Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Diana Rahayu

Agar Sekolah Berkualitas Tak Hanya Jadi Impian

Curhat | 2026-07-09 11:36:04

Tahun ajaran baru kembali menyapa keluarga kita. Rasa bahagia sebagai orang tua yang ingin mengantarkan anaknya menuju jenjang pendidikan yang lebih baik, tentulah sebuah hal yang sangat diimpikan. Namun, impian para orang tua harus kandas, saat mereka harus menghadapi kenyataan bagaimana sulitnya mencari sekolah berkualitas dengan biaya terjangkau bagi anaknya. www.kompas.id/23 Juni 2026.

Hambatan biaya sekolah yang makin mahal karena berbagai mekanisme pendanaan, semacam seragam sekolah maupun uang gedung menjadi salah satu penyebabnya. Ditambah sengkarut masalah sistem zonasi. Harapan orag tua harus kandas saat ingin menyekolahkan anaknya di sekolah pilihan, harus gagal akibat terganjal radius beberapa meter dari ketetapan. Alhasil, harapan untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya menjadi pupus dan kian eksklusif bagi mereka yang ada di pinggiran.

Komersialisasi Pendidikan

Resahnya para orang tua akan akses Pendidikan yang kian tak terjangkau lebih dikarenakan kehadiran negara nihil adanya. Dalam sistem Kapitalisme, pendidikan diposisikan sebagai komoditas dagang, bukan hak dasar setiap warga negara. Jika masalah pendidikan diperlakukan sebagai komoditas dagang tentu asas efisensi dan keuntungan akan mendominasi. Pendidikan bukan lagi masalah pelayanan negara tetapi komoditas yang dijual negara kepada rakyatnya. Ironi.

Hal tersebut wajar terjadi dalam sebuah negara yang menganut sistem Kapitalisme. Negara kapitalisme tidak bertindak sebagai raa'in (pengurus), melainkan regulator yang melepas beban pembiayaan pendidikan kepada rakyat. Misalnya masalah seragam atau buku pelajaran. Adanya aturan pada sekolah yang menjual seragam dan buku pelajaran tambahan, tetap tidak ada tindakan tegas dari negara. Bahkan hal tersebut menjadi lahan mengambil keuntungan bagi masing-masing sekolah.

Selain pembiayaan Pendidikan, banyaknya keluhan terkait sistem zonasi membuktikan negara tidak mampu mewujudkan pemerataan kualitas pendidikan ke seluruh wilayah. Pendidikan menjadi barang istimewa bagi mereka di luar radius zonasi. Seolah-olah yang berhak mendapatkan Pendidikan dengan kualitas terbaik hanyalah yang ada di dalam radius tertentu dari sekolah tersebut. Padahal kewajiban negara adalah menyiapkan seluruh bentuk sarana dan pelayanan pendidikan terbaik secara merata untuk semua rakyatnya.

Absennya kehadiran negara dalam sistem Kapitalisme, menghasilkan ketidakmampuan mewujudkan pendidikan gratis, berkualitas, dan merata untuk seluruh rakyat. Pembiayaan Pendidikan tak lagi mampu disokong negara karena sumber daya alam yang semestinya bisa menjadi sumber pembiayaan, justru diserahkan kepada asing.

Negara Wajib Hadir

Islam menetapkan pendidikan sebagai hak setiap rakyat yang wajib disediakan negara. Islam mengharamkan negara melepas tanggung jawabnya dalam mengurus rakyat, negara wajib melayani rakyat sepenuh hati.

Potret terbaik pelayanan pendidikan dalam Islam telah secara gamblang dicontohkan oleh baginda Rasulullah Saw. Saat melepas tawanan perang Badar, Rasulullah Saw. mewajibkan setiap tawanan mengajarkan baca tulis anak-anak di negara Madinah sebagai tebusan bagi dirinya. Ini menunjukan bahwa Rasulullah Saw. sebagai kepala negara menyelesaikan langsung masalah pendidikan rakyatnya secara gratis.

Negara dalam Islam yaitu Khilafah akan mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan merata seluruh wilayah, sehingga setiap rakyat benar-benar mendapat haknya. Sebab hal tersebut merupakan syariat Allah Swt. yang wajib dijalankan. Dalam Quran surat Al Mujadilah ayat 11, Allah Swt. berfirman;

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Islam tidak memandang Pendidikan sebagai komoditas dagang yang bernilai untung rugi. Namun, pendidikan dipandang sebagai sebuah kebutuhan dasar rakyat yang harus dipenuhi secara sempurna oleh negara. Maka, kehadiran negara Islam hadir dalam dalam bentuk dukungan pembiayaan yang menyeluruh untuk sektor pendidikan.

Sumber pembiayaan sektor pendidikan dalam Islam, akan diambil dari kas negara yaitu Baitul Maal pada pos kepemilikan umum. Pos kepemilikan umum ini yang berasal dari pengelolaan sumber daya alam yang dikelola oleh nagara. Maka, hasil pengelolaan tambang, hutan, dan laut akan lebih dari cukup untuk membiayai seluruh penyelenggaraan pendidikan secara gratis dan merata.

Maka, impian sekolah berkualitas untuk setiap anak akan benar-benar terwujud manakala negara hadir secara nyata, dalam memenuhi kebutuhan pendidikan bagi seluruh rakyatnya.

Wallahu’alam bishowwab

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image