Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Abdul Latif

Guru Sabdo Roso dalam Falsafah Jawa: Kejernihan Batin

Agama | 2026-08-20 09:28:46
Guru Sabdo Roso Abdul Latif

Roso dalam Falsafah Jawa: Mengapa Kejernihan Batin Tidak Sama dengan Mengikuti Perasaan

Kata roso sangat akrab dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Kita mengenal ungkapan ngrasakke, rumangsa, tepa slira, hingga berbagai nasihat yang mengajak seseorang untuk lebih peka terhadap keadaan di sekitarnya.

Namun, roso sering disalahpahami.

Ada yang menganggap roso sama dengan perasaan. Ada pula yang menganggap setiap firasat yang muncul dalam diri pasti merupakan petunjuk yang harus diikuti.

Padahal, tidak semua yang terasa di dalam diri berasal dari kejernihan.

Kadang ia lahir dari ketakutan.

Kadang dari luka masa lalu.

Kadang dari keinginan.

Dan kadang pula dari ego yang sedang mencari pembenaran.

Karena itu, dalam memahami falsafah Jawa, roso tidak cukup hanya dirasakan. Roso perlu dijernihkan.

Perasaan dan Roso Tidak Selalu Sama

Manusia mempunyai emosi.

Senang, marah, kecewa, takut, iri, sedih, dan gembira merupakan bagian alami dari kehidupan.

Tidak ada yang salah dengan emosi.

Masalah muncul ketika manusia langsung menganggap setiap emosi sebagai kebenaran.

Ketika sedang marah, seseorang bisa merasa dirinya paling benar.

Ketika takut kehilangan, ia dapat mengira bahwa kekhawatirannya adalah sebuah firasat.

Ketika sangat menginginkan sesuatu, ia bahkan dapat membaca berbagai kebetulan sebagai tanda bahwa keinginannya pasti akan terwujud.

Di sinilah pentingnya membedakan antara apa yang sedang kita rasakan dan apa yang benar-benar kita pahami setelah batin menjadi jernih.

Roso bukan alasan untuk berhenti menggunakan akal.

Sebaliknya, roso dan pikiran perlu saling melengkapi.

Air Keruh Tidak Dapat Memantulkan Wajah dengan Jelas

Ada gambaran sederhana yang sering saya gunakan ketika membahas kejernihan batin.

Bayangkan sebuah wadah berisi air.

Ketika air terus diaduk, kita sulit melihat bayangan yang terpantul di permukaannya.

Tetapi ketika air dibiarkan tenang, perlahan permukaannya menjadi jernih.

Batin manusia juga demikian.

Selama pikiran terus diaduk oleh ketakutan, ambisi, kemarahan, prasangka, dan keinginan untuk selalu benar, apa pun yang muncul dari dalam diri akan bercampur dengan berbagai dorongan tersebut.

Karena itu, langkah pertama bukanlah buru-buru mempercayai roso.

Langkah pertama justru menenangkan diri terlebih dahulu.

Barulah setelah itu seseorang mulai belajar mengamati dengan lebih jujur.

Roso Bukan Pembenaran Ego

Salah satu jebakan dalam perjalanan batin adalah ketika kata roso digunakan untuk membenarkan semua keputusan pribadi.

"Saya merasa begini."

"Roso saya mengatakan begitu."

"Saya yakin ini pertanda."

Kalimat semacam itu terdengar meyakinkan.

Namun pertanyaannya adalah: roso yang mana?

Apakah itu kejernihan?

Atau ketakutan?

Apakah itu kebijaksanaan?

Atau hanya keinginan untuk mendapatkan apa yang kita mau?

Seseorang yang sedang jatuh cinta dapat merasa semua tindakannya benar.

Seseorang yang sedang marah juga dapat merasa kemarahannya sepenuhnya wajar.

Seseorang yang merasa dirinya lebih tahu daripada orang lain dapat menganggap kesombongannya sebagai keyakinan batin.

Karena itulah roso membutuhkan pengujian.

Kejernihan Perlu Diuji oleh Kehidupan

Dalam pemahaman yang saya gunakan ketika mendampingi pembelajaran Nafas Batin, ada rangkaian sederhana:

Roso — Kejernihan — Pengujian — Buah.

Pertama, manusia menangkap atau merasakan sesuatu.

Tetapi rasa tersebut belum otomatis menjadi kebenaran.

Ia perlu dijernihkan.

Setelah jernih, pemahaman itu masih perlu diuji melalui kenyataan.

Kemudian kita melihat buahnya.

Apakah keputusan itu membuat seseorang semakin bijaksana?

Apakah membuatnya lebih bertanggung jawab?

Apakah membuat hubungan dengan sesama menjadi lebih baik?

Atau sebaliknya justru membuat dirinya semakin dikuasai ketakutan, kesombongan, dan prasangka?

Buah dari sebuah laku sering kali menjadi cermin yang lebih jujur daripada perasaan sesaat.

Kepekaan Batin Tidak Berarti Menjadi Mudah Curiga

Ada salah kaprah lain.

Ketika seseorang mulai belajar peka terhadap batinnya, ia terkadang menjadi terlalu sibuk menafsirkan segala sesuatu.

Orang terlambat membalas pesan dianggap mempunyai maksud tertentu.

Mimpi langsung dianggap pertanda.

Perubahan suasana hati orang lain segera dihubungkan dengan sesuatu yang gaib.

Padahal kepekaan yang tidak disertai kejernihan justru dapat berubah menjadi kecemasan.

Semakin jernih seseorang, semestinya ia bukan semakin mudah curiga.

Ia justru semakin mampu mengatakan:

"Saya belum tahu."

Kemampuan untuk mengakui bahwa kita belum mengetahui sesuatu merupakan bagian penting dari kejernihan.

Tidak semua kejadian perlu diberi tafsir.

Tidak semua kebetulan adalah pertanda.

Dan tidak setiap perasaan harus dituruti.

Roso dan Eling

Dalam budaya Jawa kita juga mengenal kata eling.

Eling bukan sekadar mengingat dalam pengertian biasa.

Ia dapat dipahami sebagai kesadaran untuk kembali mengetahui keadaan diri.

Ketika marah, kita sadar bahwa kita sedang marah.

Ketika takut, kita sadar bahwa ketakutan sedang hadir.

Ketika keinginan begitu kuat, kita mampu melihat keinginan itu tanpa langsung menjadi budaknya.

Pada titik itulah manusia memiliki jarak.

Dan dari jarak tersebut lahir pilihan.

Kita tidak lagi sepenuhnya digerakkan oleh reaksi.

Kita mulai mampu menentukan sikap.

Maka belajar roso sejatinya juga merupakan latihan untuk belajar eling terhadap diri sendiri.

Roso dalam Kehidupan Sehari-hari

Olah roso tidak harus selalu dibicarakan dalam suasana yang dianggap spiritual.

Ia justru paling nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika hendak membalas pesan dalam keadaan marah, bisakah kita berhenti beberapa detik?

Ketika mendapat kritik, bisakah kita membedakan antara kritik yang memang berguna dan ego yang sedang merasa terluka?

Ketika menghadapi keputusan besar, bisakah kita memeriksa apakah keputusan tersebut lahir dari kejernihan atau kepanikan?

Ketika merasa tidak menyukai seseorang, bisakah kita bertanya apakah orang itu memang melakukan kesalahan atau kita sedang membawa luka lama ke dalam hubungan baru?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu adalah bagian dari olah rasa.

Semakin Dalam, Semestinya Semakin Membumi

Ada anggapan bahwa semakin dalam perjalanan spiritual seseorang, semakin banyak hal luar biasa yang harus ia alami.

Menurut saya justru sebaliknya.

Semakin dalam seseorang mengenali dirinya, semestinya ia semakin membumi.

Lebih berhati-hati dalam berbicara.

Lebih mudah mengakui kekeliruan.

Lebih mampu mendengarkan.

Lebih bertanggung jawab terhadap keputusan.

Dan tidak tergesa-gesa mengklaim sesuatu yang belum benar-benar ia ketahui.

Kedalaman batin tidak selalu terlihat dari sesuatu yang spektakuler.

Kadang ia terlihat dari kemampuan sederhana untuk tidak menyakiti orang lain ketika kita sebenarnya mempunyai kesempatan untuk melakukannya.

Menjernihkan Roso

Dalam perjalanan saya mengenalkan ajaran dan pembelajaran Guru Sabdo Roso, kata roso saya tempatkan bukan sebagai kemampuan untuk merasa paling tahu.

Justru sebaliknya.

Roso adalah jalan untuk semakin jujur melihat diri sendiri.

Karena sebelum berusaha memahami sesuatu di luar diri, manusia perlu lebih dahulu memahami apa yang bergerak di dalam dirinya.

Apakah ketakutan?

Keinginan?

Luka?

Ambisi?

Atau memang sebuah pemahaman yang lahir setelah batin menjadi tenang?

Pada akhirnya, roso bukan tentang mempercayai semua yang kita rasakan.

Roso adalah tentang menjernihkan apa yang kita rasakan sampai kita mampu melihat dengan lebih utuh.

Sebab batin yang jernih tidak membuat manusia merasa mengetahui segala sesuatu.

Batin yang jernih justru mengajarkan kapan harus berbicara, kapan harus menunggu, dan kapan dengan rendah hati mengatakan:

"Aku durung ngerti."

Saya belum tahu.

Dan barangkali, dari keberanian untuk mengakui bahwa kita belum tahu itulah pengetahuan yang lebih jernih mulai tumbuh.

Abdul Latif (Guru Sabdo Roso)Penggagas Nafas Batin dan penulis yang mengembangkan pembelajaran tentang olah rasa, napas, serta kearifan Jawa dalam kehidupan modern.

Tulisan dan pembelajaran lainnya mengenai falsafah Jawa dan olah batin dapat dibaca melalui gurusabdoroso.id.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image