Ini yang Disayangkan: Belum Ada Gedung Pertunjukan (Teater) Tertutup
Drama | 2026-07-25 16:54:34Oleh: Syafril (Prel T)
Dosen FIB Universitas Andalas dan Anggota Bumi Teater
Di Universitas Andalas (Unand) Padang, tepatnya Fakultas Ilmu Budaya, teater atau drama merupakan bagian dari kegiatan kurikuler maupun kokurikuler. Sebagai kegiatan kurikuler, ia merupakan mata kuliah wajib di program studi Sastra Indonesia, Sastra Minang, Sastra Inggeris, dan Sastra Jepang. Di prodi Sastra Indonesia dengan mata kulah Kajian Drama (sebelumnya Kajian Drama Indonesia), di Sastra Minang dengan mata kuliah Kajian Drama Minang, di Sastra Inggeris dengan mata kuliah Drama, dan Sastra Jepang dengan mata kuliah Bunkasai. Sedangkan sebagai kegiatan kokurikuler, ia menjadi fokus aktivitas UKMF (Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas) Teater Langkah, Teater Cermin, dan BSTM (Bada Seni Tradisional Mahasiswa), dan termasuk HMJ. Sebelumnya dilengkapi dengan Teater Sema (Senat Mahasiswa), dan Teater Eksperimental.
Kurikulum mata kuliah drama di Unand, tepatnya FIB, memang berbeda dengan di perguruan tinggi lain. Perbedaan ini sesungguhnya yang menjadi keunikannya, yaitu mahasiswa diwajibkan untuk mementaskan drama. Ini yang tidak ada umumnya di perguruan tinggi umum lainnya (tentu selain perguruan tinggi seni, seperti ISI). Bukan dipentaskan di depan kelas sebagaimana umumnya di sekolah menengah dulu (mungkin juga kini). Akan tetapi dipentaskan dengan semua sarana perlengkapan panggung di atas panggung dan di hadapan penonton umum. Hal ini sudah berlangsung sejak tahun 1986—terhitung sejak Wisran Hadi (almarhum, seorang tokoh dramawan/teaterawan nasional Indonesia) menjadi ketua pengampu mata kuliah tersebut.
Apa alasannya? Wisran Hadi pernah bilang begini. Teks drama sekarang (kontemporer) tidak sama dengan sebelumnya. Kalau dulu teks drama ditulis hanya untuk dibaca tapi kini bukan saja untuk dibaca namun terutama untuk dipentaskan. Artinya, teks drama itu selain dikomunikasikan dengan bahasa sastra, lebih banyak dengan bahasa panggung/pertunjukan secara praktis. Apa artinya? Mahasiswa tidak akan atau kurang dapat memahami teks drama itu jika tidak memiliki pengetahuan tentang bahasa panggung/pertunjukan secara praktis itu. Untuk memiliki kemampuan itu maka mahasiswa, agar dapat menjadi pengkaji/peneliti drama sesuai dengan capaian mata kuliah, mereka wajib mementaskan (dengan menjadi pemain, sutradara, dan para penata) drama untuk mencari pengetahuan melalui pengalaman penciptaan sendiri. Pengalaman itulah yang memberikan pengetahuan praktis tentang bahasa panggung/pertunjukan dalam setiap teks drama yang dimaksud. Oleh karena itu, mementaskan drama (termasuk latihan-latihan persiapannya) menjadi salah satu tugas wajib (yang dinilai), selain pengkajian/penelitian teks drama tersebut. Hal yang sama umumnya juga berlangsung dalam prodi Sastra Minang, Inggeris, dan Jepang.
Pementasan drama yang dimaksud, khususnya untuk prodi Sastra Indonesia sejak awal dilaksanakan di atas panggung di depan publik atau penonton umum. Prodi Sastra Inggeris dilaksanakan sejak tahun 2000-an, dan disusul kemudian Sastra Jepang. Panggung mana yang dipergunakan? Memang sejak berdiri tahun 1982 Fakultas Ilmu Budaya tidak mempunyai gedung pertunjukan. Namun demikian, sejak awal berdiri itu hingga sebelum pindah ke Limau Manis (FIB pindak ke Limau Manis tahun 1989 akhir), pementasan drama terutama mata kuliah Kajian Drama untuk prodi Sastra Indonesia dan kemudian menyusun prodi Sastra Minang, dilaksanakan di Aula Unand (aula di rektorat Unand lama, yaitu di Jati) dan juga pernah di Aula Ekonomi Unand, Jati itu. Sesekali juga di Teater Tertutup Taman Budaya Provinsi Sumatera Barat (sekarang sudah rata dengan tanah).
Tahun 1989 akhir, kampus FIB pindah ke Limau Manis. Perlu dicatat bahwa semula tidak ada satupun fakultas yang bersedia pindah ke Limau Manis. Semua menolak dengan alasan tidak mau tinggal bersama monyet (waktu itu kawasan kampus Unand Limau Manis masih hutan dan memang banyak monyet berkeliaran). FIB (waktu itu Fakultas Sastra) yang memang merupakan fakultas di Unand yang tidak punya kampus (kampus di Jati yang digunakan sebelumnya itu adalah tempat penyimpanan mayat untuk praktik mahasiswa Fakultas Kedokteran, bekerja sama dengan Rumah Sakit M. Djamil) berhasil dibujuk dan menjadi fakultas yang pertama sekali bersedia pindah ke Limau Manis. Salah satu cara membujuknya, yang dilakukan oleh dekan waktu itu adalah dengan mengatakan bahwa di Unand Limau Manis nanti akan dibangun gedung teater pertunjukan tertutup! (Padahal sampai sekarang gedung yang dimaksud tidak pernah ada). Jadi sejak awal pindah hingga tahun 2013, pementasan mata kuliah terus dilakukan di Aula Unand Jati, Aula Ekonomi Jati, Teater Tertutup Taman Budaya Provinsi Sumbar, dan pernah juga Aula RRI Padang, meskipun kuliahnya di kampus Limau Manis. Bagaimana bisa menggunakan gedung yang bukan milik sendiri? Kadang-kadang dengan mengeluarkan sewa, atau uang kebersihan yang sesuai prosedur. Dari mana uangnya? Tentu saja kantong para mahasiswa yang mengambil mata kuliah.
Ketika berada di Limau Manis, bukan tidak ada upaya pihak yang mengambil kebijakan di FIB untuk membangun gedung pertunjukan sendiri. Usaha itu ada, setidaknya ditunjukkan oleh 2-3 Dekan yang pernah memimpin. Akan tetapi kandas setelah dibicarakan. Halangannya sama: tidak tersedia cukup dana.
Alhamdulillah pada tahun 2013 selesai gedung teater terbuka yang biasa disebut MNB (Medan Nan Balinduang)—konon kabarnya tidak dibangun oleh FIB-- dan sejak tahun ini, langsung menjadi sarana pertunjukan drama mata kuliah semua prodi di FIB. Tidak hanya itu, MNB juga dipergunakan menjadi sarana yang sama oleh seluruh UKMF Teater di kampus FIB. Termasuk juga seluruh HMJ juga mempergunakan sarana ini untuk keperluan pergelaran acara mereka.
Akan tetapi keberadaan MNB itu sekarang relatif menimbulkan masalah. Pertama, karena kawasan Limau Manis ini sering turun hujan (mungkin karena di atas bukit), maka pentasnya tidak bisa dipakai ketika hujan. Di atas panggungnya memang tidak ada atap. Atap hanya menaungi bagian tempat duduk penonton. Seringkali ketika acara berlangsung, hujan turun, maka pihak yang mentas bubar, atau menunda hujan reda. Kedua, jalan pintu masuknya dibuat terlalu rendah sehingga sering terjadi orang yang masuk ke kepalanya terantuk. Ketiga, saat ini atapnya banyak yang bocor dan bila hujan turun, akan menetes ke orang-orang yang duduk di kursi penonton. Termasuk masalah tidak bisanya melakukan pementasan di siang hari karena arena MNB ini terbuka. MNB yang terbuka ini sering memicu konflik dengan aturan kampus yang melarang berkegiatan hingga malam—sementara kegiatan hanya bisa dilakukan pada malam hari karena hanya pada malam hari baru bisa difungsikan lampu atau pencahayaan panggung.
Bukan pula tidak ada upaya pihak pengambil kebijakan kampus memperbaiki atau merenovasi MNB. Ada, namun kembali dihalangi masalah tidak cukup dana, katanya. Begitulah. Semoga ada tangan-tangan yang baik tidak hanya merenovasi MNB tapi sekaligus membangun sebuah gedung pertunjukan/teater tertutup yang layak sebagai sarana pelaksanaan mata kuliah drama yang sangat dibutuhkan oleh semua prodi di FIB ini.
Meski demikian, pelaksanaan kegiatan perkulian drama, termasuk kegiatan-kegiatan yang berasal dari kelompok-kelompok kokurikuler, semoga terus berlangsung, sampai sarana perkuliahan yang layak itu wujud. Amiin***
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
