Apa Salahnya Membaca karena Ikut Tren?
Edukasi | 2026-07-05 16:09:09Belakangan ini, media sosial kita diramaikan oleh foto-foto buku yang ditumpuk rapi, sampul novel yang sengaja menghadap kamera, ataupun kutipan-kutipan buku yang distabilo dan diunggah sebagai Instagram stories. Namun, alih-alih diapresiasi sebagai bagian dari tumbuhnya budaya membaca, unggahan tersebut justru kerap dicap sebagai bentuk FOMO (fear of missing out) atau pencitraan semata. Orang yang memposting buku, terutama buku yang sedang viral dianggap sekadar ikut-ikutan atau ingin terlihat intelektual. Seolah-olah mengikuti tren selalu menjadi sesuatu yang patut dipermasalahkan.
Bahkan jika motivasi awalnya memang karena mengikuti tren, apakah itu otomatis menjadi sesuatu yang buruk? FOMO bukanlah sesuatu yang selalu bernilai negatif. Yang menentukan adalah apa yang diikuti. Jika mengikuti gaya hidup konsumtif bisa menghabiskan uang tanpa manfaat yang jelas. Namun, jika sebuah tren justru mendorong seseorang tertarik dan mulai membuka sebuah buku, mengapa hal itu harus dipandang sinis? Mungkin tidak semua orang akan langsung menyelesaikan atau memahami isi buku tersebut. Namun, tanpa membuka halaman pertama, pemahaman itu tidak akan pernah datang.
Sayangnya, anggapan bahwa membaca buku viral hanyalah bentuk FOMO sering kali berkembang menjadi masalah yang lebih nyata dan serius yaitu book shaming. Ketika membaca mulai dipandang sebagai simbol status, buku tidak lagi dinilai dari gagasannya, melainkan dari citra yang mampu dibangun oleh pembacanya. Dari sinilah book shaming tumbuh. Pilihan bacaan mulai dijadikan tolak ukur kecerdasan dan selera seseorang. Novel popular dianggap terlalu ringan, buku pengembangan diri dicap dangkal, sementara pembaca buku filsafat atau sastra klasik pun tidak luput dari tuduhan ingin mengejar gengsi. Pada akhirnya, membaca tidak lagi terasa sebagai ruang untuk belajar, melainkan ruang yang penuh dengan penilaian.
Seseorang yang baru memulai kebiasaan membaca, yang mungkin belum punya kepercayaan diri sebagai pembaca, mendapat sinyal bahwa pilihan awalnya keliru bahwa ada standar yang harus dipenuhi sebelum seseorang boleh mengaku sebagai pembaca yang sah. Dalam banyak kasus, sinyal itu cukup untuk membuat seseorang berhenti sebelum sempat berkembang. Di sinilah letak perbedaannya. FOMO membaca mungkin hanya menghasilkan satu pembaca baru. Namun, book shaming dapat kehilangan satu calon pembaca sebelum ia sempat bertumbuh.
Konteks Indonesia membuat persoalan ini semakin relevan. Data PISA 2022 menempatkan Indonesia di posisi ke-68 dari 81 negara dalam kemampuan membaca. Di tengah tantangan tersebut, setiap orang yang mulai membuka buku, apa pun alasan awalnya, seharusnya dipandang sebagai langkah yang patut diapresiasi. Budaya literasi tidak dibangun dengan mempertanyakan motivasi seseorang untuk membaca, melainkan dengan memberi ruang bagi semakin banyak orang untuk memulai. Biarkan orang FOMO membaca buku. Biarkan pula mereka membaca apa yang mereka sukai. Budaya literasi tidak tumbuh karena semua orang membaca buku yang sama atau dianggap paling berbobot, melainkan karena semakin banyak orang merasa nyaman untuk mulai membaca. Yang berbahaya bukanlah mengikuti tren atau memilih bacaan yang populer, tetapi budaya yang membuat orang takut membuka buku karena khawatir dihakimi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
