Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ahmad Rahmatulloh

Diri yang Selama Ini Terlupa

Sastra | 2026-08-06 03:59:28

DIRI YANG SELAMA INI TERLUPAEmpat Bab Perjalanan Pulang Ke Yang Terdekat

Oleh: Ahmad Rahmatulloh DavidLie

Diri Yang Selama Ini Terlupa
Diri Yang Selama Ini Terlupa

https://youtu.be/b8HIr8fVdto?si=L59F7PGndlkmCeHB

Puisi Liris:

Diri Yang Selama Ini Terlupa

Karya: Ahmad Rahmatulloh DavidLie

Di tengah riuhnya dunia yang terus berjalan, tanpa pernah menoleh ke belakang, tanpa pernah bertanya siapa yang tertinggal, ada sebuah hati yang diam-diam meratap. Bukan ratapan yang keras, bukan tangis yang menggema, melainkan suara sunyi yang teredam oleh deru kehidupan—seperti bunyi jam dinding di ruangan yang terlalu ramai, seperti napas seseorang yang terlalu lama menahan sesuatu yang sebenarnya ingin diucapkan. Terlalu lama ia mencari di luar sana, di balik jendela-jendela yang terbuka lebar, di ujung jalan yang tak pernah ada ujungnya, di wajah-wajah asing yang sempat dijadikan sandaran. Ia mencari makna, mencari cinta, mencari rumah, tanpa sadar bahwa semua yang dicarinya sejak awal sudah ada di dalam dirinya sendiri. Hingga suatu hari, ketika langkah sudah terlalu lelah dan mata sudah terlalu kabur, ia baru menyadari: ia telah lupa siapa diri sebenarnya.
Kakinya melangkah, tapi jiwanya tertinggal jauh di belakang, duduk sendirian di persimpangan jalan yang pernah dilewati. Matanya memandang ke segala arah, ke segala hal yang berkilau, yang menggoda, yang menjanjikan. Tapi ia tak pernah benar-benar melihat. Karena yang seharusnya dilihat bukanlah di luar, melainkan di dalam—di ruang sunyi yang selama ini menunggu untuk disapa, di sudut hati yang tak pernah benar-benar ditinggalkan, di sana ada cinta yang tak pernah benar-benar pergi. Cinta itu bukan datang dari seseorang, bukan pula dari sesuatu. Cinta itu adalah dirinya sendiri, yang selama ini ia cari di mata orang lain, padahal ia seharusnya menemukannya di dalam dekapannya sendiri.
Maka pulanglah. Pulanglah pada diri sendiri. Kembali ke sumber yang tak pernah mati, ke mata air yang meski terkubur debu tetap mengalir di balik batu-batu keras, ke api kecil yang meski tertiup angin badai tetap menyala di balik tutup tanganmu, ke tanah yang selalu siap menampung setiap langkahmu meski kau lupa berterima kasih, ke angin yang terus berhembus menyapa wajahmu meski kau tak pernah menyapa balik. Air mengalir, air menyala, tanah berpijak, angin berhembus—empat sahabat yang setia menjaga raga ini, yang tak pernah protes meski kau seringkali lupa akan kehadiran mereka. Mereka datang bukan untuk mengajarkan kesempurnaan, karena kesempurnaan adalah dusta yang dijual oleh dunia. Mereka datang untuk mengajarkan cinta. Cinta yang sederhana. Cinta yang tidak menuntut. Cinta yang hanya meminta satu hal: berani hadir apa adanya.
Melepas beban. Melepas lara. Bukan dengan lari, bukan pula dengan melawan, melainkan dengan duduk diam dan mengakui bahwa luka itu ada, bahwa letih itu nyata, bahwa kehilangan itu pernah terjadi. Dan di saat itulah kau akan menyadari sesuatu yang menakjubkan: bahwa kau bukanlah pengembara yang tersesat, melainkan rumah yang selama ini kau cari. Rumah itu bukan di ujung jalan, bukan di pelukan seseorang, bukan di kota yang belum pernah kau datangi. Rumah itu ada di dalam dadamu, di dalam hening yang kau takuti, di dalam sunyi yang kau hindari. Di situlah jawabannya ada. Di situlah tenang. Di situlah damai.
Pulanglah. Bukan dengan langkah cepat, bukan pula dengan tangan yang gemetar. Pulanglah perlahan, seperti air yang mengalir menemukan kembali muaranya, seperti api yang kembali menyala setelah terlalu lama ditutup, seperti tanah yang kembali subur setelah musim kemarau, seperti angin yang kembali lembut setelah badai. Kembali ke sumber yang tak pernah mati. Karena di sana, di dalam dada, di dalam hening yang tak bernama, di dalam sunyi yang penuh kasih, kau akan menemukan kembali dirimu yang selama ini terlupa. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang terlalu lama, kau akan merasa pulang.

https://youtu.be/b8HIr8fVdto?si=L59F7PGndlkmCeHB



Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image