Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image

Mahasiswa dan Pekerja Muda Perlu Lebih Peduli terhadap Kesehatan Mental

Edukasi | 2026-07-06 11:30:39

UAS HUMAN RELATION

Nama : Achmad Fawwaz Aidin Kurtubi

Mata Kuliah: Human Relation (H)

Dosen Pengampu: Dr. Sadiyah El Adawiyah, S.Sos, M.Si

Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Di era modern yang serba cepat, produktivitas sering kali dijadikan ukuran utama keberhasilan seseorang. Mahasiswa dituntut memperoleh nilai yang tinggi, aktif dalam organisasi, mengikuti berbagai sertifikasi, hingga mempersiapkan karier sejak dini. Di sisi lain, pekerja muda dituntut mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja yang kompetitif, memenuhi target perusahaan, serta terus meningkatkan kompetensi. Tekanan tersebut sering kali dianggap sebagai hal yang wajar. Namun, ketika tekanan berlangsung secara terus-menerus tanpa diimbangi dengan kemampuan mengelola stres, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi burnout.

Menjadi produktif sering dianggap sebagai tolok ukur kesuksesan generasi muda. Tidak sedikit mahasiswa yang membagi waktunya antara kuliah, organisasi, magang, hingga pekerjaan paruh waktu. Sementara itu, pekerja muda dituntut untuk cepat beradaptasi, memenuhi target, dan terus meningkatkan kompetensi. Di balik tuntutan tersebut, muncul fenomena burnout yang kini menjadi perhatian dunia karena berdampak pada kesehatan mental, produktivitas, dan kualitas hubungan antarmanusia. Menurut World Health Organization (2019), burnout merupakan sindrom yang muncul akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola secara efektif.

Apa Itu Burnout?

Burnout merupakan kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional yang disebabkan oleh stres berkepanjangan, terutama yang berkaitan dengan pekerjaan atau aktivitas akademik. Menurut Maslach dan Leiter (2016), burnout ditandai oleh tiga dimensi utama, yaitu kelelahan emosional (emotional exhaustion), sikap sinis atau menjauh dari pekerjaan (depersonalization/cynicism), dan menurunnya rasa pencapaian diri (reduced personal accomplishment).

Berbeda dengan rasa lelah biasa yang dapat pulih setelah beristirahat, burnout memerlukan penanganan yang lebih serius karena memengaruhi kesehatan psikologis maupun kualitas hubungan sosial seseorang.

Mengapa Mahasiswa dan Pekerja Muda Rentan Mengalami Burnout?

Mahasiswa masa kini menghadapi berbagai tuntutan akademik yang semakin kompleks. Selain mengerjakan tugas kuliah, mereka juga didorong untuk mengikuti organisasi, magang, kompetisi, hingga membangun personal branding melalui media sosial. Akibatnya, banyak mahasiswa merasa harus selalu produktif setiap saat.

Kondisi serupa juga dialami oleh pekerja muda. Persaingan dunia kerja yang ketat membuat mereka merasa harus bekerja lebih keras agar mampu mempertahankan posisi atau memperoleh promosi. Tidak sedikit pula yang mengalami tekanan akibat target kerja, jam kerja yang panjang, maupun komunikasi yang kurang sehat di lingkungan kerja.

Menurut World Health Organization (2019), burnout merupakan fenomena yang berkaitan dengan pekerjaan akibat stres kronis yang belum berhasil dikelola secara efektif.

Penelitian Loi dan Pryce (2022) menunjukkan bahwa burnout pada mahasiswa berkaitan dengan meningkatnya tingkat stres, penurunan performa akademik, serta menurunnya kesejahteraan psikologis. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa praktik mindful self-care dapat membantu mengurangi risiko burnout pada mahasiswa.

Dampak Burnout terhadap Hubungan Antar Manusia

Burnout tidak hanya memengaruhi kondisi individu, tetapi juga kualitas hubungan interpersonal. Seseorang yang mengalami burnout cenderung lebih mudah tersinggung, kehilangan empati, menarik diri dari lingkungan sosial, serta mengalami kesulitan membangun komunikasi yang sehat.

Dalam konteks Human Relation, kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan yang baik sangat dipengaruhi oleh kondisi emosionalnya. Ketika seseorang mengalami kelelahan emosional, kemampuan mendengarkan, bekerja sama, maupun menyelesaikan konflik akan menurun. Hal tersebut dapat menimbulkan kesalahpahaman, konflik dalam kelompok, bahkan menurunkan produktivitas organisasi.

Daniel Goleman (1998) menjelaskan bahwa kecerdasan emosional berperan penting dalam membangun hubungan kerja yang sehat. Individu yang mampu mengenali dan mengelola emosinya akan lebih mudah beradaptasi dengan tekanan lingkungan dibandingkan mereka yang kurang memiliki keterampilan emosional.

Penelitian Cao et al. (2022) menemukan bahwa individu dengan kecerdasan emosional yang lebih baik cenderung memiliki tingkat burnout yang lebih rendah. Kemampuan mengenali dan mengelola emosi membantu seseorang menghadapi tekanan kerja sekaligus menjaga kualitas hubungan dengan rekan kerja.

Fenomena Hustle Culture yang Perlu Dikritisi

Salah satu penyebab meningkatnya burnout adalah berkembangnya budaya hustle culture, yaitu anggapan bahwa seseorang harus selalu bekerja keras tanpa henti agar dianggap sukses. Media sosial sering kali memperlihatkan pencapaian orang lain sehingga memunculkan tekanan untuk terus membandingkan diri.

Padahal, produktivitas yang berlebihan tanpa memperhatikan kesehatan mental justru dapat menurunkan kualitas hidup. Istirahat bukanlah bentuk kemalasan, melainkan kebutuhan biologis agar tubuh dan pikiran dapat bekerja secara optimal.

Mencegah Burnout Sejak Dini

Burnout dapat dicegah apabila individu memiliki keseimbangan antara pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan pribadi. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

- Mengatur waktu belajar dan bekerja secara realistis.

- Memberikan waktu untuk beristirahat.

- Membangun komunikasi yang terbuka dengan teman, keluarga, maupun rekan kerja.

- Mengembangkan kemampuan mengelola stres melalui olahraga, meditasi, atau hobi.

- Tidak ragu mencari bantuan profesional apabila tekanan emosional mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Selain itu, institusi pendidikan maupun perusahaan juga memiliki tanggung jawab dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental melalui komunikasi yang sehat, pembagian beban kerja yang proporsional, serta budaya kerja yang menghargai kesejahteraan individu.

Kesimpulan

Burnout bukanlah tanda kelemahan seseorang, melainkan sinyal bahwa tubuh dan pikiran telah bekerja melampaui batas kemampuannya. Di tengah tuntutan dunia modern yang semakin kompleks, menjaga kesehatan mental menjadi bagian penting dari membangun hubungan interpersonal yang sehat.

Sebagai mahasiswa maupun pekerja muda, sudah saatnya kita memahami bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari banyaknya pencapaian, tetapi juga dari kemampuan menjaga keseimbangan antara produktivitas, kesehatan mental, dan hubungan yang harmonis dengan orang lain.

Daftar Pustaka

- Cao, Y., Gao, L., Fan, L., Jiao, M., Li, Y., & Ma, Y. (2022). The influence of emotional intelligence on job burnout of healthcare workers and mediating role of workplace violence: A cross-sectional study. Frontiers in Public Health, 10, 892421. https://doi.org/10.3389/fpubh.2022.892421

- Loi, N. M., & Pryce, N. (2022). The role of mindful self-care in the relationship between emotional intelligence and burnout in university students. The Journal of Psychology, 156(4), 295–309. https://doi.org/10.1080/00223980.2022.2045887

- Nápoles, J. (2022). Burnout: A review of the literature. Update: Applications of Research in Music Education, 40(2), 19–26. https://doi.org/10.1177/87551233211037669

- Schaufeli, W. B. (2021). The Burnout Challenge: Managing People's Relationships with Their Jobs. Cambridge University Press.

- World Health Organization. (2019). Burn-out an occupational phenomenon. https://www.who.int/news/item/28-05-2019-burn-out-an-occupational-phenomenon

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image