Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Tri Wahyuni

Dari Baju Bekas ke Thrifting: Saat Gengsi Mengubah Diksi Kita

Kultura | 2026-07-10 12:20:55

Bayangkan Anda sedang membongkar lemari tua dan menemukan tumpukan pakaian yang sudah tidak muat. Dulu, kita akan menyebutnya "baju loak" atau "pakaian bekas". Tapi coba sebut istilah itu ke anak muda zaman sekarang, mereka mungkin akan mengernyitkan dahi. Di dunia mereka, baju-baju itu telah naik kelas menjadi barang preloved atau hasil perburuan thrifting. Mengapa pakaiannya sama, tetapi rasanya jadi jauh lebih keren?

Fenomena ini bukan sekadar urusan ganti kata di tenggorokan. Sadar atau tidak, masyarakat kita sedang mengalami pergeseran diksi yang masif. Kata-kata lokal yang dulunya terasa biasa—atau bahkan terkesan inferior—kini perlahan digusur oleh padanan bahasa Inggris atau istilah psikologi populer. Kita tidak lagi membawa "termos", melainkan menjinjing "tumbler". Kita tidak lagi disebut "ingin tahu" urusan orang, melainkan "kepo". Bahkan, ketika seseorang marah besar, kita tidak lagi bilang dia "ngamuk", melainkan sedang "tantrum".

Pergeseran ini adalah cerminan dari apa yang disebut sosiolog sebagai upaya pembedaan sosial (social distinction). Dalam bukunya yang berpengaruh, Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste, Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa pilihan kata dan selera bukanlah tindakan netral. Sebaliknya, hal tersebut adalah cara seseorang menandai posisinya dalam strata sosial. Bahasa berfungsi sebagai modal budaya; cara kita berbicara menentukan siapa yang kita anggap sebagai 'kita' dan siapa yang kita anggap sebagai 'orang luar'. Menggunakan istilah yang lebih modern atau kosmopolitan adalah upaya untuk menunjukkan bahwa seseorang memiliki akses ke pergaulan global dan literasi yang lebih tinggi."

Bagi generasi saat ini, mengganti kata "bekas" menjadi preloved bukan sekadar perubahan terminologi. Kata "bekas" membawa beban stigma kemiskinan atau kekunoan. Dengan mengubahnya menjadi preloved, mereka memberikan "nilai tambah" pada barang tersebut. Kata "loak" atau "bekas" telanjur dilekatkan pada stigma kemiskinan, kumuh, dan ketidakmampuan ekonomi. Sebaliknya, kata thrifting atau preloved terdengar lebih ramah di telinga kaum urban. Istilah asing ini berhasil menggeser fokus dari "membeli barang karena tidak mampu" menjadi "gaya hidup estetis, berjiwa muda, dan peduli lingkungan". Ini adalah bentuk redefinisi realitas melalui bahasa.

Kita tidak lagi melihat pakaian itu sebagai barang "tak terpakai", melainkan sebagai barang yang "disukai kembali", mengubah citra dari yang tadinya inferior menjadi simbol gaya hidup yang sadar lingkungan dan estetik. Di sisi lain, pergeseran ke arah istilah psikologi seperti tantrum atau burnout (menggantikan "lelah") memiliki akar sosiologis yang berbeda. Dalam masyarakat modern yang serba cepat, penggunaan istilah klinis membantu individu memberikan legitimasi atas pengalaman pribadi mereka.

Ketika seseorang berkata "aku lagi burnout", ia tidak hanya sekadar merasa lelah. Ia sedang mengomunikasikan bahwa kondisinya adalah sebuah fenomena yang diakui oleh dunia medis atau psikologi. Ini memberikan validasi instan kepada audiensnya. Bahasa medis—seperti tantrum—membuat emosi yang meledak-ledak tidak lagi dipandang sebagai sekadar perilaku buruk yang memalukan, melainkan sebagai kondisi psikologis yang dapat dipahami, dianalisis, dan dicarikan solusinya. Pada akhirnya, perubahan ini menandakan bahwa bahasa kita sedang "menabung" pengaruh global untuk bertahan di tengah arus informasi yang tak terbendung.

Penggunaan bahasa Inggris bukan hanya soal efisiensi, tetapi soal sinkronisasi. Saat kita menggunakan istilah yang sama dengan dunia internasional, kita merasa terhubung dengan narasi global. Kita ingin menjadi bagian dari percakapan dunia, bukan sekadar penonton di pinggiran. Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa adalah organisme hidup yang selalu beradaptasi. Kita tidak hanya menggunakan bahasa untuk menyampaikan informasi, tetapi untuk merias diri, mencari kenyamanan dalam validasi kolektif, dan menegaskan tempat kita di tengah dunia yang terus berubah.

Ada alasan psikologis mengapa kita lebih nyaman menyebut baju bekas sebagai barang thrifting dan pasar loak sebagai preloved market. Bahasa tidak pernah lahir di ruang hampa; ia selalu membawa beban sosial.

Hal yang sama terjadi pada sebotol air minum. Menyebut kata "termos" sering kali melempar ingatan kita pada bapak-bapak yang hendak ronda malam atau tukang kopi keliling. Namun, begitu kata itu diganti menjadi "tumbler", maknanya langsung melompat menjadi simbol manusia urban yang dinamis, peduli bumi, dan rajin ke coffee shop. Fungsinya sama-sama menjaga suhu air, tetapi gengsi yang ditiupkan ke dalamnya sungguh berbeda.

Ketika Istilah Medis Menjadi Bahasa Gaul

Pergeseran ini makin unik ketika media sosial mulai meminjam istilah-istilah ilmiah untuk konsumsi sehari-hari. Contoh paling telanjang adalah kata "tantrum". Secara klinis, tantrum adalah ledakan emosi pada anak kecil yang belum bisa mengekspresikan keinginannya dengan bahasa yang runtut. Namun di TikTok atau X (Twitter), kata ini mengalami perluasan makna secara serampangan. Orang dewasa yang mengomplain pelayanan ekspedisi, pacar yang sedang merajuk, atau bahkan kucing yang mengeong tanpa henti, semuanya dilabeli sedang "tantrum". Mengapa tidak memakai kata "ngamuk" atau "uring-uringan"? Jawabannya: karena kata "tantrum" terdengar lebih modern dan memiliki kesan "paham kesehatan mental". Membungkus kemarahan biasa dengan istilah psikologi membuat perilaku tersebut terasa lebih keren untuk dibicarakan di ruang digital.

Bahasa sebagai Cermin Dinamika Zaman

Bahasa adalah cermin hidup dari masyarakatnya. Ketika kita memperhatikan pergeseran diksi dari istilah konvensional ke istilah modern—seperti dari "baju loak" ke preloved—kita sebenarnya sedang menyaksikan sebuah mekanisme adaptasi budaya yang sangat cepat. Media sosial telah meruntuhkan sekat-sekat bahasa formal dan menciptakan standarisasi "gaul" baru yang melintasi batas geografis. Namun, apakah ini pertanda bahasa Indonesia sedang "terjajah"? Tidak juga. Fenomena ini justru membuktikan betapa dinamisnya sebuah bahasa dalam merespons tuntutan zaman.

Ahli sosiolinguistik, John Edwards, dalam bukunya Language and Identity, menjelaskan bahwa bahasa selalu menjadi alat bagi individu untuk menegosiasikan keberadaan mereka. Edwards berpendapat “Bahasa bukan sekadar alat komunikasi; ia adalah penanda identitas yang paling kasatmata. Kelompok sosial akan selalu mencari, mengadopsi, atau menciptakan istilah-istilah yang memberikan mereka rasa memiliki (sense of belonging) dan keunggulan simbolis dalam komunitasnya."

Mengapa Kita Melakukannya?

Pergeseran ini terlihat jelas dalam keseharian. Ambil contoh fenomena thrifting atau belanja baju bekas. Jika dulu kata "baju loak" membawa stigma inferioritas atau keterbatasan ekonomi, istilah preloved mengubah narasi tersebut menjadi gaya hidup yang etis dan sadar lingkungan (sustainable fashion). Dengan mengganti diksi, seseorang tidak lagi terlihat "ekonomis karena terpaksa", melainkan "cerdas karena peduli lingkungan". Begitu pula dengan penggunaan istilah psikologi populer. Ketika seorang remaja menyebut perilaku marah-marahnya sebagai tantrum alih-alih "ngamuk", ia sedang melakukan pembingkaian ulang (reframing). Penggunaan istilah klinis memberikan lapisan "perlindungan" pada emosi manusia; tantrum terdengar lebih terukur, lebih bisa dijelaskan secara sains, dan—yang terpenting—lebih bisa diterima di lingkungan sosial modern yang menjunjung tinggi literasi kesehatan mental.

Modernitas yang Dirayakan

Sosiolog Anthony Giddens dalam teorinya tentang Reflexive Modernization berargumen bahwa dalam dunia modern, identitas bukan lagi sesuatu yang diberikan oleh tradisi, melainkan sesuatu yang harus terus-menerus kita "bangun" sendiri. Kita memilih kata-kata tertentu seperti memilih aksesori pakaian agar kita tampak "sejalan" dengan narasi global yang sedang berlangsung. Pada akhirnya, entah itu termos atau tumbler, baju loak atau preloved, substansinya tetap sama. Pergeseran diksi ini adalah cara kita merayakan modernitas; cara kita merasa terhubung dengan arus besar dunia tanpa harus kehilangan pijakan. Jadi, besok-besok jika Anda melihat seseorang tampak gelisah di tempat umum, jangan buru-buru menuduhnya sekadar "mengamuk". Siapa tahu, dia sedang mengalami tantrum estetis—sebuah bentuk ekspresi diri yang, suka atau tidak, kini menjadi bagian dari kosakata zaman kita.

Tabik!

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image