Begadang: Kurikulum Tersembunyi di Kampus
Gaya Hidup | 2026-07-05 19:44:10“Tidur nanti saja kalau sudah lulus.”
Kalimat itu mungkin pernah terdengar sebagai candaan di kalangan mahasiswa. Namun, semakin lama candaan tersebut berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Begadang demi menyelesaikan laporan praktikum, mengejar tenggat proyek, hingga mempersiapkan presentasi menjadi rutinitas yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. Terutama bagi mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi, malam sering kali menjadi “perpanjangan” waktu belajar ketika siang hari habis untuk kuliah, praktikum, maupun kegiatan akademik lainnya. Begadang telah menjadi rutinitas. Bahkan, banyak mahasiswa menganggapnya sebagai konsekuensi yang wajar dari kehidupan perkuliahan.
Pertanyaannya, apakah memang demikian seharusnya pendidikan tinggi berjalan? Haruskah proses membentuk mahasiswa yang unggul dibayar dengan berkurangnya waktu istirahat mereka?
Karakteristik Perkuliahan yang Menuntut
Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi memang memiliki karakteristik pembelajaran yang berbeda dibandingkan banyak bidang ilmu lainnya. Selain mengikuti perkuliahan, mereka juga menjalani praktikum laboratorium, menyusun laporan praktikum yang rinci, mengerjakan proyek berbasis tim, melakukan analisis data, pemrograman, hingga penelitian. Seluruh aktivitas tersebut merupakan bagian penting dalam membangun kompetensi akademik dan profesional.
Persoalannya bukan pada banyaknya aktivitas tersebut. Persoalan muncul ketika berbagai tuntutan akademik hadir hampir bersamaan. Dalam satu minggu, mahasiswa dapat dihadapkan pada beberapa laporan praktikum, proyek kelompok, presentasi, kuis, hingga persiapan ujian dengan tenggat waktu yang saling berdekatan. Ketika waktu terasa tidak lagi cukup, tidur menjadi hal pertama yang dikorbankan.
Survei yang penulis lakukan terhadap mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki durasi tidur kurang dari tujuh jam per hari. Sebagian besar responden juga mengaitkan kondisi tersebut dengan padatnya tugas, praktikum, proyek, dan tenggat waktu yang berdekatan.
Temuan ini tentu tidak dimaksudkan untuk menggambarkan seluruh mahasiswa di Indonesia. Namun, hasil tersebut memberikan gambaran bahwa pada lingkungan pembelajaran dengan karakteristik sains dan teknologi, persoalan waktu tidur bukan lagi isu sepele.
Masalahnya Bukan Mahasiswanya, tetapi Sistemnya
Setiap kali isu kurang tidur mahasiswa dibahas, solusi yang paling sering muncul adalah memperbaiki manajemen waktu. Saran tersebut memang penting. Namun, kemampuan mengatur waktu memiliki batas ketika berbagai mata kuliah memberikan beban akademik yang bertumpuk dalam waktu yang hampir bersamaan.
Mahasiswa tidak hanya berhadapan dengan satu dosen atau satu mata kuliah. Mereka menghadapi banyak tuntutan yang masing-masing dirancang dengan tujuan pembelajaran yang baik. Sayangnya, ketika seluruh tuntutan tersebut tidak terkoordinasi, akumulasi beban akhirnya dirasakan oleh mahasiswa.
Karena itu, persoalan kurang tidur tidak semestinya hanya dipandang sebagai kelemahan individu. Sudah saatnya perhatian juga diarahkan pada bagaimana sistem pembelajaran dirancang: apakah distribusi tugas sudah proporsional, apakah jadwal praktikum dan evaluasi telah mempertimbangkan beban keseluruhan mahasiswa, serta apakah komunikasi antardosen dalam mengatur tenggat waktu sudah berjalan dengan baik.
Pendidikan Tidak Seharusnya Dibayar dengan Kesehatan
Belakangan ini, publik beberapa kali dikejutkan oleh kabar mahasiswa yang meninggal dunia ketika masih menjalani aktivitas akademik. Setiap peristiwa tentu memiliki latar belakang yang berbeda sehingga tidak dapat disimpulkan semata-mata sebagai akibat beban kuliah. Namun, rentetan peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan mahasiswa tidak boleh terus diposisikan sebagai persoalan nomor dua.
Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan adalah keadaan sejahtera secara fisik, mental, dan sosial, bukan sekadar terbebas dari penyakit. Artinya, pendidikan yang berkualitas semestinya berjalan beriringan dengan upaya menjaga kesejahteraan mahasiswa, bukan justru mengabaikannya.
Mendidik dengan Standar Tinggi, tetapi Tetap Manusiawi
Tulisan ini bukan ajakan untuk mengurangi tugas ataupun menurunkan standar akademik. Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi tetap harus ditempa melalui praktikum, penelitian, proyek, dan berbagai bentuk pembelajaran yang menantang agar siap menghadapi dunia profesional.
Namun, tantangan akademik tidak harus diwujudkan melalui penumpukan tenggat waktu. Standar pendidikan dapat tetap tinggi apabila sistem pembelajaran dirancang secara lebih terintegrasi. Koordinasi antardosen dalam penyusunan jadwal evaluasi, distribusi tugas yang lebih proporsional, serta pengelolaan praktikum yang lebih terencana merupakan beberapa langkah yang dapat dilakukan tanpa mengurangi kualitas pembelajaran.
Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan lulusan yang mampu menyelesaikan tugas tepat waktu. Pendidikan juga bertugas membentuk manusia yang mampu menjaga keseimbangan antara kompetensi, tanggung jawab, dan kesehatan.
Mungkin sudah saatnya kita bertanya kembali, apakah begadang memang bagian dari proses belajar, atau justru tanda bahwa ada sistem pembelajaran yang perlu dibenahi?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
