Naskah Drama Lakon Tieng Shin Karya Adinda Nur Rizky
Sastra | 2026-06-14 15:51:38
SINOPSIS
DI ERA TAHUN 1890-AN, hiduplah saudagar China-Betawi kaya raya bernama Tieng Shin. Kekayaan yang berlimpah dan sikap Tieng Shin yang dermawan membuat para pribumi banyak yang bekerja di perkebunan karet miliknya. Sosoknya itu sangat diagung-agungkan oleh warga sekitar. Hampir seluruh masyarakat di wilayah perkampungannya, tidak ada satupun yang tidak mengenalinya. Tieng Shin merubah bahtera kehidupan warga menjadi sejahtera. Siapapun yang meminta bantuannya, ia akan segera memberi bantuan derma secara tak segan-segan.
Lambat laun, kemunculan Paman Husni menjadi gentar terhadap Tieng Shin. Sepuluh tahun silam, kedua orang tua Tieng Shin mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Tinggal-lah Tieng Shin seorang diri, lalu dititipkan ia kepada kakak dari Ayahnya yakni Paman Husni. Pamannya itu satu-satunya keluarga yang tersisa dan ternyata tanpa sepengetahuan dirinya bahwa Paman Husni sudah lama diselimuti perasaan iri dengki atas keluarga Tieng Shin yang mendapati kemakmuran ekonomi. Pintu hatinya benar-benar sudah tertutup, sampai ia tega hati mengusir Tieng Shin dari rumah sepeninggalan orang tuanya.
Sejak kejadian itu, Tieng Shin dan pamannya berpisah layaknya bayangan yang menghilang saat matahari terbenam, tidak ada satupun jejaknya. Bertahun-tahun dilewati tanpa adanya saling bertukar kabar. Paman Husni meyakini setelah Tieng Shin diusir, nasib malang dirinya dahulu akan berpindah ke Tieng Shin. Namun perkiraannya pun salah, justru kehidupan Tieng Shin jauh lebih makmur dibandingkan mendiang kedua orang tua Tieng Shin. Tidak mengira kalau selama ini kedua orang tua Tieng Shin diam-diam menyembunyikan dari Paman Husni bahwa mereka memiliki perkebunan karet yang diperuntukkan Tieng Shin melanjuti usaha perkebunannya saat kelak ia dewasa nanti.
Kabar Tieng Shin menjadi saudagar kaya raya pun menyebar sampai ke telinga Paman Husni. Kemurkaannya itu semakin menjulang. Hingga akhirnya, ia bersikeras memikirkan cara kotor untuk merebut kejayaan Tieng Shin kembali. Ia bermaksud ingin melakukan perjodohan paksa antara Tieng Shin dengan selirnya, yakni seorang None Belanda. Bagi Tieng Shin perilaku pamannya ini sudah diluar batas, sebetulnya ia tidak ingin hubungan ikatan keluarga dengan Paman Husni terus-menerus terpecah belah hanya semata-mata karena harta. Menurutnya, mencegah perbuatan pamannya itu tidak bisa sekadar diberi nasihat saja. Tindakan tersebut berulang kali ia coba namun selalu gagal dan tidak membuahkan hasil yang baik. Sehingga, Tieng Shin memutuskan untuk menghilang dari jangkauan Paman Husni dan meninggalkan perkebunan karet serta harta kekayaannya agar ia bisa hidup dengan damai.
BABAK 1
BRAK! BUK! MEJA PANJANG YANG DIAM TAK BERNYAWA DI TABRAK-TABRAK. SAYUR MAYUR DAN BUAH-BUAHAN TERCECER KE TANAH. BAU KERINGAT MENYATU DI ANTARA PULUHAN ORANG. RIUH ANTUSIAS WARGA DESA KEMBALI BERGEMA DI SEKITAR PERKARANGAN PERKEBUNAN KARET YANG HENDAK MEMINTA JATAH PANGAN DARI PEMILIKNYA YAKNI SEORANG PRIA YANG DIKENAL DERMAWAN.
Warga: Koh Shin, saya belum dapat. Bagikan saja pakai nomor urut agar kami semua dapat secara tidak desak-desakkan dan merata!
Para warga lainnya: Iya Koh Shin benar! Yang ikut mengantri tidak semuanya taat ketertiban, kami lihat ada saja yang menyerobot antrian dan kembali mengantri ke barisan depan.
PARA WARGA MENGAMBIL BAHAN PANGAN YANG DISIAPKAN DI MEJA PANJANG DENGAN BEBAS
Anak buah: Ya kalo pengen dapat secara rata dari kesadaran masing-masing aje. Kite kan jadi tahu mana warga yang punya etika dan mana yang tidak.
Tieng Shin: Nih olang kalo ngomong gak bisa disaring dulu. Mancing amuk massal aje! (GARUK-GARUK KEPALA MENDENGAR CELUTUKAN ANAK BUAHNYA).
Tieng Shin: Sabar ya Encang Encing terhormat! Biar nih anak buah saya hitung dulu berapa total warga dimarih. Lepas itu saya bagikan nomor urutnya.
Tieng Shin: Eh tong sini! (MEMANGGIL SALAH SATU ANAK BUAHNYA).
Anak buah: (MENGHAMPIRI TIENG SHIN) Ada apa Koh Shin?
Tieng Shin: Ane mau minta tolong. Ini kan orang yang ngantri bejibun, ente tolong awasin siapa-siapa yang udah dapat sama yang belum dapat. Buat yang belum, tolong ente bikinin tuh orang nomor antrian. Habis tuh bagiin satu-satu biar kondusif ini semua.
Anak buah: Tapi Koh, para warga di sini pada slebor, sukar dibilanginnya. Masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Dari tadi saya udah teriak-teriak satupun gak ada yang denger. Emang kalo dibuat nomor antrian bakalan kondusif dan kebagian semua Koh? Semua bahan pangan aja berserakan di tanah, sisanya yang masih bagus saya gak tahu sama gak jumlahnya sama yang belum kedapatan.
Tieng Shin: (MENELAN LUDAH) Hem, bener juga apa kata ente. Gini aja, coba ente umumin pake kentongan. Suruh para warga berhenti dulu berebutan sayurannya. Bilang tenang aja pasti semua kebagian. Kalo udah rapi orang-orangnya, ini sayuran yang jatuh-jatuh kite beresin. Setelah itu, kite hitung sama-sama sisa sayuran yang masih layak. Yang lainnya tolong bantu pilahin warga yang belum dapat sama yang udah, tapi jangan pake kekerasan. Misal nih sayuran kurang ganti pake uang, gimana?
Anak buah: Siap Koh Shin!
SEMUA ANAK BUAH LANGSUNG MELAKSANAKAN PERINTAH TIENG SHIN SESEGERA MUNGKIN.
Anak buah: (TUK TUK! KENTONGAN DIBUNYIKAN) Tolong perhatiannya Encang Encing, Emak Babeh. Bagi yang mendengar disayang Koh Shin yang tampan! (KETAWA PUAS). Begini semuanya, dikarenakan situasi di sini kurang memadai alangkah baiknya seluruh warga dipersilakan berhenti sejenak. Kami sedang buatkan nomor antrian khusus para warga yang belum kebagian. Bagi yang sudah, harap pengertiannya untuk tidak ikut mengantri ke barisan lagi.
Lanjut anak buah: Kami pastikan seluruh warga kebagian bahan pangan secara rata dan tidak desak-desakkan seperti tadi! Sekian, terima kasih.
PARA WARGA PUN MENGIKUTI ARAHAN ANAK BUAH KOH SHIN. SELURUH WARGA MEMINGGIR DAN DENGAN PENGAWASAN MEREKA, DIPASTIKAN TIDAK ADA YANG MENCOBA MENGAMBIL BAHAN PANGAN DUA KALI ATAU LEBIH. SATU PER SATU WARGA BERBARIS ULANG DAN KOH SHIN MULAI MEMBAGIKAN NOMOR ANTRIAN SECARA TERTIB. SYUKUR SISA BAHAN PANGAN YANG LAYAK JUMLAHNYA RATA BAHKAN ADA LEBIHNYA.
SITUASI ANTRIAN DI PERKARANGAN PERKEBUNAN KARET TIENG SHIN MEMBAIK DAN ENAK DIPANDANG. TIDAK SEPERTI SEBELUMNYA YANG RUWET BIKIN SAKIT KEPALA.
BABAK 2
SEBUAH BANGSAL KECIL BERKAYU HAMPIR REYOT DIKERUMUNI PARA PEMBELA KEMERDEKAAN TERDIRI DARI PEMUDA PRIBUMI YANG SEDANG ASYIK BERMAIN CATUR DENGAN UANG TARUHANNYA. HINGGA LARUT TANPA TAHU WAKTU. SALING MENARUH TEKAD KEMENANGAN. TANPA DIKASIH AMPUN BAGI PEMAIN-PEMAIN YANG LEMAH DAN KALAH. SALAH SATUNYA MEMBUKA OBROLAN.
Abdullah: (BERDIRI DAN MEMASANG MUKA MASAM BERLAGA PEMENANG) Uang saya jumlah nominalnya belum berkurang malah ditambah. Dasar picik, tidak tahu aturan mainnya! Bermain kayak gini saja sudah kalang kabut. Gimana mau mengalahkan korporat Belanda?
Rusli: Tenang saja, Dullah. Masih ada banyak kesempatan untuk membolak-balikkan takdir. Walau ujungnya tak pasti, tapi setidaknya kita tidak mandek di pertengahan dan terus berjuang melawan (BERBICARA DENGAN INTONASI PERCAYA DIRI DAN MENDOKTRIN ORANG-ORANG).
Abdullah: Begini-lah rakyat Indonesia, tong kosong nyaring bunyinya. Omongannya saja yang besar tindakannya nihil. Tunggu diinjak-injak baru berani berkoar. Di mana pendiriannya? Ini yang disebut pembela kemerdekaan?
Sabeni: Sudahlah, Dullah. Ente berlebihan, kite kan cuma lagi main catur bukannya sedang beranalogi politikus kemerdekaan. Bangsa Indonesia pun orangnye pintar-pintar. Sama halnya bermain catur, kite mampu merencanakan, memanuver, dan ...
Abdullah: (MENYELA) Mengorbankan pion sendiri untuk keuntungan yang lebih besar? Mengandalkan pion menjadi eksekutor terdepan? Ke mana perginya raja dan prajurit yang katanya memiliki kekuasaan dan wewenang? (MENYERINGAI DAN MEMBUKA TANGANNYA LEBAR-LEBAR).
Rusli: Kami juga sebetulnya ikut prihatin melihat inisiatif bangsa sendiri. Orang-orang seperti kita bisa dihitung jari. Yang ikut pun tidak tahu atas kesadaran diri atau sekadar ikut-ikut saja agar dibilang pengabdi negeri. Ah, entahlah! (IKUT BERDIRI DAN BERNARASI).
Abdullah: Bahkan orang yang hidupnya berjasa bagi khalayak tidak ada rencana gabung bersama kami, sungguh aneh. Saya jadi meragukan kemurahan hatinya. Lihat saja para pegawai di perkebunannya itu orang-orang pribumi. Apa mungkin dia memperalat bangsa kita untuk dijadikan budak? Bukannya sama saja dia seperti kompeni? (BERBICARA KETUS).
Sabeni: (PROTES) Dullah ente boleh membenci para kompeni, tapi jangan sembarang ente sebut-sebut Koh Shin sebagai sekutu di antara mereka!
Abdullah: Loh, yang bilang sekutu siapa? Kan Anda sendiri yang bilang dia seperti itu. Saya hanya bilang meragukan kebaikannya saja.
Sabeni: Secara tidak langsung, ente memprovokatorin perihal Koh Shin. Maaf saja Dullah, kali ini ane tidak setuju dengan perspektif ente. Karena ane tahu betul Koh Shin itu seperti apa orangnye. Dia sangat berjasa bagi hidup banyak rakyat dimarih. Dia tulus dan tidak mungkin berkolusi dengan para kolonial Belanda (MENUNJUK-NUNJUK KE UDARA).
Abdullah: Bagaimana Anda percaya dengan seseorang yang dibesarkan tanpa didikan orang tua? Kalian pernah dengar sejarah kelam keluarganya dia? Pamannya saja tidak ada hati nurani mengusir Koh Shin dari kediaman orang tuanya dulu. Biasanya kan buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Sewaktu-waktu bisa saja sikapnya berubah seperti pamannya.
Sabeni: (PROTES LAGI TAK TERIMA) Tahu apa ente soal keluarga Koh Shin termasuk Paman Husni? Lain kali cari dulu seluk beluk kejadiannya. Emangnye ente menyaksikan langsung di TKP waktu itu? Pasti ente hanya tahu dari orang-orang yang tidak suka dengannya termasuk ente nih jadi ngikut prasangka yang tidak-tidak.
Abdullah: Untuk apa saya angkat bicara kalau belum mencari tahu dulu semuanya, Sabeni. Ada-ada saja kau ini (GELENG-GELENG KEPALA). Orang baik belum tentu benar. Kau lupa kompeni menjanjikan masa depan tapi berujung nahas untuk kami?
SEKETIKA SEORANG TIDAK DIKENAL IKUT MENIMBRUNG OBROLAN MEREKA.
Lelaki paruh baya: Maaf, permisi tuan-tuan. Saya dengar kalian menyebut nama Koh Shin? Kalau boleh tahu siapa Koh Shin yang dimaksud? (BERTANYA DENGAN SEGAN)
Rusli: (HERAN DENGAN KEDATANGAN LELAKI ITU) Bapak ini siapa ya? Mukanya asing sekali, saya belum pernah melihat bapak ada di sekitaran kampung sini. Baru pindah ya, Pak?
Lelaki paruh baya: Betul, Tuan. Saya baru pindah dua hari yang lalu.
Sabeni: (CURIGA) Tadi ane dengar bapak menanyakan Koh Shin. Ada perlu apa, Pak?
Lelaki paruh baya: Begini tuan-tuan semuanya. Sejak dua hari saya pindah itu sering sekali mendengar warga di sini membicarakan Koh Shin, termasuk tuan-tuan muda sekarang ini. Saya dengar juga dia suka berbagi bahan pangan ke para warga. Karena saya hidupnya sebatang kara dan ekonomi sedang sulit, barangkali tuan-tuan muda di sini bisa pertemukan saya dengan Koh Shin (MENUNDUK UNTUK MEMOHON NAMUN IA BERBOHONG).
Abdullah: Kebetulan ada anak buahnya Koh Shin, Pak di sini yang sangat mengagung-agungkan beliau. Bapak bisa dibantu dengannya, betul kan Sabeni? (MELIRIK TAJAM KE ARAH SABENI)
SABENI YANG MENDENGAR CEMOOHAN ABDULLAH MERASA TERGANGGU. RASANYA INGIN SEKALI IA MELEMPAR KURSI TEPAT DIHADAPAN ABDULLAH, NAMUN IA MENGURUNG NIATNYA SEBAB IA TIDAK INGIN MERUSAK HUBUNGAN KERABAT KOMUNITASNYA ITU.
IA PUN MENINGGALKAN SINGGASANA BANGSAL TERSEBUT DAN MENUNTUN LELAKI PARUH BAYA TADI UNTUK BERTEMU KOH SHIN.
BABAK 3
ORANG-ORANG BERSERAGAM COKLAT MUDA MENGENAKAN HELM BRODIE MENGACAK-ACAK PERKEBUNAN DAN MENYERET PARA PENDERES KARET DENGAN KASAR. PONGKOR WADAH HASIL SADAPAN GETAH DICURI — LUDES — TIDAK ADA YANG TERSISA. LANTAS MEREKA MELAPORKAN KEPADA TIENG SHIN SEBELUM PARA KOMPENI MENGHILANG.
Pegawai 1: Gawat Koh Shin! Perkebunan diacak-acak kompeni (TERGESA).
Pegawai 2: Semuanya habis diambil paksa para sekutu termasuk para pegawai yang tidak bersalah.
TIENG SHIN KELABAKAN MENDENGAR KABAR BURUK ITU DAN BERLARI MENUJU PERKEBUNANNYA.
Tieng Shin: (MEMAKI DARI KEJAUHAN) Sialan... Dasar keparat jahanam! (MENGHAMPIRI KOMPENI) Tidak puas-kah selalu merenggut jerih payah orang-orang pribumi? Siapa yang mengutus kalian datang ke perkebunan ini? Kembalikan semuanya. Dasar pencuri tidak tahu diuntung! Sudah menumpang, merampas pula.
Kompeni 1: Kata siapa kami mencuri? Tanah dan negeri ini milik kita. Kalian hanya orang-orang rendahan yang sepatutnya menyerahkan diri ke sekutu kami (BERKACA PINGGANG).
Tieng Shin: Hahaha, gila kalian ini (MENUNJUK MUKA PARA KOMPENI) Muka tembok. Datang disambut baik sesudahnya menindas rakyat kami. (LANJUT MEMAKI) Kurang ajar. Bajingan!
SABENI YANG BARU SAMPAI BERSAMA LELAKI PARUH BAYA TERKEJUT MELIHAT PEMANDANGAN PERKEBUNAN KARET KOH SHIN AMAT BERANTAKAN. MERASA ADA YANG TIDAK BERES SEGERA IA MENYELIDIKI APA YANG SEBENARNYA TERJADI.
DUAR! SUARA TEMBAKAN TERDENGAR KETIKA SABENI HENDAK MENCARI KOH SHIN KE DALAM PERKEBUNAN.
Sabeni: Koh Shin dalam bahaya! Tembakan itu pasti berasal dari senjata para kompeni yang keji (CEMAS).
Lelaki paruh baya: Maksudmu para kompeni menyerang perkebunan ini? Apa kita masih bisa masuk ke dalam tanpa sepengetahuan kompeni?
Sabeni: Ane juga tidak tahu situasi di dalam aman atau tidak. Tapi ane khawatir dengan keadaan Koh Shin dan para pegawai di sana (MONDAR-MANDIR MEMIKIRKAN CARA SUPAYA DAPAT MASUK DENGAN AMAN).
MEREKA MENGENDAP-ENDAP DI BALIK POHON KARET DAN BERPINDAH KE TEMBOK BETON BANGUNAN KECIL SAMPAI KE TEMPAT ASAL SUARA TEMBAKAN ITU.
Sabeni: Nah itu Koh Shin! (TELUNJUKNYA TERTUJU KE ARAH TIENG SHIN) Waduh, ane harus nolongin Koh Shin dari para tikus rakus! (PANIK KEDUA TANGANNYA MEMEGANG KEPALA) Bapak, mau ikut saya ke sana atau tetap di sini?
Lelaki paruh baya: Sebentar, Koh Shin yang tuan muda maksud yang sedang ditodong pistol oleh para kompeni? (TANYA PENASARAN).
Sabeni: Iya, betul. Bapak tolong jaga dimarih saja ya, kalau ane kenapa-kenapa tolong bapak beritahu ke teman-teman saya kalau di sini lagi tidak aman dan beritahu ke mereka juga tolong bantu para pegawai di sini termasuk Koh Shin (LARI MENOLONG KOH SHIN).
Lelaki paruh baya: (MURKA DALAM HATI) Jadi, Koh Shin itu Tieng Shin? Dia yang dimaksud para warga, saudagar kaya raya pemilik perkebunan karet yang dermawan itu? Bodoh... Saya baru tahu!
LELAKI PARUH BAYA YANG TIDAK DIKENALI OLEH SIAPAPUN ITU SEBENARNYA PAMAN HUSNI. PAMAN YANG TELAH TEGA MENGUSIR KEPONAKANNYA DARI MENDIANG ORANG TUANYA SENDIRI. SEMATA-MATA KARENA DIBUTAKAN OLEH HARTA.
SETELAH MENGETAHUI KEBERADAAN TIENG SHIN, KEMURKAANNYA KEMBALI MUNCUL DAN MULAI MENCARI STRATEGI UNTUK MENJATUHKAN TIENG SHIN. IA ANGKAT KAKI DARI PERKEBUNAN, ACUH TERHADAP PESAN DARI SABENI KEPADANYA.
Paman Husni: Kok bisa hidup Tieng Shin jadi sukses gini. Dari mana tuh anak dapatin lahan kebun karet itu? Perasaan harta milik enyak babehnya sudah saya rampas semuanya, tidak ada yang tertinggal satu pun. Apa selama ini mereka menyembunyikan dari saya? Tidak bisa dibiarin (BERGUMAM SEPANJANG JALAN).
PAMAN HUSNI PULANG KE KEDIAMANNYA DAN DISAMBUT DUA SELIR CANTIK YANG SIAP MELAYANI DIRINYA SETIAP SAAT. KAKI TERJULUR LURUS KE DEPAN DI PANGKUAN PARA SELIRNYA.
BABAK 4
CAHAYA REDUP SEDIKIT UDARA YANG MASUK DARI LUBANG KECIL VENTILASI RUANGAN SEMPIT DAN AROMA PESING MENYERBAK. TIENG SHIN DITAHAN KOMPENI DI RUBANAH SEL TAHANAN. PEGAWAINYA TERMASUK ANAK BUAHNYA DAN SABENI IKUT DITAHAN TETAPI DI RUANG TERPISAH.
Tieng Shin: Lepaskan saya, penjajah laknat! (TERIAK NAIK DARAH) Di mana kalian sembunyikan pegawai-pegawai saya yang tidak bersalah? Sampai kalian berani apa-apakan bahkan sentuh mereka sedikitpun, saya tidak akan kasih ampun kalian. Cam-kan itu!
SAYANGNYA RUBANAH TERSEBUT KEDAP SUARA. SIA-SIA TIENG SHIN BERTERIAK KALAU NYATANYA TIDAK ADA YANG BISA MENDENGARNYA.
Sabeni: (MENENDANG KASAR BESI SEL) Bajingan... Kalian pikir dengan tahan kite semua, kite bakalan nyerah gitu aje? Bakalan tunduk dan takut sama kalian?
Kompeni 1: Diam kamu! Percuma kalau tetap kalah ya ngaku kalah saja, otak udang. Tidak punya kekuasaan tetapi berani memaki... Inlander aneh! (MENYERINGAI LICIK).
Sabeni: Bicara kok untuk diri sendiri. Tidak punya kaca sampai memutar balikkan fakta yang ada? Dasar tikus rakus! (MEMAKI HINGGA PANAS).
Kompeni 2: Lihat saja nanti siapa yang menang di medang perang dan siapa yang menyerah minta ampun lebih dulu ke kami!
Sabeni: Oh... ceritanya mengancam? Kasihan sekali kalian bermimpi di negeri orang, pulang kampung saja sana! Dikasih hati kok mintanya jantung.
PARA PEGAWAI KOH SHIN SEMAKIN MEMANASKAN SUASANA DI RUANG TAHANAN. KATA-KATA MAKIAN TERUS DILEMPARI KE PARA KOMPENI YANG SEDANG TUGAS BERJAGA.
Para pegawai: Penjajah keji...!
Penjajah rakus...!
Penjajah gila...!
Penjajah tolol...!
Penjajah bajingan...!
RUPANYA MAKIAN TERSEBUT MEMBUAT PARA KOMPENI BUNGKAM SERIBU BAHASA.
BABAK 5
INFORMASI HILANGNYA TIENG SHIN DAN PARA PEGAWAINYA, BAHKAN SABENI DALAM WAKTU SEHARI MEMBUAT PARA WARGA GENTAR. HINGGA AKHIRNYA, KOMUNITAS PEMBELA KEMERDEKAAN MULAI BERGERAK MENCARI KEBENARAN TERSEBUT DENGAN PARA WARGA.
FAKTANYA, YANG MEREKA TAHU TERAKHIR KALI SABENI BERSAMA LELAKI PARUH BAYA HENDAK MENEMUI KOH SHIN. SETELAHNYA, MEREKA SUDAH TIDAK MELIHAT BATANG HIDUNGNYA LAGI. MEREKA JUGA MENYELIDIKI PERKEBUNAN KARET KOH SHIN, SEPI TIDAK SEPERTI BIASANYA. SEGERA MEREKA MERUNDINGKAN KEJANGGALAN ITU.
Rusli: (MENENGADAH DAGU DENGAN TANGANNYA SEOLAH BERPIKIR) Saya rasa, ada yang perlu kita cari tahu tentang sosok lelaki paruh baya kemarin. Gerak-geriknya cukup mencurigakan. Ada yang tahu di mana bapak itu tinggal?
Abdullah: Kemungkinan, bapak itu ikut menghilang bersama mereka. Atau mungkin jangan-jangan mereka sedang melakukan misi agen rahasia? (LANTUR TAK JELAS).
Rusli: Bicara apa, Dullah? Itu sangat tidak masuk akal. (MENDESAH KESAL) Gimana, apa warga ada yang tahu informasi mengenai bapak-bapak yang baru saja pindah ke sini tiga hari yang lalu?
Warga 1: Ciri-cirinya seperti apa, Bang Rusli?
Rusli: (BERPIKIR) Badannya agak jangkung, matanya sedikit cokelat, seluruh rambutnya putih, dan warna kulitnya putih bersih hampir seperti Koh Shin.
Warga 1: Setahu saya, penduduk desa yang kulitnya putih bersih hanya Koh Shin saja sih, Bang. Selebihnya, ya paling orang-orang bangsawan Belanda. Di sini kan memang mayoritas pribumi kulitnya sawo matang.
Warga 2: (MENGANGGUK SETUJU) Iya, benar Bang. Kurang tahu juga kalau ada penduduk yang baru pindah ke desa ini. Kita tanyakan saja ke kepala desa, barang kali beliau tahu mengenai keberadaan bapak-bapak tersebut.
Abdullah: Apa kita tidak bisa mencari tahu sendiri? Orang-orang yang punya jabatan jaman sekarang sulit dipercaya. Pangkatnya itu bisa saja terselubung. Andai, kalau Sabeni, Koh Shin, dan para pegawai diculik oleh bapak itu, bisa saja kan dia memberi upah tutup mulut ke kepala desa.
Rusli: Tampaknya bukan waktu yang pas untuk fitnah berkedok berpikir kritis. Logikanya, mana mungkin dia seorang diri mampu mengalahkan Koh Shin, Sabeni dan pegawai kebun karet. Koh Shin saja jago bela diri, tidak mungkin dia kalah telak dari lelaki paruh baya itu.
Abdullah: (BERSIKUKUH) Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, Rusli. Bapak-bapak itu bisa saja memanggil anak buahnya untuk menculik mereka semua.
Warga 3: Pemikiran yang masuk akal, Bang Dullah. Menurut saya, mungkin saja bapak-bapak tua itu sebenarnya salah satu sekutu yang mencoba ingin menghancurkan usaha perkebunan karet Koh Shin, tetapi berkedok meminta tolong untuk ditemani menemui dirinya.
Abdullah: Cerdas! Komunitas kami membutuhkan orang-orang seperti Anda (MEMANDANG BANGGA).
TIBA-TIBA SATU WARGA LAINNYA DATANG MEMBAWA KABAR PENTING.
Warga 4: (TERENGAH-ENGAH) Permisi abang-abang semuanya. Saya ingin beritahu lokasi kediaman bapak-bapak tua itu sudah ditemukan. Tadi saya tak sengaja berpapasan dengan orang yang kebetulan bertetanggaan dengan bapak itu. Lokasinya tidak jauh dari sini.
Rusli: Yasudah, ayok tunggu apa lagi. Antarkan kami ke tempat kediamannya.
WARGA TERSEBUT SEGERA MENUNTUN JALAN KE RUMAH PAMAN HUSNI.
TOK! TOK! PINTU RUMAH DIKETUK RAMAI-RAMAI. PAMAN HUSNI TERBANGUN DARI TIDURNYA.
Paman Husni: Siapa yang tengah hari gini bertamu? (MENGUAP LEBAR DAN MENGGELIAT BADAN, BERGEGASLAH IA MEMBUKAKAN PINTU).
PAMAN HUSNI TERSENTAK MELIHAT ANGGOTA PEMBELA KEMERDEKAAN DAN PARA WARGA DIHADAPANNYA. NAMUN IA SEBISA MUNGKIN TETAP TERLIHAT TENANG SEPERTI TIDAK MENGETAHUI APA-APA.
Abdullah: Maaf, Pak. Langsung saja nih tujuan kami kemari ingin menanyakan perihal Sabeni. Kira-kira bapak tahu tidak ya, dia ada di mana sekarang? Karena sejak terakhir bersama bapak kemarin Sabeni sudah tidak terlihat lagi di mana-mana.
Warga 3: Kami minta tolong sekali kepada bapak untuk sampaikan pernyataan jujur tentang keberadaan Sabeni dan Koh Shin berada (BERTANYA TEGAS).
Paman Husni: Sebelumnya sa-saya minta maaf kepada tuan-tuan muda semuanya. Kemarin memang saya ditemani oleh Sabeni untuk menemui saudara Koh Shin ke perkebunannya. Lalu di tengah jalan, saya izin ke Sabeni ingin buang air kecil sebentar. Tetapi, saat saya kembali, Sabeninya sudah tidak ada. Saya pikir dia pergi ke bangsal menemui kalian. Jadi, selepas itu saya tidak tahu menahu Sabeni ada di mana, apa lagi mengenai Koh Shin yang saya sendiri belum sempat bertemu langsung dengannya (TERBATA-BATA KARENA BERBOHONG).
Abdullah: Bapak yakin tidak tahu Sabeni ada di mana? Atau memang ada disembunyikan dari kami? (NADA INTEROGASI).
Paman Husni: Maaf, Tuan. Saya tersinggung Anda menanyakan seperti itu. (MENGERNYITKAN DAHI) Apakah kalian mencurigai saya telah menyembunyikan Sabeni dari kalian semua?
Rusli: Kedatangan kami bukan bermaksud seperti itu, Pak. Kami hanya bertanya baik-baik, karena terakhir kali Sabeni itu bertemu dengan bapak dan sampai detik ini dia belum kelihatan sama sekali.
Abdullah: Tetapi, kalau memang bapak tidak menyembunyikan mereka, mengapa bapak mudah tersinggung dengan perkataan saya? (MEMICINGKAN MATA PENUH CURIGA).
Paman Husni: Saya sudah menjelaskan apa yang kemarin terjadi, loh. Saya tidak tahu. Jadi, saya harap kalian angkat kaki dari rumah saya! (MARAH).
Warga 4: Saya dengar bapak keluarga dekat dengan Koh Shin, apa benar begitu Paman Husni? (MEMANCING AGAR MAU BUKA MULUT).
PASALNYA WARGA TERSEBUT MENGETAHUI IDENTITASNYA DARI KE KEPALA DESA. SEMENTARA IA SEMBUNYIKAN UNTUK MENGUNGKAPKAN DI DEPAN PAMAN HUSNI DAN LAINNYA.
Abdullah: Paman Husni? Selama ini bapak menyembunyikan jati diri Anda dari kami semua? Tujuan bapak sebetulnya apa datang ke desa kami?
Paman Husni: Ngomong apa sih kalian? Siapa Paman Husni? Toh, saya tidak kenal. Sudah pergi kalian dari sini atau saya teriaki maling? (KEMBALI MARAH).
Warga 3: Pak Husni kalau sudah ketahuan harusnya jujur saja, pak. Jangan coba-coba untuk terus menutupi kebohongan bapak itu.
KEBOHONGANNYA SUDAH TERUNGKAP, IA MELARIKAN DIRI MASUK KE RUMAH. SAAT HENDAK MENUTUP PINTU. NAHASNYA TERLAMBAT, PINTUNYA DENGAN CEPAT DITAHAN OLEH ABDULLAH DAN PARA WARGA.
Abdullah: Ingin lari ke mana, Paman Husni? Anda sudah tertangkap basah. Sebaiknya Anda mengaku, di mana Anda menyembunyikan Sabeni dan yang lainnya? (SAMBIL MENAHAN ERAT TANGAN PAMAN HUSNI).
PARA WARGA YANG SUDAH TERBAWA EMOSI HAMPIR MAIN HAKIM SENDIRI KEPADA PAMAN HUSNI. NAMUN TERBURU PAMAN HUSNI INGIN MENJELASKAN YANG SEBENARNYA TERJADI.
Paman Husni: Sumpah, saya tidak tahu mereka di mana. Tetapi... baik saya akan jujur. (MENCERITAKAN SEMUA KEJADIAN PENANGKAPAN TERSEBUT) Sampai di sana, perkebunan sudah diacak-acak para kompeni. Sabeni ikut menolong Tieng Shin dan pegawai di sana. Bukannya saya tidak ingin menolong, saya disuruh sembunyi oleh Sabeni di balik tembok. Tetapi, karena saya ketakutan pula terhadap kompeni saya kabur sendirian meninggalkan mereka. Setelah itu saya tidak tahu, para kompeni membawa mereka ke mana. Memang salah saya tidak segera memberitahu kalian. Maafkan saya (BERLUTUT).
Rusli: Sudahlah... maafkan saja dirinya. Sekarang kita tahu mereka ada di mana. Kalau kita masih menghakimi beliau buang-buang waktu kita saja, lagi pula mereka tidak bisa kita selamatkan dari para kompeni dengan mudah.
Paman Husni: Saya bisa mengeluarkan mereka dari para penjajah (MEYAKINI MEREKA).
Abdullah: Cih. Bagaimana kita bisa mempercayai Anda yang membenci dan mengusir keponakannya sendiri. Tidak mungkin Anda mau membantu mengeluarkan Koh Shin dari sana. Justru Anda bereuforia kan melihat dia sengsara.
Paman Husni: Ya, walaupun kalian tahu saya adalah paman yang jahat untuk Tieng Shin. Tetapi mohon percayalah, sekarang saya sudah berubah. Kemarin saya ingin bertemu Tieng Shin, karena ingin meminta maaf kepadanya.
Rusli: Baiklah, kali ini kami akan kasih Anda kesempatan untuk membuktikan omongan Anda sendiri. Lalu bagaimana caranya mengeluarkan mereka dari para kompeni? (MENATAP PAMAN HUSNI TAK PERCAYA).
Paman Husni: Kebetulan saya memiliki orang dalam yang akrab dengan saya, salah satu sekutu yang selalu bertugas di ruang pertahanan. Barang kali mereka disembunyikan diruangan itu.
LANTAS IA PUN MENGHUBUNGI SEKUTU TERSEBUT, MENCARI TAHU APAKAH PREDIKSINYA ITU BENAR ATAU TIDAK.
BENAR SAJA, DUGAANNYA ITU BENAR. TANPA BERLAMA-LAMA, SEGERA—LAH MEREKA MENDATANGI RUANG PERTAHANAN ITU BERSAMA-SAMA.
BABAK 6
TANGGAL SIAL TIDAK ADA DI KALENDER. KETIKA ABDULLAH MEMIMPIN PERJALANAN MEREKA MENUJU RUBANAH TEMPAT SABENI DAN LAINNYA DITAHAN. KAKINYA TAK SENGAJA MENGINJAK JEBAKAN TIKUS SEHINGGA IA MENJERIT KESAKITAN. NYARIS SAJA KEPERGOK OLEH KOMPENI YANG LAIN, UNTUNGNYA RUSLI CEPAT TANGGAP MENUTUP MULUT ABDULLAH.
Rusli: Kalau ketahuan, kau yang disalahkan! (MEMUKUL BAHU ABDULLAH).
Abdullah: Maaf, maaf. Namanya celaka, sakit nih.
PINTU RUBANAH SUDAH DI DEPAN MATA. PAMAN HUSNI MEROGOH SAKU CELANANYA, MENGELUARKAN KUNCI SEL TAHANAN YANG DIBERIKAN DARI SEKUTU YANG DIKENALINYA TADI.
Paman Husni: Dengar-dengar, mereka ditahan di ruangan terpisah. Sabeni dengan para pegawai lainnya ditahan di ruangan yang sama. Sedangkan Tieng Shin, ditahan di rubanah yang berbeda. Sebaiknya untuk menyingkat waktu, bagaimana kita berpencar? Kalian berbarengan saja menolong Sabeni dan yang lainnya. Biar saya yang menolong Tieng Shin ke sana sendiri.
Rusli: Kalau begitu... biarkan saya menemani Bapak. Hanya untuk mengantisipasi dan mengawasi dari belakang (SEDIKIT MENCURIGAI PAMAN HUSNI).
Paman Husni: Tidak perlu tuan, terima kasih. Pegawai yang ditahan sepertinya cukup banyak jumlahnya. Lebih baik Anda tetap di sini membantu mereka (MENAHAN RUSLI SUPAYA TIDAK IKUT BERSAMANYA).
Abdullah: Benar, Rusli. Anda lupa kaki saya sedang terluka? Nanti yang menggotong saya siapa? (MENGELUH MANJA KE RUSLI).
Rusli: Itu ulah dari perbuatanmu sendiri! Selalu gegabah dalam memutuskan suatu hal (MENGEJEK PUAS).
PAMAN HUSNI SUMRINGAH SEMBARI BERPIKIR MELANCARKAN AKSI JAHATNYA KEPADA TIENG SHIN. IA MEMANG SUDAH MENGATUR SEGALA SESUATU DENGAN MANTAP TANPA DIKETAHUI ORANG LAIN.
KAKINYA MELANGKAH MASUK KE RUBANAH DENGAN TERBURU-BURU. SENYUM LICIK TERCETAK JELAS SAAT IA BERHADAPAN TATAP DENGAN TIENG SHIN.
Paman Husni: Apa kabar, Tuan Tieng Shin tersayang? Rindukah kau dengan diriku? (MELIHAT SEKELILING RUBANAH DAN SEL TIENG SHIN BERADA).
Tieng Shin: (KAGET SETENGAH MATI) Mau apa kau ke sini? Apa memang kau dalang di balik ini semua?
Paman Husni: Tenang, Nak Tieng Shin. Maksud saya baik datang ke sini ingin menolongmu. Mengapa wajahmu terlihat pucat sekali saat melihat bahwa aku yang datang kemari? Kaget tak percaya? (MAJU PERLAHAN MENDEKATI TIENG SHIN).
Tieng Shin: Cukup, paman. Kau tidak usah berbasa-basi. Katakan saja apa mau-mu sampai kau berani kembali ke hadapanku? (EMOSI TIENG SHIN MELUAP-LUAP).
Paman Husni: Sudah ku katakan, aku kemarin ingin mengeluarkan kamu dari sel terbengkalai ini. Apa pendengaranmu sedang tidak baik?
Tieng Shin: Musyrik... percaya dengan orang sepertimu! Oe tahu keburukanmu itu tidak akan pernah bisa diubah. Sampai kapanpun hatimu tak akan tenang seumpama melihatku berada di atasmu.
Paman Husni: Sukar sekali membuat dirimu percaya. Sebelum mengeluarkan dirimu, aku ada beberapa pertanyaan yang ingin diajukan kepadamu (MEMASANG MUKA SERIUS).
Tieng Shin: Tidak perlu lepaskan diriku. Oe lebih hidup tenang di dalam sini ketimbang keluar lalu berhadapan dengan kemurkaan yang ada di diri paman.
Paman Husni: Baiklah... berarti kau tidak peduli dengan keselamatan para pegawai dan pribumi di luar sana. Mereka di ambang bahaya, ditindas oleh para sekutu atas ulahmu sendiri! (MENIPU DAYA TIENG SHIN).
Tieng Shin: Persetan! Apa yang dilakukan para kompeni kepada pegawaiku? (MENGUMPAT KEPADA PARA SEKUTU).
Paman Husni: (MENYERINGAI TIPIS) Maka dari itu, izinkan aku melepaskanmu dari sel tua dan bau ini. Tetapi, ada beberapa permintaan yang harus kau wujudkan untukku!
Tieng Shin: Selalu ada udang dibalik batu.. cepat katakan apa mau paman? (MENARIK NAPAS).
Paman Husni: Pertama, kau berikan perkebunan karet dan hasil usahamu itu untukku. Kedua...
Tieng Shin: (MENYELA) Tahu dari mana soal perkebunanku itu? Oe tidak bisa memenuhi permintaan paman yang sudah berlebihan.
Paman Husni: Yasudah... paman sih tidak peduli dengan nasib malang para pegawai mu yang sedang nangis darah meminta ampun.
Tieng Shin: Aaargh, sial. Lanjutkan permintaan kedua!
Paman Husni: Kedua, kau harus menikahi salah satu selir-ku.
Tieng Shin: (MENATAP PAMANNYA HERAN) Desakan macam apa ini? Paman kali ini kau benar-benar keterlaluan... tidak puas kau membuat diriku mati-matian bertahan hidup sejak 20 tahun yang lalu?
Paman Husni: Niatku sungguh mulia, nak. Selir-ku sangat cantik dan dia penurut. Cocok dijadikan istri untukmu. Selama ini hidupmu sendiri, kesepian pasti membutuhkan seorang pendamping, bukan? Ia bisa bantu-bantu nanti di perkebunan karet milikmu itu.
TIENG SHIN YANG HANYA MEMIKIRKAN AGAR CEPAT TERBEBAS DAN INGIN MENYELAMATKAN PEGAWAI DAN PARA PRIBUMI, TANPA BERPIKIR PANJANG MENGIYAKAN SEMUA PERMINTAAN PAMANNYA. RESIKO KEDEPANNYA BIAR-LAH IA PIKIRKAN BELAKANGAN.
TIDAK SEKADAR ITU, PAMAN HUSNI MEMINTA TANDA TANGAN DI ATAS SURAT PERJANJIAN ANTARA TIENG SHIN DENGAN DIRINYA. SEBAGAI BENTUK JANJI TIENG SHIN AKAN MENURUTI SEMUA PERMINTAANNYA.
BABAK 7
SEMENJAK PENANGKAPAN DAN AKHIRNYA TIENG SHIN TERBEBAS, RUPA-RUPANYA PAMAN HUSNI MEMBAWANYA KE SEBUAH GUBUG DI TENGAH HUTAN. IA MENIPU TIENG SHIN, BERKATA KALAU PARA PEGAWAINYA DIBAWA KE SANA. NAMUN YANG IA DAPATI ADALAH SEORANG PEREMPUAN BERPERAWAKAN NONE BELANDA YANG IA DUGA SELIR YANG AKAN DINIKAHKAN OLEHNYA.
ALIH-ALIH TANPA SEPENGETAHUAN MEREKA BERDUA, RUSLI MEMBUNTUTI DIAM-DIAM DARI TEMPAT PERTAHANAN KOMPENI SAMPAI KE HUTAN.
PAMAN HUSNI PERGI MENINGGALKAN GUBUG. SELIRNYA ITU SEDANG KE DAPUR MENYIAPKAN MAKANAN UNTUK TIENG SHIN. MELIHAT SITUASI YANG AMAN, RUSLI PUN MENGHAMPIRI TIENG SHIN LANTAS MEMBONGKAR KEBOHONGAN PAMAN HUSNI KEPADA DIRINYA.
Rusli: (BERJALAN MASUK GUBUG DAN BERBISIK MEMANGGIL KOH SHIN) Koh Shin!
Tieng Shin: Lho, ente kok bisa dimarih? (MEMIRINGKAN KEPALA SEBAB HERAN MELIHAT KEHADIRAN RUSLI).
Rusli: Iya koh, ceritanya panjang. Sebelum Paman Husni dan selirnya memergoki kami, sebaiknya kita pergi dari sini dulu, koh. Nanti di jalan akan saya ceritakan.
TIENG SHIN DAN RUSLI BERHASIL KELUAR DARI GUBUG TERSEBUT. DAN RUSLI MULAI MENCERITAKAN SEMUA YANG SEBENARNYA TERJADI. TIENG SHIN LEGA MENDENGAR APA YANG DIKATAKAN PAMAN HUSNI TERKAIT PARA PEGAWAI DAN PRIBUMI ITU TIDAK BENAR.
PAMAN HUSNI KEMBALI KE GUBUG DENGAN MUKA YANG AMAT BAHAGIA. IA MENGIRA STRATEGINYA ITU AKAN BERJALAN MULUS DAN AKAN MENDAPATKAN HARTA TIENG SHIN KEMBALI. SAYANGNYA IA KELIRU, SENYUMNYA ITU LUNTUR SEKETIKA. MELIHAT SELIRNYA BERSIMPUH DI DEPANNYA DAN MELIHAT GUBUG KOSONG TANPA KEHADIRAN TIENG SHIN SUDAH MEMPERLIHATKAN JELAS BAHWA KEPONAKANNYA ITU MELARIKAN DIRI.
Paman Husni: Sialannnnn!
DIDORONGNYA SELIR ITU HINGGA TERSUNGKUR KE BELAKANG.
BABAK 8
BERHARI-HARI, PAGI HINGGA KETEMU PAGI LAGI. PAMAN HUSNI PANTANG MENYERAH MENCARI KEBERADAAN TIENG SHIN. SETIAP WARGA YANG BERPAPASAN SELALU IA TANYAKAN NAMUN SEMUANYA SEPAKAT TETAP BUNGKAM, MENOLAK UNTUK DITANYA OLEHNYA.
Paman Husni: (LEMAS TERKULAI) Tieng Shin! Mana janjimu yang sudah kita sepakati? Pengecut... mainnya bersembunyi! (TERIAK SEPERTI ORANG GILA).
Warga: Terimalah nasib sialmu itu, pak! Koh Shin berhak hidup bahagia tanpa seorang pamannya yang sama kejinya dengan para penjajah.
PARA PEMBELA KEMERDEKAAN HANYA BISA TERPAUT KE PAMAN HUSNI.
KABARNYA, TIENG SHIN MEMUTUSKAN PINDAH KE SUATU TEMPAT TANPA SIAPAPUN YANG MENGETAHUINYA. TERLEBIH PERKEBUNAN KARETNYA ITU SUDAH IA TITIPKAN KE PARA KOMUNITAS PEMBELA KEMERDEKAN. HASIL JUAL PODUKSI GETAH KARETNYA TERSEBUT AKAN DIGUNAKAN UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN SELURUH PENDUDUK DESA.
SELESAI
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
