Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Eka Sari Meidiana

Tedhak Siten: Ketika Tradisi Mengajarkan Makna Langkah Pertama Kehidupan

Kolom | 2026-07-10 13:07:24

penulis: Eka Sari Meidiana

Sumber: Ilustrasi AI (ChatGPT/OpenAI)

Di tengah derasnya arus modernisasi, banyak tradisi lokal perlahan kehilangan ruang dalam kehidupan masyarakat. Sebagian dianggap kuno, tidak praktis, bahkan hanya menjadi pelengkap acara seremonial tanpa lagi dipahami maknanya. Salah satu tradisi yang mengalami kondisi tersebut adalah Tedhak Siten, sebuah upacara adat Jawa yang dilakukan ketika seorang anak pertama kali menginjak tanah.

Bagi sebagian generasi muda, Tedhak Siten mungkin hanya dikenal sebagai acara keluarga yang dipenuhi berbagai simbol budaya Jawa. Padahal, di balik rangkaian prosesi tersebut tersimpan nilai-nilai kehidupan yang masih relevan hingga saat ini. Tradisi ini bukan sekadar ritual turun tanah, melainkan bentuk refleksi masyarakat Jawa tentang hubungan manusia dengan keluarga, lingkungan, dan masa depan.

Secara harfiah, Tedhak berarti melangkah atau turun, sedangkan siten berasal dari kata siti yang berarti tanah. Tradisi ini biasanya dilaksanakan ketika bayi berusia sekitar tujuh atau delapan bulan dan mulai belajar berjalan. Dalam prosesi tersebut, anak akan melewati beberapa tahapan, seperti berjalan di atas jadah berwarna-warni, menaiki tangga yang terbuat dari tebu, hingga dimasukkan ke dalam kurungan yang berisi berbagai benda simbolik.

Jika dilihat sekilas, rangkaian tersebut mungkin tampak sederhana. Namun, setiap tahap memiliki makna filosofis yang mendalam. Jadah yang lengket melambangkan berbagai tantangan kehidupan yang kelak akan dihadapi manusia. Tangga tebu menggambarkan harapan agar anak mampu mencapai kehidupan yang lebih baik melalui usaha dan ketekunan. Sementara itu, benda-benda dalam kurungan melambangkan pilihan jalan hidup yang suatu saat akan dihadapi ketika dewasa.

Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Jawa sejak dahulu telah memahami kehidupan sebagai proses yang penuh perjuangan. Tidak ada kesuksesan yang datang secara instan. Setiap langkah manusia akan dihadapkan pada berbagai hambatan yang harus dilalui dengan kesabaran dan kerja keras. Pesan ini terasa semakin penting di era digital saat ini, ketika banyak orang terbiasa dengan segala sesuatu yang serba cepat.

Fenomena media sosial, misalnya, sering kali menampilkan gambaran kehidupan yang tampak sempurna. Kesuksesan terlihat mudah diraih, kekayaan seolah datang dalam semalam, dan popularitas dapat diperoleh hanya dengan beberapa unggahan konten. Akibatnya, sebagian generasi muda tumbuh dengan ekspektasi bahwa hasil besar dapat dicapai tanpa proses panjang. Dalam konteks inilah makna Tedhak Siten menjadi relevan kembali.

Tradisi tersebut mengingatkan bahwa kehidupan sejatinya adalah perjalanan bertahap. Sama seperti seorang bayi yang harus belajar berdiri sebelum berjalan, manusia juga memerlukan proses untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Tidak ada jalan pintas untuk memperoleh kedewasaan, pengalaman, maupun kebijaksanaan.

Selain mengajarkan tentang perjuangan hidup, Tedhak Siten juga memperlihatkan kuatnya nilai kebersamaan dalam budaya Indonesia. Prosesi ini biasanya melibatkan keluarga besar dan masyarakat sekitar. Kehadiran mereka bukan hanya untuk menyaksikan ritual, tetapi juga sebagai bentuk dukungan sosial terhadap tumbuh kembang seorang anak.

Sayangnya, nilai kebersamaan semacam ini mulai menghadapi tantangan di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis. Kesibukan pekerjaan, mobilitas yang tinggi, serta dominasi komunikasi digital membuat interaksi sosial langsung semakin berkurang. Banyak keluarga yang tinggal dalam satu kota tetapi jarang memiliki kesempatan untuk berkumpul. Akibatnya, tradisi yang dahulu menjadi ruang pertemuan antaranggota keluarga perlahan kehilangan fungsi sosialnya.

Padahal, salah satu kekuatan budaya Indonesia terletak pada kemampuannya membangun solidaritas melalui berbagai tradisi. Tedhak Siten merupakan contoh bagaimana sebuah ritual budaya tidak hanya berfungsi sebagai warisan leluhur, tetapi juga sebagai sarana mempererat hubungan sosial dalam masyarakat.

Di sisi lain, pelestarian Tedhak Siten tidak berarti masyarakat harus menolak modernisasi. Tradisi dan perkembangan zaman bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Yang perlu dilakukan adalah menjaga nilai-nilai yang terkandung di dalam tradisi tersebut agar tetap hidup, meskipun bentuk pelaksanaannya dapat menyesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini.

Generasi muda memiliki peran penting dalam proses tersebut. Mereka tidak harus menjalankan seluruh prosesi secara persis seperti masa lalu, tetapi perlu memahami filosofi yang terkandung di dalamnya. Ketika makna tradisi dipahami, maka pelestarian budaya tidak lagi sekadar menjadi kewajiban, melainkan kesadaran bahwa warisan budaya menyimpan pelajaran berharga bagi kehidupan.

Pada akhirnya, Tedhak Siten mengajarkan bahwa langkah pertama seorang anak bukan hanya peristiwa biologis, tetapi juga momentum untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan. Tradisi ini mengingatkan bahwa manusia hidup dalam hubungan yang erat dengan keluarga, masyarakat, dan lingkungan tempat ia berpijak. Di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat, pesan tersebut justru semakin penting untuk diingat.

Maka, menjaga Tedhak Siten bukan semata-mata menjaga sebuah ritual budaya. Lebih dari itu, kita sedang menjaga cara pandang tentang kehidupan yang menghargai proses, kebersamaan, dan harapan. Sebab, ketika sebuah tradisi hilang, yang hilang bukan hanya seremoninya, melainkan juga nilai-nilai yang selama ini diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

*Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UMA

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image