Indonesia Dimulai dari Kiri: Memahami Pemikiran Tan Malaka dan Sjahrir
Politik | 2026-07-30 15:58:41
Oleh: Milenia Ferlihanisa S.Sos
Jika kita menengok kembali sejarah gagasan kebangsaan, Indonesia tidak lahir dari ruang hampa atau sekedar kesepakatan kompromistis. Bangsa ini sejatinya lahir dari perdebatan ideologis yang radikal dan progresif, lahir dari sebuah gerakan pemikiran yang secara mendasar berdiri di sayap "kiri" (perjuangan & perlawanan).
Pemikiran awal tentang Indonesia Merdeka bisa dikatakan dipelopori oleh gagasan-gagasan kedaulatan rakyat, anti-imperialisme dan keadilan sosial yang secara teoritis dan praktis fondasinya diletakkan oleh dua tokoh penting dalam sejarah perjuangan bangsa: Tan Malaka dan Sutan Sjahrir.
Melalui karyanya yang monumental, Naar de Republiek (1925), Tan Malaka menjadi pendorong utama konsep "Indonesia" sebagai sebuah Republik. Jauh sebelum Sumpah Pemuda atau Proklamasi 1945: Tan Malaka sudah merumuskan visi geopolitik dan ekonomi sebuah bangsa yang merdeka secara penuh.
Pemikiran Tan Malaka adalah pemikiran kiri yang tegas: kemerdekaan bukan sekedar pergantian bendera, melainkan pembongkaran total atas struktur kapitalisme dan imperialisme barat yang menindas rakyat. Tan Malaka menegaskan bahwa persatuan nasional harus dibangun atas dasar kesadaran kelas dan tindakan yang konkret.
Naar de Republiek Indonesia tidak hanya menjadi dokumen ideologis, tetapi juga sebuah panduan aksi bagi pergerakan massa. Gagasan Tan Malaka membuktikan bahwa dorongan awal untuk membentuk wadah politik bernama "Indonesia" dipicu oleh analisis materialis yang kritis terhadap penjajahan, sebuah fondasi kiri yang menuntut kemandirian ekonomi dan kebebasan politik yang berdikari.
Namun, mengkritik imperialisme saja tidaklah cukup untuk mempertahankan republik yang baru lahir. Di sinilah Sjahrir hadir melengkapi spektrum pemikiran tersebut melalui brosurnya yang terkenal, Perjuangan Kita (1945). Jika Tan Malaka meletakkan visi makro tentang republik dan perjuangan anti-imperialisme, Sjahrir memberikan sentuhan otokritik yang cukup tajam terhadap kondisi internal masyarakat Indonesia pasca-pendudukan Jepang.
Dalam Perjuangan Kita, Sjahrir mengkritik keras benih-benih fasisme dan feodalisme yang terinjeksi dan mulai menjangkiti ke dalam jiwa-jiwa pemuda Indonesia selama masa pendudukan Jepang. Sjahrir mengingatkan bahwa perjuangan perjuangan kemerdekaan akan kehilangan maknanya jika bangsa Indonesia hanya meniru metode otoriter para penjajah.
Bagi Sjahrir, cita-cita kiri, sosialisme, harus berjalan bergandengan tangan dengan demokrasi, kemanusiaan dan kebebasan berfikir bukan kebebasan untuk mengikuti suatu hal tanpa dasar yang jelas atau mengkultuskan individu. Sjahrir menegaskan bahwa revolusi Indonesia haruslah sebuah revolusi kerakyatan yang berasaskan demokrasi sosial.
Kerakyatan yang sejati tidak boleh mengorbankan rasionalitas dan hak-hak sipil demi euforia nasionalisme sempit. Melalui pandangan ini, Sjahrir membawa tradisi kiri-demokratis yang menekankan pentingnya pendidikan politik, pembersihan elemen fasistis dan tata kelola negara yang menjunjung tinggi kebebasan warga negara.
Perpaduan gagasan dari Naar de Republiek Indonesia dan Perjuangan Kita memperlihatkan betapa kuatnya akar pemikiran kiri dalam pembentukan Indonesia. Tan Malaka memberi kita keberanian untuk bermmpi besar dan meruntuhkan struktur penjajahan, sementara Sjahrir memberi kita pengingat moral agar tidak terjebak dalam otoritarianisme atas nama nasionalisme. Keduanya sama-sama menempatkan rakyat jelata (Proletar) sebagai pemilik sah republik ini.
Mengingat kembali bahwa "Indonesia dimulai dari kiri" bukanlah upaya untuk memprovokasi, melainkan ajakan untuk meluruskan sejarah pemikiran bangsa. Kita perlu menyadari bahwa ide-ide dasar seperti keadilan sosial, kerakyatan, dan penolakan atas penindasan adalah wacana kiri yang membentuk fondasi Indonesia.
Memahami warisan Tan Malaka dan Sjahrir membantu kita menilai kembali apakah Republik kita hari ini masih berjalan di atas rel keadilan rakyat yang dulu mereka cita-citakan?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
