaan mendalam. Jika tidak merasa aman, segera hubungi (DP3APPKB) Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan anak, dan Keluarga Berencana.
Pesanku : Jika tidak siap mempunyai anak, maka jangan menikah. Anak bukanlah sama seperti sebuah bata, yang bisa kita pecahkan secara perlahan. Ibarat hati atau perasaan yang sangat tersakiti dan membekas. Luka yang belum sembuh, tetumbuh lebih dalam.
Ini kisah yang kuangkat dari anak - anak yang mengalami kekerasan oleh orang tua.
Nama penulis : Silvana Putri F.
Seorang siswa SMP
Asal sekolah : SMPN 1 Krembung
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
