Ketika Tuhan Dibicarakan oleh Kekuasaan
Agama | 2026-04-03 08:59:03
Dalam beberapa tahun terakhir, kita semakin sering menyaksikan bagaimana agama hadir dalam ruang-ruang politik. Identitas keagamaan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan pilihan politik masyarakat. Di Indonesia, misalnya, isu agama kerap muncul dalam kampanye, pidato, hingga strategi mobilisasi massa. Di banyak negara lain, fenomena serupa juga terjadi, agama tidak lagi hanya menjadi ruang privat, tetapi ikut dipertarungkan di panggung kekuasaan.
Fenomena ini bukan sekadar kebetulan. Agama memiliki kekuatan simbolik yang besar. Ia menyentuh sisi terdalam manusia, yaitu keyakinan, harapan, dan ketakutan. Ketika kekuasaan mulai membicarakan Tuhan, sebenarnya yang sedang dimainkan bukan hanya soal iman, tetapi juga legitimasi. Sebab, berbicara atas nama Tuhan sering kali terdengar lebih meyakinkan daripada berbicara atas nama manusia.
Namun di sinilah pertanyaan penting muncul, apakah Tuhan benar-benar hadir dalam percakapan itu, atau hanya dijadikan alat?
Bayangkan sebuah lentera di tengah kegelapan. Lentera itu adalah agama yang memberi cahaya. Tetapi ketika lentera itu dipegang oleh tangan yang ingin berkuasa, ia bisa berubah fungsi. Cahaya yang seharusnya menerangi jalan, justru diarahkan untuk membutakan mata orang lain. Kita tidak lagi melihat jalan dengan jernih, melainkan hanya melihat apa yang ingin diperlihatkan.
Dalam sebuah gagasan disebutkan bahwa sesuatu yang sakral kehilangan maknanya ketika diperalat untuk tujuan profan. Ketika Tuhan dibicarakan dalam ruang kekuasaan, ada risiko bahwa Ia direduksi menjadi sekadar simbol, bukan lagi sumber nilai, melainkan alat retorika. Tuhan yang seharusnya tak terbatas, tiba-tiba dipersempit dalam slogan, dikemas dalam narasi, bahkan diposisikan seolah-olah “memihak”.
Padahal, jika kita merenung lebih dalam, Tuhan tidak membutuhkan pembelaan dari manusia, apalagi dari kekuasaan. Justru manusialah yang membutuhkan Tuhan sebagai kompas moral. Ketika hubungan ini dibalik, ketika manusia menggunakan Tuhan untuk membenarkan ambisi maka yang terjadi adalah distorsi.
Seperti cermin yang retak, bayangan yang kita lihat menjadi tidak utuh. Kita merasa melihat kebenaran, padahal yang tampak hanyalah fragmen yang sudah terpecah.
Masalahnya, banyak orang tidak menyadari retakan itu. Ketika agama dibungkus dalam bahasa politik yang meyakinkan, ia terasa benar. Ketika dikaitkan dengan identitas kelompok, ia terasa dekat. Dan ketika diulang terus-menerus, ia terasa seperti kebenaran itu sendiri.
Di sinilah pentingnya kesadaran bukan untuk menolak agama dalam kehidupan publik, tetapi untuk menjaga agar agama tetap berada pada esensinya, yaitu membimbing, bukan dimanfaatkan, dan menyatukan, bukan memecah.
Kita bisa belajar dari analogi sederhana, air yang jernih bisa diminum dan memberi kehidupan. Tetapi jika air itu dicampur dengan kepentingan yang keruh, ia tetap terlihat seperti air namun tidak lagi layak diminum. Begitu pula dengan agama. Ia tetap terdengar suci, tetapi bisa kehilangan maknanya jika dicampuri ambisi kekuasaan.
Maka, ketika kita mendengar Tuhan dibicarakan oleh kekuasaan, mungkin yang perlu kita lakukan bukan langsung percaya, melainkan bertanya. Apakah ini benar suara nilai, atau hanya gema kepentingan? Apakah ini mengajak kita untuk memahami, atau justru untuk memihak tanpa berpikir?
Pada akhirnya, iman adalah ruang yang sunyi yang tumbuh dalam kejujuran, bukan dalam hiruk-pikuk perebutan pengaruh. Tuhan tidak perlu diperebutkan di panggung politik, karena Ia tidak pernah menjadi milik siapa pun.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
