Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image M. Ricky Adi Saputra

Mengenal Bisnis dan Cara Memulainya dari Nol hingga Berkembang

Bisnis | 2026-08-09 20:54:56

 

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih menjadi bagian penting dalam struktur perekonomian Indonesia. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 2024 menyebut UMKM mencakup sekitar 99 persen unit usaha di Indonesia, berkontribusi sekitar 60,51 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), serta menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. Namun, kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional baru sekitar 15,7 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas bisnis di Indonesia sangat besar, tetapi masih terdapat ruang untuk meningkatkan produktivitas, daya saing, dan kemampuan pelaku usaha untuk berkembang.

Sumber: Pixabay

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa bisnis bukan sekadar aktivitas menjual barang atau jasa untuk memperoleh keuntungan. Bisnis merupakan proses menciptakan nilai bagi konsumen melalui produk atau layanan, mengelola sumber daya, membangun hubungan dengan pasar, dan menghasilkan pendapatan yang memungkinkan usaha terus berjalan.

Karena itu, memahami definisi bisnis menjadi langkah awal sebelum seseorang memutuskan menjadi pengusaha. Lebih penting lagi, calon pelaku usaha perlu mengetahui bagaimana mengubah ide menjadi kegiatan ekonomi yang benar-benar memiliki pelanggan dan menghasilkan keuntungan.

Apa yang Dimaksud dengan Bisnis?

Secara sederhana, bisnis adalah aktivitas ekonomi yang dilakukan untuk menciptakan, menawarkan, dan menukar barang atau jasa dengan tujuan memberikan nilai kepada konsumen sekaligus memperoleh pendapatan atau keuntungan.

Definisi tersebut menunjukkan bahwa bisnis memiliki beberapa unsur utama. Pertama, terdapat kebutuhan atau masalah konsumen. Kedua, ada produk atau jasa yang ditawarkan sebagai solusi. Ketiga, terdapat proses pertukaran yang menghasilkan pendapatan. Keempat, kegiatan tersebut harus dikelola agar biaya yang dikeluarkan tidak lebih besar daripada nilai ekonomi yang dihasilkan.

Dengan demikian, menjual sesuatu belum tentu berarti memiliki bisnis yang sehat. Seseorang dapat memperoleh penjualan tinggi, tetapi tetap mengalami kerugian apabila harga jual tidak mampu menutup biaya produksi, pemasaran, distribusi, dan operasional.

Harvard Business Review menjelaskan bahwa model bisnis pada dasarnya membantu menjawab pertanyaan penting mengenai siapa pelanggan perusahaan, bagaimana perusahaan memberikan nilai, dan bagaimana aktivitas tersebut menghasilkan uang. Model bisnis juga berbeda dari strategi karena model bisnis menjelaskan bagaimana berbagai bagian usaha saling bekerja sebagai sebuah sistem.

Dalam konteks Indonesia, bisnis juga memiliki skala yang beragam. BPS menggunakan kategori usaha mikro, kecil, dan menengah dengan kriteria tertentu berdasarkan modal usaha atau hasil penjualan tahunan. Misalnya, usaha mikro dapat memiliki modal usaha paling banyak Rp1 miliar, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau hasil penjualan tahunan paling banyak Rp2 miliar.

Artinya, bisnis tidak identik dengan perusahaan besar. Warung makanan, jasa desain, toko daring, usaha kerajinan, jasa fotografi, hingga perusahaan teknologi semuanya dapat menjadi bisnis selama terdapat proses penciptaan nilai dan pertukaran ekonomi.

Cara Memulai Bisnis dari Nol

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah seseorang langsung membeli barang, membuat logo, membuka akun media sosial, kemudian berharap konsumen datang. Padahal, langkah pertama seharusnya bukan membeli produk, melainkan memahami masalah yang ingin diselesaikan.

1. Temukan masalah dan kebutuhan pasar

Ide bisnis yang baik biasanya berangkat dari kebutuhan nyata. Calon pengusaha dapat mulai dengan mengamati lingkungan sekitar: apa yang sering dikeluhkan masyarakat, produk apa yang sulit diperoleh, layanan apa yang belum memuaskan, atau pekerjaan apa yang dapat dilakukan lebih cepat dan praktis.

Contohnya, mahasiswa yang melihat teman-temannya kesulitan mendapatkan makanan murah pada malam hari dapat melihat peluang usaha katering sederhana. Seorang mahasiswa yang memiliki kemampuan desain dapat menawarkan jasa pembuatan konten kepada UMKM di sekitar kampus.

Pada tahap ini, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa sebuah ide pasti laku. Lakukan validasi sederhana dengan bertanya kepada calon konsumen, mengamati pesaing, dan mencoba menawarkan produk dalam skala kecil.

Prinsipnya sederhana: jangan membuat produk terlebih dahulu lalu mencari pelanggan; cari tahu kebutuhan pelanggan sebelum menentukan produk.

2. Tentukan target konsumen

Bisnis yang ingin menjual kepada semua orang biasanya justru kesulitan menentukan strategi pemasaran.

Target pasar perlu dibuat lebih spesifik berdasarkan karakteristik seperti usia, lokasi, pekerjaan, daya beli, kebiasaan, dan kebutuhan. Misalnya, menjual kopi bukan hanya berarti menyasar "semua pencinta kopi". Targetnya dapat dipersempit menjadi mahasiswa berusia 18–24 tahun yang membutuhkan minuman terjangkau untuk menemani aktivitas kuliah.

Target yang lebih jelas membantu menentukan harga, kemasan, lokasi penjualan, bahasa promosi, hingga platform pemasaran.

3. Susun model bisnis

Setelah memahami pelanggan, calon pengusaha perlu menjawab pertanyaan yang lebih penting: bagaimana bisnis tersebut menghasilkan uang?

Salah satu alat yang dapat digunakan adalah Business Model Canvas (BMC). Kerangka ini membantu pelaku usaha memetakan pelanggan, proposisi nilai, saluran distribusi, hubungan dengan pelanggan, sumber pendapatan, aktivitas utama, sumber daya, mitra, dan struktur biaya. Harvard Business Review juga menempatkan BMC sebagai alat yang membantu perusahaan menggambarkan dan membahas model bisnis secara lebih terstruktur.

Sebagai contoh, bisnis makanan rumahan perlu mengetahui bukan hanya menu yang dijual, tetapi juga siapa pembelinya, berapa biaya bahan baku, bagaimana makanan dikirim, berapa harga jual yang masuk akal, dan berapa keuntungan yang diperoleh dari setiap transaksi.

Dengan cara tersebut, keputusan bisnis tidak hanya berdasarkan perasaan, tetapi mulai menggunakan perhitungan.

4. Mulai dengan skala yang terkendali

Memulai bisnis tidak berarti harus langsung menyewa tempat besar atau membeli peralatan mahal. Untuk bisnis tertentu, model minimum viable product (MVP) dapat digunakan untuk menguji respons pasar dengan sumber daya terbatas.

Misalnya, seseorang ingin menjual pakaian. Daripada langsung membeli ratusan produk, ia dapat memulai dengan beberapa desain, melakukan promosi, menerima pesanan, lalu melihat produk mana yang paling diminati.

Pendekatan tersebut membantu mengurangi risiko modal sekaligus menghasilkan data nyata mengenai perilaku konsumen.

5. Pisahkan keuangan pribadi dan bisnis

Salah satu fondasi penting yang sering diabaikan pelaku usaha pemula adalah pencatatan keuangan.

Uang hasil penjualan bukan otomatis keuntungan. Pelaku usaha harus menghitung harga pokok, biaya operasional, pemasaran, transportasi, biaya platform, serta pengeluaran lainnya. Dari sana dapat diketahui apakah bisnis benar-benar menghasilkan laba.

Kesalahan sederhana seperti mencampur uang bisnis dengan uang pribadi dapat membuat pemilik usaha sulit mengetahui kondisi sebenarnya. Karena itu, sejak awal sebaiknya tersedia pencatatan pemasukan dan pengeluaran yang sederhana tetapi konsisten.

Digitalisasi dan Legalitas sebagai Fondasi Pertumbuhan

Setelah bisnis mulai berjalan, tantangan berikutnya adalah membangun sistem agar usaha tidak bergantung sepenuhnya pada pemilik.

Digitalisasi dapat membantu proses tersebut. Bank Indonesia menyebut QRIS sebagai standar pembayaran yang dirancang agar transaksi menjadi lebih cepat, mudah, murah, aman, dan andal, serta menjadi salah satu pintu masuk UMKM ke ekosistem digital.

Perkembangan tersebut terlihat dari penggunaan QRIS yang semakin luas. Bank Indonesia mencatat bahwa pada 2025 hampir 60 juta pengguna telah menggunakan QRIS dan sekitar 93 persen pengguna tersebut merupakan UMKM.

Namun, digitalisasi tidak boleh dipahami sebatas memiliki akun media sosial. Digitalisasi yang bermanfaat harus membantu bisnis dalam pemasaran, pembayaran, pencatatan transaksi, pelayanan pelanggan, hingga pengambilan keputusan.

Legalitas juga perlu diperhatikan ketika usaha mulai berkembang. Sistem Online Single Submission (OSS) menyediakan layanan perizinan berusaha berbasis risiko, sementara Nomor Induk Berusaha (NIB) menjadi identitas resmi bagi pelaku usaha untuk memulai atau menjalankan kegiatan usaha di Indonesia. Jenis izin dan kewajiban dapat berbeda berdasarkan tingkat risiko serta bidang usaha.

Legalitas bukan sekadar formalitas. Bagi bisnis yang ingin berkembang, masuk ke rantai pasok perusahaan besar, mengakses pembiayaan, mengikuti pengadaan, atau memperluas pasar, administrasi usaha yang tertata dapat menjadi modal penting.

World Bank juga menilai sektor swasta dan UMKM memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia, sementara peningkatan produktivitas dan kemampuan bisnis untuk berkembang menjadi bagian penting dalam agenda pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Penutup

Memulai bisnis pada dasarnya bukan perlombaan untuk memiliki modal paling besar. Tantangan sebenarnya adalah menemukan masalah yang layak diselesaikan, memahami pelanggan, menawarkan nilai yang jelas, kemudian membangun sistem yang mampu menghasilkan pendapatan secara berkelanjutan.

Karena itu, calon pengusaha tidak perlu menunggu sampai memiliki modal besar atau ide yang dianggap sempurna. Bisnis dapat dimulai dari skala kecil dengan melakukan riset sederhana, menguji produk, mencatat keuangan, mengevaluasi respons pelanggan, dan memperbaiki model usaha berdasarkan data.

Pada akhirnya, bisnis yang bertahan bukan selalu bisnis yang pertama kali muncul dengan ide paling unik. Bisnis yang mampu bertahan adalah bisnis yang memahami konsumennya, mampu mengendalikan biaya, terus beradaptasi, dan menciptakan nilai secara konsisten.

Memulai dari nol memang berarti menghadapi ketidakpastian. Namun, ketidakpastian tersebut dapat dikurangi ketika keputusan bisnis dibuat melalui validasi, perhitungan, dan pembelajaran yang terus-menerus.

Referensi

  1. Badan Pusat Statistik (BPS). Metadata Statistik UMKM dan definisi usaha mikro, kecil, dan menengah.
  2. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI. UMKM Indonesia dan kontribusinya terhadap perekonomian nasional, 2024.
  3. World Bank. Indonesia Economic Prospects: Unleashing Indonesia’s Business Potential, 2024.
  4. World Bank. Indonesia Growth and Jobs Report: Running Faster, for Longer.
  5. World Bank. Opening Opportunities: Gender Gaps in Entrepreneurship in Indonesia.
  6. Harvard Business Review. Magretta, J. Why Business Models Matter.
  7. Harvard Business Review. Ovans, A. What Is a Business Model?
  8. Harvard Business Review. Osterwalder, A. A Better Way to Think About Your Business Model.
  9. Harvard Business School/Harvard Business Review. Business Model Analysis for Entrepreneurs.
  10. Bank Indonesia. Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
  11. Bank Indonesia. Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 3 Tahun 2025 tentang QRIS.
  12. Online Single Submission (OSS). Sistem Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik.
  13. OECD. Financing SMEs and Entrepreneurs 2026.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image