Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image M. Saifudin

Peran Ustadz di Era AI

Agama | 2026-07-06 08:14:48

Peran Ustadz di Era AI: Ibarat Ruh dan Jasad

Saya termasuk generasi yang merasakan betul bagaimana sulitnya mencari ilmu sebelum internet dan Artificial Intelligence (AI) berkembang seperti sekarang.

Pada awal tahun 2000-an, mencari sebuah informasi bukanlah pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam hitungan detik. Kami harus pergi ke perpustakaan, membuka rak demi rak buku, membaca ensiklopedia, kamus, jurnal, atau kitab-kitab yang tebal. Tidak jarang kami berlama-lama di toko buku hanya untuk membaca beberapa bab buku yang belum mampu dibeli. Kadang mampir ke kios koran dan majalah, membaca berbagai rubrik sampai selesai, lalu pulang hanya dengan membeli buku saku yang paling murah.

Jika ingin memahami tafsir suatu ayat, memastikan kesahihan sebuah hadis, atau mengetahui pendapat yang lebih kuat di antara para ulama fikih, kami harus mendatangi kiai, ustadz, atau dosen yang ahli di bidangnya. Perjalanan berjam-jam bukan sesuatu yang luar biasa, karena memang ilmu harus didatangi.

Hal yang sama juga terjadi dalam ilmu-ilmu umum. Ketika muncul perdebatan tentang bentuk bumi, kami mencari guru fisika atau astronomi. Saat muncul pertanyaan sederhana seperti, "Mana yang lebih dulu, ayam atau telur?", kami bertanya kepada guru biologi. Setiap bidang ilmu memiliki ahlinya, dan setiap jawaban diperoleh melalui proses belajar yang panjang.

Pengalaman yang paling saya rasakan adalah ketika mulai menyusun disertasi sekitar tahun 2013. Untuk memahami berbagai model pengelolaan pendidikan Islam, saya harus berkeliling ke sejumlah lembaga pendidikan di Bandung, Subang, Jakarta, dan kota-kota lainnya. Saya melakukan observasi, mewawancarai para pengelola, menyebarkan angket kepada mahasiswa, bahkan sering kali harus menyediakan konsumsi atau mentraktir responden agar mereka bersedia mengisi kuesioner. Semua itu dilakukan hanya untuk memperoleh data yang valid sebelum menarik sebuah kesimpulan ilmiah.

Hari ini, hampir seluruh proses tersebut dapat dilakukan dari depan layar laptop. Bahkan sambil menunggu kereta, duduk di ruang tunggu bandara, atau menumpang ojek daring, seseorang dapat mencari tafsir Al-Qur'an, membandingkan pendapat para ulama, membaca jurnal internasional, menerjemahkan kitab berbahasa Arab, hingga merangkum ratusan halaman buku hanya dalam hitungan menit.

Inilah salah satu anugerah terbesar yang Allah karuniakan kepada generasi kita melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. AI telah mengubah cara manusia memperoleh informasi. Sesuatu yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, kini dapat diselesaikan dalam hitungan detik.

Namun, di balik kemudahan itu muncul sebuah pertanyaan yang semakin sering terdengar, "Kalau AI sudah mampu menjawab hampir semua pertanyaan, apakah peran ustadz masih diperlukan?"

Menurut saya, justru di sinilah letak kesalahpahaman yang perlu diluruskan. AI memang mampu mempercepat manusia memperoleh informasi. Akan tetapi, tugas seorang ustadz tidak pernah berhenti pada menyampaikan informasi. Semakin canggih AI, semakin besar pula kebutuhan umat terhadap sosok yang mampu membimbing mereka memahami, memverifikasi, dan mengamalkan ilmu dengan benar.

Pada hakikatnya, seorang ustadz memiliki setidaknya tiga tugas besar.

Pertama, menghimpun ilmu dan memperluas wawasan. Pada tahap ini, AI adalah mitra yang sangat membantu. Berbagai kitab tafsir, hadis, pendapat ulama, hingga referensi akademik dapat ditemukan jauh lebih cepat. Waktu yang dahulu habis untuk mencari referensi kini dapat digunakan untuk memperdalam pemahaman, mengkritisi berbagai pendapat, dan menyiapkan materi dakwah yang lebih berkualitas.

Kedua, melakukan tabayun terhadap informasi yang diperoleh. AI bukan seorang mufti, bukan ahli hadis, dan bukan pula seorang mufasir. AI dapat mengutip pendapat yang lemah berdampingan dengan pendapat yang kuat, atau menyampaikan jawaban tanpa memahami kondisi orang yang bertanya. Di sinilah keilmuan seorang ustadz menjadi penentu. Ia menyaring, menguji, membandingkan dalil, serta memastikan bahwa ilmu yang disampaikan benar-benar sesuai dengan Al-Qur'an, Sunnah, dan penjelasan para ulama yang terpercaya.

Ketiga, membimbing manusia agar ilmu berubah menjadi amal. Inilah wilayah yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.

AI dapat menjelaskan bahwa makhraj huruf ذ (dza), berada di ujung lidah yang menyentuh tepi gigi seri atas sehingga menghasilkan bunyi tertentu. Penjelasannya bisa sangat rinci. Namun, guru Al-Qur'an-lah yang memperagakan posisi lidah, gerakan mulut, memperbaiki kesalahan bacaan santri satu per satu, lalu membimbingnya hingga fasih membaca Al-Qur'an. AI bisa menjelaskan amalan yang ditakuti setan, maka ustadz lah yang meyakinkan dan memberi contoh amalan tersebut.

Demikian pula dalam persoalan tauhid dan syariat. AI dapat menjelaskan pengertian syirik, rukun shalat, hukum zakat, atau perbedaan pendapat para fuqaha. Akan tetapi, ustadz yang memahami Al-Qur'an dan Sunnah akan menjelaskan mana pendapat yang lebih kuat, mengaitkannya dengan kondisi masyarakat, meluruskan berbagai kesalahpahaman, serta membimbing umat agar mampu mengamalkannya dengan benar dan penuh hikmah.

Karena itu, AI dan ustadz bukanlah dua pihak yang saling menggantikan, melainkan saling menguatkan.

AI ibarat katalog yang memuat ribuan petunjuk, informasi, dan referensi. Sementara ustadz adalah orang yang menjelaskan isi katalog tersebut, menunjukkan cara menggunakannya, memperagakannya dalam kehidupan nyata, sekaligus memastikan orang lain benar-benar memahaminya. Katalog tidak pernah menggantikan instruktur. Justru instrukturlah yang memanfaatkan katalog agar proses belajar menjadi lebih cepat dan lebih efektif.

Bahkan, jika diibaratkan tubuh manusia, AI adalah jasad yang memiliki kekuatan dan kemampuan bekerja dengan sangat cepat. Namun, ustadz adalah ruh yang menghidupkan semua itu. Jasad tanpa ruh hanyalah tubuh yang tidak memiliki arah. Sebaliknya, ruh tanpa jasad tidak dapat menjalankan amal di dunia. Ketika keduanya bersinergi, lahirlah manfaat yang jauh lebih besar. AI menghadirkan kecepatan, sedangkan ustadz menghadirkan hikmah. AI menyediakan informasi, sedangkan ustadz menumbuhkan pemahaman, keteladanan, dan perubahan perilaku.

Karena itu, AI bukanlah pengganti ustadz. AI hanyalah alat yang mempercepat sampainya informasi. Adapun ustadz adalah pembimbing yang memastikan informasi tersebut menjadi ilmu yang sahih, dipahami dengan benar, diamalkan dengan ikhlas, dan melahirkan pribadi yang bertauhid, berakhlak mulia, serta bermanfaat bagi sesama.

Semakin mudah manusia memperoleh informasi, semakin besar pula kebutuhan mereka terhadap hikmah. Dan selama manusia masih membutuhkan keteladanan, pembinaan, serta bimbingan menuju Allah Ta'ala, selama itu pula peran ustadz akan tetap menjadi amanah yang tidak tergantikan. Di era AI, yang semakin langka bukanlah informasi, melainkan guru yang mampu menghidupkan informasi menjadi ilmu, ilmu menjadi amal, dan amal menjadi jalan menuju ridha Allah.

Nasrun minallahi wa fathun qarib

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image