Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image marsa fairuz shoffa

Ketika Otak Terbiasa dengan Konten Singkat

Teknologi | 2026-07-22 09:40:52
https://share.google/TvaFwy1uNcAQiDGUs

Tangerang Selatan, 22 Juli 2026 - Pernah merasa baru menonton film selama dua puluh menit, tetapi tangan sudah refleks membuka TikTok? Atau baru membaca beberapa halaman buku, pikiran mulai kehilangan fokus? Dahulu kita mampu menikmati film atau membaca buku dalam waktu lama. Kini, perhatian lebih mudah teralihkan. Yang berubah bukanlah film atau bukunya, melainkan cara otak kita mengonsumsi informasi.

Fenomena ini semakin nyata di era media sosial. Data APJII menunjukkan pengguna internet Indonesia telah mencapai lebih dari 221 juta orang, sementara TikTok menjadi salah satu platform yang paling banyak digunakan. Konten berdurasi singkat kini menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts dirancang untuk menyajikan hiburan dalam hitungan detik. Setelah satu video selesai, algoritma langsung menampilkan video berikutnya sesuai minat pengguna. Kebiasaan ini membuat otak terbiasa menerima rangsangan secara cepat. Penelitian Paltaratskaya (2023) menunjukkan bahwa konsumsi video pendek secara terus-menerus dapat membuat seseorang semakin sulit mempertahankan perhatian dalam waktu lama. Sistem dopamin juga mendorong pengguna terus menggulir layar karena setiap konten menarik memberikan rasa puas.

Dampaknya tidak hanya menurunkan kemampuan berkonsentrasi. Banyak orang mulai kesulitan menikmati aktivitas berdurasi panjang, seperti membaca buku, menonton film, atau mendengarkan podcast hingga selesai. Kebiasaan mencari kepuasan instan juga membuat pekerjaan dan proses belajar lebih mudah ditunda. Bahkan, kemampuan mendengarkan orang lain secara utuh ikut menurun. Di sisi lain, kebiasaan doomscrolling dapat meningkatkan kecemasan dan stres akibat terus-menerus menerima informasi tanpa jeda.

Di Indonesia, fenomena ini juga patut menjadi perhatian. Hasil PISA 2022 menunjukkan kemampuan literasi membaca masih tergolong rendah. Meskipun dipengaruhi berbagai faktor, meningkatnya konsumsi konten berdurasi singkat menjadi salah satu fenomena yang layak dikaji karena berpotensi memengaruhi kebiasaan membaca dan daya tahan fokus.

Meski demikian, video pendek bukanlah sesuatu yang harus disalahkan. Format ini memudahkan masyarakat memperoleh informasi, edukasi, dan hiburan secara cepat. Persoalan muncul ketika otak mulai terbiasa menginginkan segala sesuatu berlangsung instan. Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan kesabaran, seperti belajar, membaca, berdiskusi, dan membangun hubungan dengan orang lain, terasa semakin berat dijalani.

Karena itu, yang dibutuhkan bukanlah digital detox secara ekstrem, melainkan membangun kembali kebiasaan untuk fokus. Membaca buku tanpa membuka ponsel, menonton film tanpa memeriksa notifikasi, memberi waktu bagi otak untuk beristirahat, serta menjadikan media sosial sebagai hiburan setelah pekerjaan selesai merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan secara konsisten.

Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan untuk tetap fokus menjadi keterampilan yang semakin berharga. Teknologi akan terus berkembang dan konten akan semakin singkat. Namun, tidak semua hal penting dalam hidup dapat dipahami hanya dalam tiga puluh detik. Ada pengetahuan, pengalaman, dan hubungan yang membutuhkan waktu, kesabaran, serta perhatian untuk benar-benar dimaknai.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image