Kenapa Tren Thrifting Sekarang Malah Jadi Mahal?
Gaya Hidup | 2026-07-09 00:18:57
1. Berubahnya budaya thrifting dari kebutuhan menjadi trend.
Perubahan tujuan seseorang melakukan thrifting menjadi salah satu penyebab banyak penjual menaikkan harga baju bekas tersebut. Melihat adanya peluang tersebut, menyebabkan para penjual memanfaatkan peluang itu untuk meraih keuntungan yang lebih. Saat ini, banyak orang melakukan thrifting bukan karena butuh pakaian dengan harga murah, namun lebih kepada pemenuhan kebutuhan fashion. Hal ini menjadikan thrifting menjadi trend dikalangan anak muda.
2. Tingginya permintaan baju branded bekas
Karena thrifting sedang populer, terutama di kalangan anak muda, permintaan baju atau barang bekas semakin meningkat. Karena meningkatnya permintaan tersebut, menjadikan harga barang-barang bekas menjadi tinggi. Contoh sederhananya, ketika hujan argo taksi online akan meningkat tinggi karena permintaan yang banyak untuk menggunakan layanan tersebut. Nah, hal serupa sama terjadi pada budaya thrifting.
3. Label rare item atau vintage item.
Saat ini, thrifting dilakukan untuk menemukan barang atau pakaian bekas unik yang jarang dimiliki oleh banyak orang atau bahkan sudah tidak dijual di pasaran secara bebas. Biasanya barang atau pakaian tersebut kita sebut sebagai rare item jika item tersebut masuk kedalam jajaran barang limited edition pada masanya. Selain rare item ada juga kita menyebutnya dengan vintage item, yakni barang atau pakaian yang usianya sudah lama dan cukup populer di masa sebelumnya. Semakin langka atau semakin lamanya usia barang tersebut, maka harganya semakin tinggi karena sudah sulit mencarinya di pasaran.
4. Seller yang sudah mulai paham brand dan kualitas
Karena thrifting semakin populer, para penjual pun saat ini sudah memahami brand-brand yang berpotensi memiliki harga jual yang tinggi. Saat ini, sudah banyak toko thrifting yang tidak hanya menjual pakaian bekas, namun juga melakukan kurasi mana produk yang memiliki nilai jual tinggi dan mana yang bukan. Biasanya, untuk barang-barang yang berpotensi memiliki nilai jual tinggi akan di laundry dan di perbaiki terlebih dahulu apabila terdapat defect, sehingga harga jualnya bisa lebih tinggi.
5. Biaya impor yang semakin tinggi
Umumnnya, barang-barang yang dijual di pusat perbelanjaan thrifting merupakan barang yang ilegal yang diimpor dari luar negeri. Semakin maraknya budaya thrifting pemerintah semakin aware banyaknya barang bekas, terutama baju, yang masuk ke Indonesia untuk dijual dengan harga yang lebih murah dan dapat mengancam perdagangan dalam negeri. Maka dari itu, impor baju bekas saat ini sangat dijaga dengan ketat dan mau tidak mau pedagang harus membayar bea cukai untuk setiap produk yang masuk ke Indonesia. Hal tersebutlah yang menyebabkan harga produk thrifting menjadi lebih mahal dari sebelumnya.
Pada akhirnya produk-produk thrifting menjadi mahal karena adanya berbagai faktor seperti permintaan yang meningkat, keterbatasan barang, hingga berubahnya tren thrifting itu sendiri. Artinya, hal ini menunjukkan bahwa barang-barang yang kita dapatkan saat melakukan thrifting tidak hanya dilihat sebagai barang bekas, namun juga dilihat nilai dan kualitasnya. Namun, sebagai konsumen tentunya harus lebih bijak dalam mengeluarkan sejumlah uang untuk thrifting. Jika memang dibutuhkan dan kualitasnya masih bagus, mungkin bisa kita pertimbangkan untuk membeli barang bekas. Namun, jika dengan harga tersebut bisa mendapatkan barang yang baru dengan jangka waktu penggunaannya lebih lama, kenapa tidak membeli yang baru? Sekali lagi, kembali pada kebutuhan dan preferensi masing-masing individu.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
