Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dr. Zahlul Ikhsan

Ketahanan Pangan Bukan Soal Luas Lahan

Gaya Hidup | 2026-08-20 18:04:06

Setiap kali Indonesia berbicara tentang ketahanan pangan, pembicaraan hampir selalu kembali pada lahan. Berapa hektare sawah yang tersedia? Berapa luas lahan pertanian yang berkurang? Berapa hektare lahan baru yang dapat dicetak? Pertanyaan-pertanyaan itu penting. Namun, ada pertanyaan yang jauh lebih menentukan: seberapa cerdas kita mengelola lahan yang tersisa?

Lanskap pertanian pedesaan

Sebab, krisis pangan abad ke-21 tidak hanya berlangsung ketika tanah pertanian menyusut. Krisis dapat muncul ketika iklim berubah lebih cepat daripada kemampuan petani beradaptasi, ketika harga pupuk dan energi melonjak, ketika hama dan penyakit berubah perilaku, ketika rantai pasok terganggu, atau ketika generasi muda tidak lagi melihat pertanian sebagai profesi yang menjanjikan. Di sinilah paradigma ketahanan pangan perlu diperluas. Indonesia tidak cukup hanya memiliki lahan pertanian. Kita membutuhkan sistem pertanian yang produktif, adaptif, efisien, terdiversifikasi dan mampu mengelola risiko.

Pengalaman Program Tawangargo Smart-Eco Farming Village (TAMENG) di Kabupaten Malang, Jawa Timur, memberikan pelajaran menarik. Program yang dikembangkan sejak 2022 itu mendorong penerapan climate-smart agriculture pada pertanian hortikultura sekaligus menempatkan petani sebagai bagian dari proses inovasi. Pada perkembangannya, kawasan tersebut diarahkan menjadi living lab yang mempertemukan petani, peneliti, mahasiswa dan komunitas.

Lebih menarik lagi, studi mengenai program tersebut menggunakan pendekatan Social Return on Investment (SROI) dan menemukan rasio 2,83:1. Secara sederhana, setiap Rp1 investasi yang dianalisis menghasilkan manfaat sosial-ekonomi sekitar Rp2,83. Angka tersebut tentu bukan rumus universal untuk semua program pertanian. Namun, ia menunjukkan sesuatu yang sering luput dalam perumusan kebijakan: investasi pada manusia, pengetahuan dan ekosistem pertanian dapat menghasilkan nilai jauh melampaui hasil panen semata.

Ketika iklim mengubah aturan main

Perubahan iklim merupakan salah satu alasan mengapa ukuran ketahanan pangan harus diperluas. El Niño 2023–2024 telah menunjukkan bagaimana anomali iklim dapat menjalar menjadi persoalan produksi dan harga pangan. Kekeringan tidak hanya memengaruhi tanaman pangan, tetapi juga hortikultura, perkebunan, peternakan dan berbagai aktivitas ekonomi pedesaan yang bergantung pada ketersediaan air.

Masalahnya bukan semata-mata bahwa curah hujan berkurang. Masalah yang lebih serius adalah ketidakpastian. Petani membutuhkan kepastian mengenai kapan menanam, varietas apa yang digunakan, berapa banyak air yang tersedia, berapa dosis input yang diperlukan, dan ke mana produk akan dijual. Ketika pola iklim berubah, keputusan yang selama puluhan tahun dibangun berdasarkan pengalaman menjadi semakin sulit dipertahankan. Karena itu, adaptasi iklim harus ditempatkan sebagai inti pembangunan pertanian.

Varietas toleran kekeringan, konservasi tanah dan air, irigasi hemat air, agroforestri, pemanfaatan mulsa, kalender tanam berbasis prakiraan iklim, rumah tanam, sensor kelembapan tanah dan sistem peringatan dini bukan lagi teknologi tambahan. Semua itu merupakan infrastruktur baru ketahanan pangan.

Kita juga perlu berhenti membicarakan pertanian Indonesia seolah-olah hanya terdiri atas sawah. Ketahanan pangan membutuhkan ekosistem yang lebih beragam: jagung, kedelai, umbi-umbian, hortikultura, buah, sayuran, perkebunan, peternakan, perikanan dan pangan lokal. Diversifikasi tersebut bukan sekadar pilihan ekonomi. Ia merupakan strategi manajemen risiko. Jika satu komoditas terganggu oleh kekeringan atau serangan organisme pengganggu tanaman, komoditas lain dapat menjadi penyangga pendapatan dan pasokan pangan. Semakin beragam sistem produksi, semakin besar pula peluang sistem tersebut bertahan menghadapi guncangan.

Dari limbah menjadi modal produksi

Paradigma berikutnya yang perlu diubah adalah cara kita melihat limbah pertanian. Jerami, sekam, kulit buah, sisa tanaman, kotoran ternak dan biomassa lainnya sering dipandang sebagai persoalan yang harus dibuang. Padahal, sebagian besar material tersebut merupakan sumber bahan organik dan unsur hara yang dapat dikembalikan ke dalam sistem produksi.

Di Tawangargo, pengelolaan limbah menjadi salah satu bagian dari pengembangan pertanian berkelanjutan. Limbah pertanian diolah menjadi produk yang dapat mendukung kegiatan budidaya, sementara pemanfaatan energi terbarukan juga dikembangkan dalam sistem produksi. Inilah prinsip ekonomi sirkular yang seharusnya diperluas.

Selama ini, pertanian kita terlalu sering bekerja dengan pola linear: membeli input, menggunakan, menghasilkan produk, kemudian membuang sisanya. Pola semacam ini membuat petani semakin tergantung pada input eksternal dan rentan terhadap kenaikan harga. Ekonomi sirkular menawarkan logika berbeda. Limbah dari satu proses dapat menjadi bahan baku proses berikutnya.

Namun, ekonomi sirkular tidak boleh berubah menjadi sekadar jargon hijau. Penggunaan pupuk organik, pupuk hayati atau biopestisida harus tetap didasarkan pada bukti ilmiah. Pertanian berkelanjutan bukan berarti meninggalkan ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan menggunakan teknologi untuk menghasilkan lebih banyak dengan tekanan lingkungan yang lebih rendah.

Petani juga membutuhkan perlindungan dari risiko

Ada satu persoalan yang sering dilupakan dalam pembicaraan tentang inovasi pertanian: siapa yang menanggung risiko ketika inovasi gagal? Petani bekerja di bawah ketidakpastian yang sangat tinggi. Mereka menghadapi cuaca, organisme pengganggu tanaman, fluktuasi harga, biaya produksi, perubahan permintaan pasar dan gangguan distribusi.

Meminta petani berinvestasi dalam teknologi tanpa menyediakan mekanisme perlindungan risiko adalah kebijakan yang tidak lengkap. Di sinilah asuransi pertanian memiliki peran strategis. Salah satu inovasi yang patut dikembangkan adalah asuransi berbasis indeks cuaca. Pembayaran dapat dipicu ketika indikator tertentu—misalnya curah hujan—melewati ambang yang telah ditetapkan.

Teknologi satelit, stasiun cuaca otomatis dan sensor dapat membuat sistem tersebut semakin presisi. Tetapi teknologi saja tidak cukup. Sistem ini membutuhkan data yang terpercaya, desain indeks yang sesuai dengan kondisi lokal, premi yang terjangkau, literasi keuangan dan kepercayaan petani.

Jika dirancang dengan baik, asuransi bukan hanya instrumen untuk mengganti kerugian. Ia dapat menjadi sabuk pengaman yang memungkinkan petani berani berinvestasi. Petani yang terlindungi dari risiko ekstrem akan lebih memiliki ruang untuk mencoba varietas baru, teknologi hemat air, diversifikasi komoditas atau praktik budidaya yang lebih berkelanjutan.

Persoalan terbesar mungkin bukan tanah, melainkan manusia

Pada akhirnya, teknologi secanggih apa pun membutuhkan manusia yang mampu menggunakannya. Ini membawa kita pada persoalan regenerasi petani. Pertanian sering dipersepsikan sebagai pekerjaan tradisional dengan pendapatan rendah dan risiko tinggi. Persepsi tersebut berbahaya karena membuat sektor pertanian kehilangan daya tarik bagi generasi muda.

Padahal pertanian modern membutuhkan jenis pekerjaan yang sangat berbeda dari gambaran petani masa lalu. Pertanian membutuhkan operator drone, teknisi sensor, analis data, pengelola greenhouse, ahli pemasaran digital, pengembang aplikasi, pengelola rantai pasok, pengolah hasil pertanian, pengusaha benih, konsultan budidaya dan wirausahawan pangan. Dengan kata lain, masa depan pertanian bukan meninggalkan teknologi, tetapi mengawinkan teknologi dengan pengetahuan lokal petani.

Konsep living lab seperti yang dikembangkan dalam TAMENG dapat menjadi salah satu model. Desa tidak hanya menjadi tempat penerapan teknologi yang dibuat di kota atau kampus. Desa dapat menjadi tempat teknologi diuji, diperbaiki dan bahkan diciptakan bersama petani. Model semacam ini juga mengubah posisi perguruan tinggi. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan penelitian yang berhenti di jurnal. Pengetahuan harus kembali ke lahan, diuji oleh petani, dan menghasilkan perubahan nyata.

Ketahanan pangan membutuhkan ukuran baru

Sudah saatnya ukuran keberhasilan pembangunan pertanian diperluas. Produksi per hektare tetap penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran. Kita juga perlu bertanya: berapa banyak air yang digunakan untuk menghasilkan satu kilogram produk? Berapa besar biaya input yang dapat dihemat? Berapa banyak limbah yang kembali menjadi sumber daya? Berapa banyak karbon yang dapat dikurangi? Berapa banyak lapangan kerja yang tercipta? Berapa banyak anak muda yang memilih bertani? Dan seberapa cepat petani dapat pulih ketika terjadi guncangan?

Pendekatan SROI memberikan salah satu cara untuk melihat persoalan tersebut. Rasio 2,83:1 pada studi TAMENG menunjukkan bahwa manfaat pembangunan pertanian dapat melampaui indikator ekonomi konvensional. Nilai sosial, lingkungan dan kelembagaan juga harus diperhitungkan.

Namun, kita tidak boleh terjebak pada satu angka. Yang jauh lebih penting adalah membangun ekosistem yang memungkinkan keberhasilan sebuah desa direplikasi secara adaptif di tempat lain.

Karena itu, pemerintah perlu menggeser kebijakan dari sekadar memberikan input menuju membangun kapasitas inovasi. Perguruan tinggi perlu memperkuat riset terapan. Dunia usaha perlu membuka akses pasar dan pembiayaan. Lembaga keuangan perlu mengembangkan produk yang sesuai dengan karakter risiko pertanian. Dan petani harus ditempatkan sebagai mitra, bukan sekadar penerima program.

Indonesia tidak mungkin menghindari perubahan iklim. Kita juga tidak dapat mengendalikan harga komoditas dunia, konflik geopolitik atau gangguan rantai pasok global. Yang dapat kita kendalikan adalah seberapa siap sistem pertanian kita menghadapi semuanya. Karena itu, ketahanan pangan tidak seharusnya lagi diukur hanya dari luas lahan yang kita miliki.

Ketahanan pangan adalah kemampuan sebuah sistem untuk tetap menghasilkan pangan, pendapatan dan kehidupan yang layak ketika keadaan berubah. Jika paradigma itu diterapkan, lahan pertanian tidak lagi sekadar dihitung dalam hektare. Ia dinilai dari produktivitasnya, efisiensi sumber dayanya, keragaman hayatinya, kemampuan adaptasinya dan manusia yang tumbuh bersamanya. Di situlah masa depan pertanian Indonesia sebenarnya ditentukan: bukan pada seberapa luas tanah yang masih kita punya, tetapi pada seberapa cerdas kita mengelolanya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image