Mengapa Penerangan Jalan Umum Harus Menjadi Prioritas
Agama | 2026-08-21 08:39:56
Bagi sebagian orang, jalan yang gelap mungkin hanya dianggap sebagai persoalan kenyamanan. Namun bagi pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor, kondisi tersebut dapat menjadi persoalan keselamatan.
Ketika matahari terbenam, kualitas penerangan jalan menjadi semakin penting. Lubang jalan, kendaraan yang berhenti di bahu jalan, pejalan kaki, tikungan, maupun berbagai rintangan lainnya menjadi lebih sulit terlihat ketika pencahayaan tidak memadai.
Karena itu, Penerangan Jalan Umum (PJU) seharusnya tidak dipandang hanya sebagai pelengkap tata kota. PJU merupakan bagian dari infrastruktur keselamatan publik.
Persoalannya, kondisi penerangan jalan di berbagai wilayah belum selalu merata. Ada kawasan perkotaan yang memiliki sistem penerangan cukup baik, tetapi masih terdapat jalan penghubung, kawasan permukiman, wilayah pinggiran, hingga daerah tertentu yang penerangannya belum optimal.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak cukup hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Pemerintah juga perlu memastikan fasilitas yang sudah tersedia dapat berfungsi dan dirawat secara berkelanjutan.
PJU dan Keselamatan Pengguna Jalan
Penerangan jalan memiliki hubungan erat dengan kemampuan pengguna jalan dalam melihat kondisi di sekitarnya. Pencahayaan yang baik membantu pengemudi mengenali objek, memperkirakan jarak, serta merespons kondisi jalan dengan lebih cepat.
Hal ini menjadi semakin penting karena lalu lintas malam hari memiliki karakteristik berbeda dengan siang hari. Ketika kondisi lingkungan lebih gelap, kemampuan mata dalam mengenali objek juga terbatas.
Bagi pengendara sepeda motor, persoalan tersebut dapat menjadi semakin serius. Rintangan kecil sekalipun dapat berisiko apabila tidak terlihat dengan baik.
Karena itu, pembangunan dan pemeliharaan PJU perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi keselamatan transportasi. Pemerintah daerah tidak hanya perlu menambah titik lampu, tetapi juga memastikan lampu yang sudah terpasang berfungsi dengan baik.
Lampu yang mati selama berbulan-bulan pada jalan yang ramai tentu tidak memberikan manfaat sebagaimana mestinya.
Jangan Hanya Membangun, tetapi Juga Merawat
Salah satu persoalan yang sering muncul dalam pembangunan infrastruktur adalah perhatian yang lebih besar terhadap pembangunan awal dibandingkan pemeliharaan.
Padahal, PJU membutuhkan perawatan secara berkala. Lampu dapat mengalami kerusakan, jaringan listrik dapat bermasalah, tiang dapat mengalami kerusakan, dan sistem kontrol juga membutuhkan pemeriksaan.
Karena itu, pengelolaan PJU harus memiliki mekanisme pemeliharaan yang jelas. Masyarakat juga perlu memiliki saluran pengaduan yang mudah digunakan ketika menemukan lampu jalan yang tidak berfungsi.
Persoalan lain adalah pembagian kewenangan. Jalan nasional, jalan provinsi, dan jalan kabupaten atau kota memiliki kewenangan pengelolaan yang berbeda. Dalam praktiknya, kondisi tersebut dapat menjadi tantangan ketika terjadi kerusakan fasilitas di suatu ruas jalan.
Yang dibutuhkan bukan saling menunggu, melainkan koordinasi yang lebih jelas. Keselamatan pengguna jalan seharusnya menjadi kepentingan bersama.
Efisiensi Energi Melalui Teknologi
PJU juga berkaitan dengan penggunaan energi dan kemampuan pemerintah daerah mengelola anggaran.
Lampu konvensional dengan konsumsi energi tinggi dapat meningkatkan biaya operasional. Karena itu, peralihan menuju teknologi LED dapat menjadi salah satu pilihan untuk meningkatkan efisiensi.
Teknologi pencahayaan modern bahkan dapat dikembangkan menjadi sistem pencahayaan pintar. Dengan dukungan sensor dan sistem pemantauan, kondisi lampu dapat dipantau secara lebih cepat.
Ketika sebuah lampu mengalami kerusakan, pemerintah dapat mengetahui titik permasalahannya tanpa sepenuhnya bergantung pada laporan masyarakat.
Penggunaan teknologi seperti ini bukan semata-mata soal modernisasi. Tujuan utamanya adalah membuat pengelolaan PJU menjadi lebih efisien, responsif, dan mudah dipantau.
Untuk wilayah yang memiliki keterbatasan jaringan listrik, PJU tenaga surya juga dapat menjadi salah satu alternatif. Teknologi tersebut dapat dipertimbangkan terutama untuk lokasi tertentu yang membutuhkan penerangan tetapi memiliki tantangan dalam penyediaan jaringan listrik.
Jalan Terang Juga Menyangkut Keamanan
Manfaat penerangan jalan tidak berhenti pada keselamatan lalu lintas.
Ruang publik yang terang dapat memberikan rasa aman yang lebih baik bagi masyarakat yang beraktivitas pada malam hari. Pejalan kaki, pekerja malam, pedagang, pengemudi, hingga masyarakat yang menggunakan fasilitas publik membutuhkan ruang yang dapat digunakan dengan aman.
Bagi perempuan, anak-anak, dan kelompok rentan lainnya, kualitas ruang publik menjadi persoalan yang tidak kalah penting.
Jalan yang gelap dapat membuat masyarakat merasa tidak aman dan pada akhirnya membatasi aktivitas mereka. Karena itu, perencanaan penerangan perlu memperhatikan kebutuhan pengguna ruang publik secara lebih luas.
Penerangan yang baik bukan berarti setiap sudut harus dipenuhi lampu secara berlebihan. Yang lebih penting adalah memastikan titik-titik strategis, jalur transportasi, persimpangan, kawasan permukiman, serta lokasi yang memiliki aktivitas masyarakat mendapatkan pencahayaan yang memadai.
PJU dan Ekonomi Malam Hari
Penerangan jalan juga dapat mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Kehadiran pedagang makanan, toko, pasar malam, jasa transportasi, hingga berbagai aktivitas ekonomi lainnya menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat tidak berhenti ketika matahari terbenam.
Namun, kegiatan tersebut membutuhkan lingkungan yang aman dan nyaman. Jalan yang terang dapat membantu mobilitas masyarakat sekaligus memberikan rasa aman bagi pelaku usaha dan konsumen.
Dengan demikian, investasi pada PJU tidak semestinya hanya dihitung dari jumlah tiang atau lampu yang terpasang. Pemerintah juga perlu melihat manfaat sosial dan ekonomi yang muncul dari keberadaan infrastruktur tersebut.
Perlu Tata Kelola yang Lebih Terukur
Ke depan, pengelolaan PJU perlu dilakukan secara lebih terukur.
Pemerintah daerah dapat memulai dengan pemetaan titik-titik jalan yang membutuhkan penerangan, terutama lokasi yang memiliki tingkat mobilitas tinggi, rawan kecelakaan, kawasan permukiman, jalur penghubung antarkawasan, dan lokasi dengan aktivitas masyarakat pada malam hari.
Selanjutnya, pemerintah perlu memiliki data mengenai jumlah lampu, kondisi setiap titik, kebutuhan perawatan, konsumsi energi, serta anggaran yang digunakan.
Data tersebut penting agar kebijakan PJU tidak hanya berdasarkan perkiraan, tetapi berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.
Penggunaan teknologi digital juga dapat membantu menciptakan sistem pemantauan yang lebih transparan. Masyarakat dapat dilibatkan melalui kanal pengaduan yang mudah diakses sehingga kerusakan dapat segera ditindaklanjuti.
Dari Lampu Jalan Menuju Pelayanan Publik
Pada akhirnya, PJU bukan sekadar persoalan lampu yang menyala atau mati.
Di balik sebuah lampu jalan terdapat persoalan keselamatan, anggaran, energi, tata kelola, keamanan, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Karena itu, pembangunan PJU perlu diarahkan pada tiga hal. Pertama, memastikan penerangan tersedia secara lebih merata pada lokasi yang memang membutuhkan. Kedua, meningkatkan efisiensi melalui penggunaan teknologi yang tepat. Ketiga, membangun sistem pemeliharaan dan pengawasan yang jelas agar fasilitas yang telah dibangun tidak cepat terbengkalai.
Jalan yang terang bukan berarti semua persoalan keselamatan lalu lintas otomatis selesai. Namun, penerangan yang memadai merupakan salah satu bagian penting dari lingkungan jalan yang aman.
Masyarakat tidak hanya membutuhkan jalan yang dibangun dengan baik. Mereka juga membutuhkan jalan yang dapat digunakan dengan aman, termasuk ketika malam tiba.
Karena itu, sudah waktunya Penerangan Jalan Umum dipandang sebagai bagian penting dari pelayanan publik. Menyinari jalan bukan hanya tentang memasang lampu, tetapi tentang menghadirkan rasa aman, mendukung mobilitas, dan membuka ruang bagi aktivitas masyarakat.
Sebab ketika jalan menjadi terang, yang hadir bukan hanya cahaya, tetapi juga kesempatan bagi masyarakat untuk bergerak, bekerja, dan beraktivitas dengan lebih aman.
Ditulis Oleh: Muhammad Zuhdi, Mahasiswa Universitas Pamulang
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
