Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Frya Maulidyah Rahman

Ketika AI Menjawab Perasaan Manusia

Teknologi | 2026-07-06 10:55:50

Pada era digital saat ini, teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hampir setiap aktivitas, mulai dari belajar, bekerja, berkomunikasi, hingga mencari hiburan, dilakukan dengan bantuan teknologi digital. Perkembangan internet, media sosial, dan kecerdasan buatan telah mengubah cara manusia memperoleh informasi sekaligus membangun hubungan dengan orang lain. Kehadiran teknologi tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat untuk mempermudah pekerjaan, tetapi juga mulai memengaruhi cara manusia berpikir, berinteraksi, bahkan mengekspresikan perasaan.

Pertanyaannya, mengapa manusia mulai membawa perasaannya kepada AI? Jawabannya tidak cukup dijelaskan dengan alasan teknologi semakin canggih. Ada kebutuhan manusiawi yang lebih mendalam di baliknya, yaitu kebutuhan untuk didengar. Banyak orang merasa lebih mudah bercerita kepada AI karena tidak takut dihakimi. Dalam kehidupan nyata, tidak semua orang memiliki tempat bercerita yang aman. Ada yang takut dianggap berlebihan, takut rahasianya tersebar, takut disalahkan, atau merasa masalahnya tidak cukup penting untuk didengarkan. Dalam hal ini tidak semua mahasiswa mampu menyampaikan kegelisahannya secara langsung kepada orang lain. Dalam situasi seperti itu, AI dapat terasa seperti ruang sementara untuk menata pikiran. Seseorang bisa menuliskan isi kepalanya, mendapatkan respons yang tertata, lalu merasa sedikit lebih tenang.

Dalam batas tertentu, penggunaan AI sebagai tempat bercerita memang dapat membantu. AI dapat membantu seseorang memahami perasaan yang kacau menjadi lebih jelas. AI juga dapat membantu pengguna membuat jurnal reflektif, merangkai kalimat sebelum berbicara kepada orang lain, atau melihat masalah dari sudut pandang yang lebih tenang. Dengan kata lain, AI dapat menjadi alat bantu awal untuk memahami diri sendiri.

Namun, kenyamanan itu tidak boleh membuat manusia lupa bahwa AI tetap bukan manusia. AI dapat memberi respons yang terdengar empatik, tetapi ia tidak benar-benar memiliki pengalaman emosional. AI dapat menjawab dengan kalimat yang menenangkan, tetapi ia tidak memahami kehidupan seseorang secara utuh. Ia tidak mengetahui riwayat keluarga, luka masa lalu, kondisi sosial, ekspresi wajah, nada suara, atau situasi nyata yang sering kali penting dalam memahami masalah manusia.

Di sinilah letak dilema utamanya. Ketika AI menjawab perasaan manusia, apakah ia benar-benar membantu manusia memahami dirinya, atau hanya memberi ilusi bahwa manusia sedang didengarkan? Pertanyaan ini penting karena curhat bukan hanya soal mendapat jawaban. Curhat juga berkaitan dengan kehadiran, kepercayaan, dan hubungan emosional. Manusia sering kali tidak hanya membutuhkan solusi, tetapi juga membutuhkan kehadiran seseorang yang mampu mendengarkan dan memahami perasaannya.

Risiko lain yang perlu diperhatikan adalah ketergantungan emosional. Ketika seseorang terlalu sering mencari kenyamanan dari AI, ia bisa menjadi semakin enggan membangun percakapan nyata dengan manusia. AI yang selalu tersedia dan cenderung memberi respons suportif dapat membuat manusia terbiasa dengan hubungan yang terlalu mudah. Padahal, hubungan antarmanusia tidak selalu mudah. Dalam relasi nyata, manusia bisa berbeda pendapat, memberi koreksi, menunjukkan batas, bahkan menyampaikan hal yang tidak selalu nyaman didengar.

Selain itu, AI juga berisiko memberi validasi berlebihan. Seseorang yang sedang terluka mungkin hanya mencari pembenaran atas perasaannya. Jika AI terus memberi respons yang terasa mendukung tanpa benar-benar memahami konteks, pengguna bisa semakin yakin bahwa sudut pandangnya selalu benar. Padahal, dalam beberapa situasi, manusia tidak hanya perlu ditenangkan, tetapi juga perlu diajak berpikir jernih.

Persoalan privasi juga tidak bisa diabaikan. Saat seseorang curhat kepada AI, ia mungkin menuliskan hal-hal yang sangat pribadi, seperti masalah keluarga, hubungan asmara, konflik pertemanan, kondisi mental, atau rahasia orang lain. Banyak pengguna mungkin tidak sadar bahwa semakin pribadi cerita yang diberikan kepada teknologi, semakin besar pula tanggung jawab untuk memahami risikonya. Ruang digital memang terasa pribadi, tetapi tidak selalu sesederhana percakapan yang benar-benar aman.

Karena itu, solusi dari fenomena ini bukanlah melarang orang bercerita kepada AI. Larangan semacam itu sulit dilakukan, sebab AI sudah menjadi bagian dari kehidupan digital. Solusi yang lebih masuk akal adalah membangun kesadaran tentang batas penggunaan AI. AI boleh digunakan sebagai alat bantu refleksi awal, tetapi tidak boleh dijadikan satu-satunya tempat bergantung secara emosional.

Fenomena ini menunjukkan bahwa AI mulai masuk ke ruang yang personal, yaitu ruang perasaan. Jika dulu seseorang biasanya bercerita kepada teman, keluarga, pasangan, atau konselor, kini sebagian orang memilih mengetikkan kegelisahannya kepada sistem digital. AI seolah hadir sebagai pendengar yang selalu tersedia tanpa memotong cerita, tidak menunjukkan ekspresi menghakimi, tidak terlihat bosan, dan tidak membuat seseorang merasa menjadi beban.

Gejala ini bukan sekadar dugaan. Sebuah studi McBain dkk. yang terbit dalam JAMA Network Open pada 2025 menemukan bahwa 13,1% remaja dan dewasa muda usia 12–21 tahun di Amerika Serikat pernah menggunakan AI generatif untuk meminta nasihat kesehatan mental. Pada kelompok usia 18–21 tahun, angkanya mencapai 22,2%. Di antara pengguna tersebut, 65,5% mengakses AI untuk nasihat tersebut setidaknya setiap bulan, dan 92,7% merasa nasihat yang diberikan cukup atau sangat membantu. Meskipun data ini berasal dari Amerika Serikat, temuan tersebut tetap menunjukkan bahwa AI mulai digunakan bukan hanya sebagai alat akademik, tetapi juga sebagai ruang emosional.

Di tengah kehidupan digital yang semakin berekmbang itu, kecerdasan buatan atau artificial intelligence tidak lagi hanya digunakan untuk menjawab soal, membuat tulisan, merangkum materi, atau membantu pekerjaan teknis. Namun kini, sebagian orang mulai menjadikan AI sebagai tempat bercerita. Mereka tidak hanya bertanya tentang tugas atau pengetahuan umum, tetapi juga tentang rasa lelah, kebingungan, hubungan pribadi, kesepian, dan masalah emosional yang dirasa sulit untuk diceritakan kepada orang lain.

Pada awal 2025, Indonesia memiliki sekitar 212 juta pengguna internet, dengan tingkat penetrasi mencapai 74,6 persen dari total penduduk. DataReportal juga mencatat adanya sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada Januari 2025. Angka tersebut menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat Indonesia semakin sulit dipisahkan dari ruang digital. Internet tidak lagi hanya menjadi tempat mencari informasi, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar, bekerja, berkomunikasi, membangun relasi, bahkan mengekspresikan perasaan.

Setiap orang perlu memiliki literasi AI sekaligus literasi emosi. Literasi AI berarti memahami bahwa jawaban AI tidak selalu benar, tidak selalu netral, dan tidak selalu sesuai dengan kondisi pengguna. Sementara literasi emosi berarti mampu mengenali kapan seseorang hanya perlu menulis perasaan, kapan perlu berbicara dengan teman terpercaya, dan kapan harus mencari bantuan profesional. Dengan begitu, AI tidak diperlakukan sebagai penyelamat, melainkan sebagai alat bantu yang memiliki batas.

Fenomena ini tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga berbagai pihak di sekitarnya. Keluarga, sekolah, perguruan tinggi, tempat kerja, dan komunitas memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang membuat seseorang merasa aman untuk berbagi perasaan. Ketika semakin banyak orang merasa lebih nyaman berbagi perasaan kepada AI daripada kepada sesama manusia, kondisi tersebut seharusnya menjadi bahan refleksi bersama. Apakah layanan konseling dan dukungan psikologis sudah cukup mudah diakses? Apakah lingkungan di sekitar kita telah menjadi tempat yang aman untuk bercerita tanpa rasa takut akan penilaian atau penghakiman? Apakah setiap orang merasa memiliki ruang untuk mengatakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja?

Oleh karena itu, upaya memperkuat layanan kesehatan mental perlu terus dilakukan, baik melalui penyediaan layanan konseling yang mudah diakses, ruang diskusi yang bebas yang aman dan nyaman bagi setiap orang untuk berbagi pengalaman dan perasaannya, maupun pendampingan dari orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mendengarkan dan memberikan dukungan. Di sisi lain, literasi mengenai penggunaan AI juga perlu ditingkatkan agar masyarakat memahami bahwa AI dapat menjadi alat bantu untuk refleksi diri, tetapi tidak dapat menggantikan empati, kepedulian, dan kehadiran nyata yang hanya dapat diberikan oleh sesama manusia.

Pada akhirnya, fenomena ketika AI menjawab perasaan manusia bukan hanya cerita tentang kemajuan teknologi. Fenomena ini juga menjadi cermin bahwa banyak manusia sedang mencari ruang untuk didengar. AI menjadi menarik bukan semata-mata karena pintar, tetapi karena ia tampak selalu hadir ketika manusia lain kadang tidak tersedia.

Namun, manusia tetap membutuhkan manusia. AI dapat membantu merapikan pikiran, tetapi tidak dapat menggantikan kehadiran, kepedulian, dan tanggung jawab dalam hubungan antarmanusia sepenuhnya. Maka karena itu, AI sebaiknya dipahami sebagai jembatan awal untuk mengenali perasaan, bukan sebagai trmpat utama untuk mencari dukungan emosional.

Ketika AI menjawab perasaan manusia, kita tidak hanya perlu bertanya seberapa canggih teknologi itu. Kita juga perlu bertanya, mengapa manusia semakin membutuhkan teknologi untuk merasa didengar.

Referensi

DataReportal. (2025). Digital 2025: Indonesia. DataReportal.McBain, R. K., Bozick, R., Diliberti, M., Zhang, L. A., Zhang, F., Burnett, A., Kofner, A., Rader, B., Breslau, J., Stein, B. D., Mehrotra, A., Uscher-Pines, L., Cantor, J., & Yu, H. (2025). Use of generative AI for mental health advice among US adolescents and young adults. JAMA Network Open, 8(11), e2542281.Phang, J., Lampe, M., Ahmad, L., Agarwal, S., Fang, C. M., Liu, A. R., Danry, V., Lee, E., Chan, S. W. T., Pataranutaporn, P., & Maes, P. (2025). Investigating affective use and emotional well-being on ChatGPT. arXiv.World Health Organization. (2025). Ethics and governance of artificial intelligence for health: Guidance on large multi-modal models. World Health Organization.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image