Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Blean Fochrist

Kecanduan Game Online pada Anak: Hiburan atau Awal Masalah Perkembangan?

Edukasi | 2026-07-08 18:09:19

Di era digital, game online telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak. Selain menawarkan hiburan dan melatih berbagai keterampilan, permainan ini juga menyimpan risiko ketika dimainkan secara berlebihan. Tidak sedikit anak yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar hingga mengabaikan aktivitas belajar, interaksi dengan keluarga, maupun hubungan dengan teman sebaya. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa kecanduan game online dapat memengaruhi perkembangan kognitif dan sosial anak. Oleh karena itu, penting untuk memahami apakah game online hanya sekadar hiburan atau justru menjadi awal munculnya berbagai masalah perkembangan yang dapat berdampak pada masa depan anak.

Fenomena kecanduan game online pada anak saat ini menjadi perhatian serius, tidak hanya di Indonesia tetapi juga secara global. Di Indonesia, jumlah pemain game diperkirakan mencapai puluhan juta orang dengan dominasi usia remaja dan anak-anak. Akses yang semakin mudah melalui smartphone membuat anak dapat bermain kapan saja, sehingga berpotensi meningkatkan penggunaan secara berlebihan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak tahun 2018 telah menetapkan gaming disorder sebagai gangguan mental. Kondisi ini ditandai dengan hilangnya kontrol terhadap aktivitas bermain, meningkatnya prioritas bermain dibandingkan aktivitas lain, serta tetap bermain meskipun menimbulkan dampak negatif. Sejumlah penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 10–30% pelajar memiliki kecenderungan kecanduan game, dengan sebagian kecil termasuk kategori berat.

Dampak kecanduan game tidak hanya terlihat pada penurunan prestasi akademik, tetapi juga pada aspek kesehatan dan sosial. Anak yang kecanduan cenderung mengalami gangguan tidur, kelelahan, serta penurunan kemampuan berinteraksi sosial. Bahkan, risiko gangguan emosi seperti mudah marah dan sulit berkonsentrasi juga meningkat.

Fenomena kecanduan game online pada anak tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan kebiasaan bermain, melainkan berkaitan dengan proses perkembangan kognitif dan sosial yang sedang berlangsung. Pada usia sekolah dasar hingga awal remaja, anak berada pada tahap ketika kemampuan berpikir logis, memecahkan masalah, dan memahami hubungan sebab-akibat sedang berkembang pesat. Apabila sebagian besar waktu dihabiskan untuk bermain game secara berlebihan, kesempatan anak untuk mengeksplorasi lingkungan nyata, berinteraksi langsung dengan teman sebaya, maupun mengembangkan kemampuan berpikir melalui pengalaman sehari-hari menjadi berkurang. Akibatnya, perkembangan kognitif dan keterampilan sosial dapat berlangsung kurang optimal.

Dalam psikologi perkembangan juga dijelaskan bahwa proses belajar anak sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan orang lain. Orang tua, guru, dan teman sebaya memiliki peran penting dalam memberikan arahan, pendampingan, serta pengalaman belajar yang membantu anak mencapai kemampuan baru. Ketika interaksi tersebut tergantikan oleh aktivitas bermain game yang berlangsung terus-menerus, anak berisiko kehilangan kesempatan memperoleh bimbingan yang diperlukan untuk mengembangkan kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan bekerja sama.

Selain itu, perilaku bermain game yang dilakukan berulang kali sering kali dipertahankan karena adanya sistem penghargaan di dalam permainan, seperti kenaikan level, hadiah virtual, atau pencapaian tertentu. Pengalaman yang menyenangkan tersebut mendorong anak untuk terus mengulang perilaku yang sama sehingga penggunaan game semakin sulit dikendalikan. Oleh karena itu, penanganan kecanduan game online tidak cukup hanya dengan membatasi waktu bermain, tetapi juga memerlukan pendampingan dari keluarga dan sekolah agar anak tetap memperoleh stimulasi belajar, interaksi sosial, dan aktivitas yang mendukung perkembangan secara seimbang.

Mengatasi kecanduan game online pada anak memerlukan langkah nyata, bukan sekadar larangan. Orang tua perlu menetapkan batasan waktu bermain yang jelas sekaligus menyediakan aktivitas alternatif yang mendorong eksplorasi langsung, seperti olahraga, membaca, atau kegiatan kreatif. Pendampingan aktif juga penting agar anak tetap memperoleh bimbingan dalam mengembangkan kemampuan berpikir dan bersosialisasi.

Sekolah dapat mendukung upaya tersebut dengan menghadirkan kegiatan yang menantang sekaligus menarik, sehingga anak memperoleh rasa pencapaian melalui aktivitas di dunia nyata. Di sisi lain, pemerintah dan pemangku kebijakan perlu memperkuat program literasi digital bagi orang tua, guru, dan peserta didik agar penggunaan game dilakukan secara bijak dan seimbang.

Game online mungkin hanya berlangsung beberapa jam setiap hari, tetapi dampaknya dapat membentuk masa depan anak selama bertahun-tahun. Karena itu, keputusan yang kita ambil hari ini dalam mendampingi mereka akan menentukan apakah game menjadi sarana berkembang atau justru awal dari berbagai masalah perkembangan.

image source : https://disdikpora.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/44_anak-kecanduan-main-game-hingga-lupa-belajar

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image